Cerita Asal Mula Tanaman Padi di Kepulauan Kei

Orang-orang timur, khususnya di Kepulauan Kei, juga punya latar historis mengenai padi atau beras.


Usai debat panjang yang melelahkan, para ahli prasejarah sepakat bahwa tanah yang menjadi lahan pertama pertanian, berada di dataran Mesopotamia, sekitar 800 SM. Akar-akar yang menjalar dari dalam tanah, merayap naik dan menjelma menjadi pelbagai tanaman. Gandum, buncis dan kacang arab, merupakan jenis tanaman pertama yang meranum di daerah bulan sabit subur itu.

Sedangkan di lembah sungai Yangtze di Cina, jauh dari Mesopotamia, tanaman padi pertama kali didomestikasi saat sedang tumbuh subur sekitar 8.000-9.000 tahun silam, di daerah yang memiliki topografi dan iklim yang menunjang. Kemudian di kawasan sungai Gangga yang tua, padi baru didomestikasi sekitar 4.000 tahun lalu (Pikiran Rakyat, 2011). Perihal tahun berapa yang pasti, sampai saat ini para ilmuwan serta peneliti masih belum merilisnya.

Syahdan, tanaman padi kemudian menyebar ke lembah sungai-sungai besar di India, lalu bermigrasi menuju negara-negara tetangga. Nenek moyang kita berhasil membawa pulang beberapa dan menanamnya di Nusantara. Dari sekian banyak jenis padi yang dibawa waktu itu, setidaknya yang familiar dengan kita sampai sekarang, ada dua yakni, Oryza sativa dan Oryza glaberina (Fagi et al, 2002). Padi dari genus Indica yang lebih cenderung dipilih para petani untuk dikembangbiakkan, berkat kepiawaian serta kepekaan intuisinya melebihi genus Japonica.

Budaya bertani tidak lahir dan besar begitu saja di negara kita. Butuh waktu lama, butuh pengetahuan yang memadai, butuh trial-errors untuk mengembangkannya agar bisa seperti sekarang. Dulu, jauh sebelum sarana-prasarana penunjang pertanian hadir, para petani harus bekerja keras menghidupi lahan masing-masing. Semua dikerjakan manual, tidak pakai alat atau mesin. Semangat mereka menggebu-gebu, semangat yang muncul dari diri sendiri, seperti kata Suzanne Collins, “I’m not exactly what it means, but it suggest I’m a fighter. In a sort of brave way.”

Mereka mencangkul, menggali tanah kering membentuk parit-parit kecil, kemudian mengairinya sendiri. Mengingat di daerah tropis, kemarau biasanya sering berlangsung, curah hujan rendah. Sehingga parit harus dibuat. Parit yang menjadi lahan irigasi itu, kemudian mengalami proses panjang, searah dengan perkembangan inovasi teknologi, hingga menjadi sebuah sistem baku pertanian yang kita sebut sebagai sawah. Perjalanan jatuh bangun para petani membangun sawahnya banyak terdapat dalam cerita-cerita rakyat, seperti legenda dan mitologi kuno.

Padi dalam Cerita Rakyat

Pada epos mahsyur di tanah Bali, Sunda dan Jawa umpama. Dikisahkan suatu hari di Kahyangan Jonggring Saloko, sang raja dewa yakni Sang Jagat Girinoto, atau Sang Hyang Jagat Pratingkah, atau Sang Hyang Manik Moyo, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Batara Guru, bersemedi untuk meminta sesuatu yang mampu menuntaskan resah hatinya, putri yang cantik jelita. Dalam riwayat lain, sang putri jelita itu lahir dari telur mustika yang berasal dari air mata dewa ular bernama Antaboga (Hanantaboga).

Sang putri kemudian diberi nama Batara Sri (Bali), Nyi Pohaci (Sunda), Dewi Sri (Jawa). Singkat cerita, karena dianggap terlalu jelita, sang putri tumbuh menjadi sebuah malapetaka. Kecantikannya dianggap berbahaya bagi siapa saja, termasuk Batara Guru. Ia akhirnya mati dalam dua riwayat. Pertama, yang membunuhnya saat itu adalah para dewa, demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Riwayat lain menyebut, ia mati karena terkejut saat disentuh Batara Guru. Setelah dimakamkan, secara ajaib muncul pelbagai jenis tanaman disertai kilauan sinar di atas pusara Dewi Sri. Satu dari tanaman-tanaman itu adalah padi (Erwin, 2008; Taufik, 2008; Plantus, 2008).

Orang-orang Kei yang juga telah lama mengenal budaya lisan, tidak bisa dilepas pisahkan dari cerita-cerita serupa. Seorang Pastor bernama Henricus Geurtjens, sangat produktif meneliti tradisi lisan orang Kei. Beberapa hasil karyanya yang telah diterbitkan antara lain, kamus (1919), tata bahasa (1921), etnografi (1921), dan buku legenda orang-orang Kei (1924). Karya-karya tersebut mengilhami para peneliti lain, cukup membantu mereka dalam mencari referensi terkait perilaku masyarakat lokal.

Menurutnya, tradisi lisan orang Kei tidak jauh berbeda dengan tradisi lisan di daerah-daerah lain di Nusantara. Cerita yang berkembang di masyarakat juga merupakan hasil adopsi dari cerita asing. Semisal cerita Abunawas dari Persia yang diperkenalkan oleh pemuka agama islam zaman dulu. Oleh warga asli, tokoh tersebut lama kelamaan diubah menjadi sosok orang yang malas dan licik (lihat cerita nomor 24, “Sejarah Abunawas,” dalam Geurtjens, 1924). Belakangan, sebutan Abunawas malah mengandung konotasi buruk, merujuk pada sifat seseorang yang suka berbohong.

Cerita tentang padi, menurut tradisi lisan orang Kei, yang memuat motif mitologi tentang asal-usul pohon dan tanaman, terdapat dalam Mythological Motives Origin of Trees and Plants A 2600–2899, ditulis oleh Tim Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Maluku.

Kisah yang dimaksud terjadi di suatu ohoi. Ohoi merupakan kawasan sebagaimana disebut Roem Topatimasang, adalah teritori adat setingkat desa. Walaupun Ohoi dalam terminologi lain, bisa berarti marga. Alih-alih ingin menegaskan pengertian Ohoi, Hedar Laujeng berkata: “Kalau sudah mengerti maksudnya, tidak perlu cari padanan lain lagi, apalagi mencocok-cocokan dengan istilah administrasi saat ini. Pakai saja Ohoi, sudah!” (Abdullah, 2012).

Asal Mula Tradisi Menanam Padi

Lelaki paruh baya itu tengah mengejar seekor anjing di hutan. Anjing miliknya sendiri. Nama lelaki itu, Letwir. Ia akhirnya menemukan anjingnya tak lama kemudian. Anjing itu jatuh tersungkur ke dasar pratala. Letwir gegas menariknya naik. Mereka kemudian bertemu seorang perempuan tua pemilik padi (beras) yang baik hati. Konon, saat ditawari beras merah dan beras putih oleh perempuan itu, Letwir menolak. Ia berdalih bahwa semua yang disuguhkan kepadanya adalah barang mentah, belum diolah.

Diam-diam, Letwir memasukan biji-biji beras itu ke dalam lubang hidungnya, lalu melanjutkan perjalanan. Ia berhasil pulang kampung, membawa beras untuk ditanam di ladangnya, di Wir-werbut. Saat musim panen tiba, Letwir menuai hasil dari beras yang ia tanam, yang tumbuh menjadi batang-batang padi. Ia kemudian membagikannya kepada para tetangga di desa. Dari situlah asal mula padi pertama kali ditanam di tanah Kei. Masyarakat turun temurun percaya, jika bibit beras yang mereka tanam berasal dari dasar pratala. Sebagaimana termaktub dalam kutipan cerita berikut:

Setibanya di dasar pratala, dilihatnya seorang perempuan tua berdiri di ladang…

… Kemudian orang itu menghidangkan kepada Letwir beras merah dan beras putih yang serba mentah pula.

… Ketika mereka bercerai, istri Letwir menuntut kepada suaminya: “Kembalikan padi milikku itu kepadaku.”

Jawab Letwir, “Segala makanan yang ibu hidangkan itu memang semuanja makanan yang utama dan baik sekali. Bahkan di arcapada kami tidak mempunyai makanan yang seutama dan sebaik yang ibu hidangkan itu. Bolehkah saya membelinya barang sedikit.”

… Ketika mereka bercerai, istri Letwir menuntut kepada suaminya: “Kembalikan padi milikku itu kepadaku.”

Akan tetapi Letwir menolak untuk mengembalikan padi itu kepada istrinya. Digenggamnya erat-erat padi itu, akan tetapi istrinya berkeras hendak merebutnya dari tangan Letwir. Kemudian Letwir memasukkan dan memuntir padi itu ke dalam sarungnya. Perempuan itu masih juga berusaha untuk merebut padi itu dari suaminya. Kemudian Letwir memasukkan padi itu ke dalam hidungnya. Barulah perempuan itu tidak berdaya merebut padi itu dari Letwir. (Tim Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Maluku, 1978: hal 13-17).

Kisah-kisah serupa juga ditemukan di tempat lain dengan versi yang beragam, sesuai kultur. Semua cerita memiliki alur yang berbeda namun tidak sampai mereduksi esensi dari cerita itu sendiri, yakni tentang padi sebagai tanaman pangan yang cukup penting bagi masyarakat. Asumsi bahwa padi hanya tumbuh di pulau Jawa dan sekitarnya saja, sepertinya keliru, sudah tidak relevan lagi. Jelas, itu bukan saja merupakan tatanan budaya bertani mereka.

Orang-orang timur, khususnya di Kepulauan Kei, juga punya latar historis mengenai padi atau beras tersebut. Mereka sudah menganggapnya termasuk ke dalam salah satu kearifan lokal, bukan hasil impor. Sesuatu yang disebut Mellvile Jean Herskovits sebagai sesuatu yang turun temurun, dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganik. Itulah sebabnya mereka tidak terang-terangan menyebut ‘padi’ atau ‘beras’ sesuai bahasa Indonesia. Mereka justru menamakannya dengan istilah sendiri yaitu, kokat.

*Penulis dan Pegiat Literasi di Taman Bacaan Nuhu Evav (TBNE)

Sumber:

  • Yetti, Erli. 2014. Motif Asal Usul Tanaman Padi dalam Tiga Cerita Rakyat Indonesia (The Motives of Pady Origin in Three Indonesian Folktales). Badan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Rawamangun.
  • Travis, Ed. Bahasa Kei (Evav): Hasil Penelitian Selama Satu Abad. Universitas Pattimura dan Summer Institute of Linguistics
  • Geurtjens, Henricus. 1910. Siksikar agam (Keieesche godsdienstige liederen). Mengenai: Nyanyian agama yang diterjemahakn ke dalam bahasa Kei.
  • Geurtjens, Henricus. 1924. Keieesche legenden. (Verhandelingen van het koninklijk Bataviaasch Genootschaap van Kunsten en Wetenschaapen) Deel LXV, Eerste stuk.’s- Gravenhage: Martinus Nijhov [284 hlm.] Mengenai: Cerita bahasa Kei dengan terjemahan bahasa Belanda.
  • Tim Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Maluku. 1977/1978. Cerita Rakyat Maluku. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Laudjeng, Hedar. Shimagami, Motoko. Latjupa, Syahrun. 2012. Dunia Orang Tompu. INSISTPress.
  • https://insistpress.com/2012/09/04/syair-untuk-sebutir-padi/
  • https://m.liputan6.com/citizen6/read/3868276/pengertian-budaya-menurut-para-ahli-jangan-keliru-memaknainya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU