Hobi Rajut Dari Remaja Jadi Rezeki

Ibu Rita Nurmala (59) seorang ibu rumah tangga tampak begitu lihai tangan terampilnya memainkan hakpen atau jarum rajutnya, sambil melilitkan untaian-untaian benang rajut berulang-ulang. Sesekali dia berhenti untuk membenarkan untaian benang yang bertumpuk atau terselip di antara jarum. Di dekatnya ada tumpukan gulungan benang rajut dengan berbagai warna yang cantik  Ketertarikan Ibu Rita pada kerajinan tangan seni merajut bermula sejak remaja.

Ibu Rita belajar secara mandiri atau otodidak dimulai dari mengenal macam-macam jenis benang, ukuran hakpen atau jarum rajut, dan memperkuat pola teknik rajutan. Banyak hasil rajutan yang sudah Ibu Rita buat dengan hasil kreativitas sendiri seperti membuat baju, sepatu, tas, taplak meja, selimut, sarung bantal, syal dan masih banyak lagi sebagai pilihan untuk di rajutan.

Kreativitas itu adalah bakat diri yang harus selalu diasah dalam berbagai kesempatan. Untuk memastikan selalu dipenuhi kreativitas tanpa batas, ada juga kebiasaan penting  yang perlu lakukan secara rutin. Namun, masih banyak orang yang bermalas-malasan. Tetapi, tidak begitu dengan Ibu Rita semangatnya yang membara membuatnya tetap berkarya usia pun tidak menjadi hambatan. Menurutnya dari kegiatan merajut juga banyak manfaatnya untuk kesehatan membantu menurunkan tekanan darah ( stress ), mengatasi depresi, memperkuat daya ingat agar tidak mudah lupa.

Bukan semata-mata mencari profit, berawal dari kebosanannya melewati hari-hari dirumah saja. Hingga suatu waktu, Ibu Ritamendalami hobi seni rajutan yang disukainya sejak remaja karena menurutnya rajutan bisa memberikannya ketenangan, yakni merajut yang menjadi pelariannya di saat penat setelah melakukan pekerjaan rumah tangga. Hanya ketika sedang merajut, dia merasa lebih tenang, senang, dan bangga akan satu karya yang dihasilkannya, bermuls bangga memakai produk hasil karyanya sendiri banyak yang melirik untuk dijual bermula dari mulut ke mulut akhirnya Ibu Rita menerima pesanan. Dari dinamika yang dialami, Ibu Rita mengaku bahagia dengan pekerjaan yang juga hobi ini.  Suasana kerja kondusif dan ada rasa kepuasan sendiri ketika hasil karya disukai oleh pelanggan menjadi salah satu alasan. “Setiap hasil kita sudah jadi, kita lihat bagus dan pelanggan suka, kita punya kepuasan sendiri dan merasa dihargai,” kata Ibu Rita.

Harapan Ibu Rita, kedepannya semoga seni rajutan ini juga di minati oleh anak-anak remaja.


Penulis adalah Mahasiswa Universitas Siber Asia

Bagikan:

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Populer

Artikel terkait

Rawat Persaudaraan di Maluku, FPMM Inisiasi Dialog ‘Bacarita Orang Basudara’  

Kondisi ketegangan sosial yang meningkat belakangan perlu disikapi dengan...

Uningrat Kirim 200 Mahasiswa ke Enam Kecamatan di Tual-Malra dalam program KKN

Uningrat telah melakukan pembekalan mahasiswa KKN pada Kamis (15/1/2025)...

Wawali Tual Sampaikan Aspirasi Kampung Nelayan Merah Putih ke DPR RI

Wawali Rumra menyampaikan aspirasi terkait pengamanan usulan Program Kampung...

Lantik Pejabat Administrator dan Pengawas Pemkab Aru, Bupati Kaidel Tegas Akan Ganti Jika Tak Mampu

"Jika tidak mampu melaksanakannya dengan baik, maka suka atau...