Gubernur Murad Sampaikan Empat Catatan Penting Saat Pengukuhan Raja Negeri Seith

Rivi Ramli Nukuhehe dikukuhkan oleh Tatua Adat Wais Nukuhaly, sebagai Raja Negeri Seith menggantikan raja sebelumnya (Alm). Mahfud Nukuhehe.


Ambon, suaradamai.com – Gubernur Maluku Murad Ismail menghadiri acara pengukuhan Raja Negeri Seith, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Rabu (12/1/2022).

Gubernur menyaksikan acara pengukuhan Rivi Ramli Nukuhehe, sebagai Raja Negeri Seith menggantikan raja sebelumnya (Alm). Mahfud Nukuhehe. Pengukuhan ditandai dengan pemasangan Mahkota Raja di Baileo depan Masjid Tua Negeri Seith.

Saat dikukuhkan, Rivi didampingi Raja Negeri Lima M. Ghozali Soulissa, Raja Negeri Kaitetu Muhammad Armin Lumaela, dan Kapitan Negeri Seith Sukran Lalihun.

Pengukuhan tersebut juga disaksikan Upu Latu yang juga Gubernur Maluku Murad Ismail, istri Gubernur yang juga Ina Latu Maluku Widya Pratiwi Murad, Bupati Kabupaten Maluku Tengah Abua Tuasikal, Rektor Unpatti Ambon M. J. Saptenno, dan pejabat lingkup provinsi dan kabupaten setempat.

Dalam pidatonya, Gubernur menyampaikan selamat atas proses pengukuhan adat Raja Negeri Seith. Menurut dia, ritual adat tersebut merupakan momen bersejarah untuk anak negeri karena memiliki pesan dan makna simbolik, sebagai perwujudan untuk menjaga dan memantapkan keberlangsungan nilai budaya dan kearifan lokal.

Ada empat hal penting yang disampaikan Murad. Pertama, pengukuhan adat hari itu bukan saja sebagai sebuah seremonial tetapi sebagai bentuk tanggung jawab moril untuk melestarikan dan mewariskan nilai kepemimpinan yang amanah, tanggung jawab dan selalu berpihak pada kepentingan rakyat.

Kedua, era globalisasi yang terus berubah sangat cepat, berpengaruh hingga ke negeri (kampung-kampung) yang jauh dari kota. Pengaruh ini, kata Gubernur Murad, membawa dampak terhadap kehidupan masyarakat. Dampak positif yang ditimbulkan adalah keterbukaan kecepatan informasi dan modernisasi. Sedangkan dampak negatif yang ditimbulkan adalah lahirnya kecenderungan masyarakat yang semakin glamour, materialistis dan individualistis yang sejatinya bertentangan dengan sifat hidup orang basudara yang telah menjadi kekayaan budaya di Maluku.

Ketiga, Gubernur mengajak masyarakat memperkuat kesadaran hidup sebagai orang bersaudara berdasarkan semangat Siwalima, Pela Gandong yang senantiasa saling memahami, percaya, menghargai, peduli, dan mengasihi.

Keempat, Pemprov Maluku, kata Gubernur, terus berkomitmen untuk meningkatkan pembangunan negeri-negeri adat di Maluku. Pemerintah terus mendorong alokasi anggaran melalui skema dana desa maupun anggaran dana desa. Kedua anggaran tersebut, diharapkan dapat mempercepat pembangunan di desa dan negeri-negeri di Maluku.

“Kepada bapak Raja yang hari ini dikukuhkan sebagai Upu Latu Uliala Leisiwa dan seluruh warga masyarakat Negeri Seith agar selalu diberi keteguhan, persaudaraan dan persatuan dalam menjaga dan membangun, menuju negeri yang maju dan sejahtera,” ujar Gubernur.

Di tempat yang sama, Bupati Kabupaten Maluku Tengah Abua Tuasikal berharap, kelompok masyarakat adat selaku komponen penting dalam gerak sejarah pengembangan daerah, senantiasa dilibatkan dalam setiap proses pembangunan di daerah, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan agar akselerasi pembangunan negeri dapat meningkat.

“Hal ini penting untuk saya sampaikan karena peran serta masyarakat sangat menentukan kemajuan pembangunan pada segala aspek dan dimensinya,” jelas Bupati.

Editor: Labes Remetwa


Baca juga:


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU