Fabel Pulau Babi

Ikuti suaradamai.com dispot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Langgur, suaradamai.com, Fabel Pulau Babi Oleh Rudi Fofid.

“PADA HARI KEMATIAN BENDAHARA”

Pada hari kematian bendahara Pulau Babi, semua babi sangat sedih. Sebab bendahara itu dikenal sangat baik, rajin senyum, rajin menyumbang. Mereka menangis semalam suntuk. Babi-babi berlomba-lomba menceriterakan kebaikan sang bendahara, sesuai pengalaman masing-masing.

Tiga hari setelah kematiannya, barulah pemakaman dilangsungkan. Pemakamannya megah. Maklum, sang bendahara punya harta yang cukup, bahkan berlimpah-ruah. Keluarga bendahara Pulau Babi menyiapkan pesta kematian sebagai bagian dari gengsi keluarga bendahara yang bermandi harta.

Sebenarnya, makam sudah siap, tetapi kendala ada pada peti mati. Tukang peti mati terpaksa tiga kali membuat peti baru. Maklum, peti pertama dikerjakan, mereka bagai salah ukur. Akibatnya, ketika jenazah bendahara mau dipindahkan ke dalam peti, sioh, peti itu kekecilan.

Bendahara Pulau Babi adalah seekor babi paling besar di antar babi-babi yang lain. Apalagi semenjak sepuluh tahun terakhir, dia secara terus-menerus menjabat bendahara. Badannya makin bengkak saja. 

Peti kedua juga terpaksa digantikan karena walau ukurannya sudah benar, ternyata dalam waktu dua hari, badan babi mulai membusuk dan bengkak. Sebab itu, peti tidak muat. 

Barulah peti ketiga dikerjakan dengan mengantisipasi segala kemungkinan. Dengan susah payah, jenazahnya akhirnya bisa  dimasukkan ke dalam keranda.

Sekitar 20 ekor babi pranggang dikerahkan untuk memikul keranda. Mereka berjalan dengan langkah langsam, menuju tanah makam. Semua penghuni Pulau Babi berjalan di belakang, dengan wajah merunduk sedih.

Sekelompok burung pombo terbang mondar-mandir di atas keranda. Mereka juga ingin mengantar jenazah babi bendahara.  Tiba-tiba semua pombo hinggap di dahan kenari.  Mereka mulai membuka percakapan usil.

“Itu semua babi terlihat sedih. Mengapa ya? Saya kok tidak ikut sedih?” Kata Pombo dada putih.

“Mungkin karena kau sudah mati rasa,” kata Pombo kaki kuning.

“Tidak. Saya teringat gaji kita sebagai pombo pengintai. Kita berjasa memberitahu kedatangan para pemburu bersenjata api ke pulau ini tetapi sepuluh bulan gaji kita tidak  dibayarkan. Itu ulah sang babi besar itu. Untung kita demo ke kantor wali kota Pulau Babi, barulah gaji kita dibayarkan.  Itu karena wali kota tegur bendahara yang suka endapkan uang gaji kita,” kata merpati dada putih.

Burung-burung pombo terus bergosip ria.  Iring-iringan jenazah sudah sampai di tanah makam. Keranda diturunkan di sisi liang makam.  Burung-burung pombo pindah ke atas pohon kamboja di sisi makam.

Ritual pemakaman hendak dilanjutkan, tetapi tiba-tiba, terjadi ledakan dengan bunyi sangat keras. Semua kaget karena ini adalah kejadian pertama kali di Pulau Babi. Keranda berisi jenazah babi bendahara itu meledak. 

Burung-burung terkejut. Juga babi-babi dan segenap hewan yang datang mengantar ke pemakaman. Semua berusaha menyelamatkan diri dari bunyi ledakan.

“Siapa taruh bom di dalam keranda?” Selidik Pombo mata biru. 

Semua hewan yang tadinya lari menjauh akibat ledakan, sekarang sudah kembali ke sisi makam, setelah mereka pastikan tidak ada ledakan susulan. Keranda  sudah hancur berkeping-keping. Ternyata perut babi terbelah.  Hewan-hewan kaget melihat uang kertas dan logam segala nominal memenuhi perut babi. Kulit babi yang tebal juga terbelah dan keluarlah uang-uang gobang dari balik kulit berlemak.

Belum selesai keterkejutan itu, tiba-tiba gundukan tanah bekas galian, semuanya menghambur masuk ke dalam liang, lalu tertutup seperti sedia kala.

“Tidak ada tempat bagi bendahara koruptor.  Tanah pun menolak,” kata babi putih yang memimpin upacara pemakaman.

Tanah Kei, 29 Mei 2021


Ikuti suaradamai.com dispot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ronald Tethool

Sosok inspiratif yang berhasil memajukan pariwisata Ngurbloat, Kepulauan Kei, Maluku.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU