Mambraku heran dengan sikap Ketua Komda PBD yang mengecam Komcab Raja Ampat karena beda dukungan.
Waisai, suaradamai.com – Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Raja Ampat telah menyatakan dukungan kepada Asta Ivo BS Meliala untuk menjadi Ketua Umum Pemuda Katolik Periode 2024-2027.
Namun hal tersebut mendapat kecaman dari Ketua Komisariat Daerah (Komda) Papua Barat Daya (PBD). Kecaman tersebut dilakukan oleh ketua dalam WhatsApp Group.
“Kami menyesali sikap Komda PBD yang menghujat Raja Ampat karena tidak mendukung Gusma untuk dua periode. Kami dipertanyakan keanggotaan kami, padahal Ketua Komda PBD-lah yang melaksanakan Mapenta (Masa Penerimaan Anggota) di Raja Ampat,” ungkap Natalis Mambraku, Ketua Bidang Politik dan Kepemiluan Pemuda Katolik Komcab Raja Ampat.
Mambraku menegaskan, Pemuda Katolik adalah rumah bersama. Rumah yang menjamin semua keberagaman pendapat, termasuk menentukan pilihan pemimpin yang ideal bagi organisasi.
Ia pun heran dengan sikap Ketua Komda PBD yang mengecam Komcab Raja Ampat karena beda dukungan. Padahal, penentuan dukungan ke Asta telah melalui diskusi dan permenungan panjang.
“Apa yang salah kalau Raja Ampat tidak sesuai dengan gaya kepemimpinan Gusma? Sehingga memilih model kepemimpinan yang ditawarkan Asta Sembiring karena dianggap lebih mumpuni,” ujar Mambraku.
Mambraku menegaskan, sebagai Organisasi Kader apalagi Organisasi Kader Katolik, sudah sepantasnya menjiwai nilai-nilai Kekatolikan dalam menjalankan roda organisasi, yakni semangat cinta kasih dalam keberagaman.
“Jika ada pihak yang memaksakan kehendak, membatasi kesempatan dan semangat sesama organisasi untuk berjuang, maka yang bersangkutan perlu dipertanyakan motivasi juangnya di Pemuda Katolik,” kata Mambraku.
Bagi dia, Pemuda Katolik adalah wadah berhimpun untuk berjuang menegakan keadilan sosial dengan semangat kekatolikan. Sebelum berlaku adil kepada pihak yang di luar, lanjut Mambraku, sudah selayaknya adil terhadap sesama kader.
“Dengan memberikan kesempatan kepada siapa saja kader Katolik untuk tampil menjadi Ketua Umum dan menjamin kebebasan untuk menentukan pilihan kepada siapa model kepemimpinan yang baik bagi organisasi,” terang Mambraku.
Editor: Labes Remetwa
