Dinas Kebudayaan Malra Dukung Pelaksanaan “Tea Bel” Waur-Feer dan Waur-Duroa

Kegiatan “tea bel” atau sering dikenal dengan panas pela, akan dilaksanakan di Ohoi Waur pada bulan Oktober mendatang.


Langgur, suaradamai.com – Dinas Kebudayaan Kabupaten Maluku Tenggara (Dikbud Malra) mendukung pelaksanaan “tea bel” atau yang sering dikenal dengan panas pela, antara Ohoi Waur dengan Ohoi Feer Rahangiar, dan Ohoi Waur dengan Ohoi Duroa.

“Tea bel” merupakan hubungan persaudaraan antara lebih dari satu komunitas masyarakat adat di Kepulauan Kei. Hubungan persaudaraan ini biasanya terjadi antara ohoi (desa) dengan ohoi, ohoi dengan ratschaap, atau ratscahaap dengan ratshcaap.

Hubungan kekerabatan di Kepulauan Kei ini merupakan tradisi yang diwariskan turun-temurun hingga sekarang. Namun mulai terdegradasi.

Dalam rangka menjaga dan melestarikan kearifan lokal yang satu ini, Dinas Kebudayaan Malra mendukung dan mendorong pelaksanaan tea bel yang akan digelar di Ohoi Waur Oktober mendatang.

Kepala Dinas Kebudayaan Malra Penny Renwarin mengatakan, pelaksanaan tradisi Kei itu akan disatukan dengan Festival Pesona Meti Kei (FPMK), suatu iven akbar pariwisata di Maluku Tenggara.

Dengan demikian, kata Penny, melalui kegiatan itu tidak hanya dalam rangka melestarikan budaya, tetapi juga beguna bagi perkembangan pariwisata. Penny menargetkan, tradisi tea bel menjadi salah satu atraksi bagi pariwisata Maluku Tenggara kedepan.

“Di Kei ini kan semua ohoi punya hubungan tea bel. Dan memiliki kekhasan masing-masing. Bayangkan semua ohoi menggelar panas pela, berapa banyak iven yang kita punya nanti,” cetus mantan Sekretaris Dinas Pariwisata itu, dalam wawancara bersama Suara Damai di ruang kerjanya, baru-baru ini.

Penny menegaskan, Dinas Kebudayaan hanya memfasilitasi kegiatan tersebut dan tidak akan melakukan intervensi lebih jauh. Pihak ohoi, masyarakat adat, yang berperan penuh karena mereka yang lebih paham kebiasaan mereka, kata Penny.

“Wilayah budaya ini kan kita harus memahami bahwa kita punya struktur ada jelas. Semua sudah teratur. Pemerintah mendorong saja. Karena bicara pela ini pada dasarnya masing-masing tempat punya cerita beda-beda,” jelas Penny.

Ia menambahkan, pihaknya juga sementara menjajaki kerja sama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Ambon dan Pemerintah Kota Tual untuk mendukung kegiatan ini.

Di kesempatan berbeda, Kepala Ohoi Waur Benediktus Farneubun membenarkan hal tersebut. Menurut dia, pihaknya telah melakukan beberapa kali pertemuan dengan Kepala Dinas Kebudayaan dalam rangka membahas kegiatan dimaksud.

“Kita masih akan sibuk dengan misa pertama Uskup baru Amboina bulan Mei nanti, jadi setelah itu baru kita bentuk panitia dan berkoordinasi lagi dengan Dullah Laut (Duroa) dan Feer Rahangiar,” kata Benediktus melalui telepon, belum lama ini.

Mengurangi angka kriminalitas

Penny dan Benediktus berpendapat bahwa kegiatan tea bel juga sangat bermanfaat untuk mengurangi angka kriminalitas, dan meningkatkan Kemanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) yang kondusif di Kepulauan Kei.

Hal itu bisa terjadi karena, menurut mereka, semua orang Kei masih sangat menghargai saudaranya yang ada dalam hubungan tea bel. Kemudian, setiap ohoi memiliki hubungan pela dengan ohoi yang lain.

“Sehingga kalo misalnya muncul konflik, pasti saling menjaga. ‘Itu beta pu pela tu, seng usah bakalai’. Kalau kekerabatan itu diperkuat, maka saya rasa aman saja, Kei ini,” kata Penny mencontohkan.

Khusus untuk Waur, Benediktus juga punya target lain. Ia ingin memperkenalkan kembali kepada semua orang Kei bahwa orang Waur itu baik-baik, ramah-ramah.

“Waur juga dikenal karena orangnya jahat-jahat. Padahal katong bukan begitu. Melalui kegiatan ini, katong ingin memperkenalkan Waur yang beda,” cetus Benediktus.

Editor: Labes Remetwa


Pelaksanaan tea bel di Waur akan digabungkan dengan Festival Pesona Meti Kei (FPMK), suatu iven akbar pariwisata di Maluku Tenggara.


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU