Inovasi Kuliner Melalui Lomba, Cara Prodi AWB Polikant Meningkatkan Kreativitas Mahasiswa

Lomba antar kelompok ini cukup bergengsi, karena dewan juri yang menilai bukan hanya dari unsur dosen dan pimpinan di Kampus Biru itu. Tetapi juga dari Dinas Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara. Lomba yang sama juga akan dibuat di tahun depan dengan melibatkan chef dari hotel atau restoran terdekat.


Langgur, suaradamai.com – Program Studi Agrowisata Bahari (AWB) Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) terus berupaya meningkatkan kompetensi lulusannya. Berbagai strategi pun dilakukan untuk menghasilkan SDM pariwisata yang berkualitas dan kompeten.

Kali ini, Dosen Pengampuh Mata Kuliah Kuliner Pesisir dan Kelautan pada Prodi Agrowisata Bahari, Ida I Dewa Ayu Raka Susanty dan Lenny Tapotubun, memodifikasi kegiatan praktikum menjadi lomba antar kelompok. Hasilnya tak terduga, mahasiswa mampu menghasilkan inovasi kuliner yang luar biasa lewat lomba tersebut.

Bagaimana tidak, Susan dan Lenny mendesain penilaian yang menuntut mahasiswa untuk menciptakan produk olahan baru dengan menggunakan pangan lokal. Selain itu, mereka juga menilai dari segi cita rasa, keterampilan, dan komposisi bahan pangan.

Lomba antar kelompok ini cukup bergengsi, karena dewan juri yang menilai bukan hanya dari unsur dosen dan pimpinan di Kampus Biru itu. Tetapi juga dari Dinas Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara (Malra).

Sebagai Ketua Tim Penilai, Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata pada Dinas Pariwisata Malra Budhi Toffi menilai, lomba ini luar biasa. Sebab, menurut dia kegiatan ini tidak hanya mengembangkan pangan lokal, tetapi mampu menghasilkan produk olahan baru.

“Ada sajian sate kian (cacing pasir). Ada beda ya dengan yang lain. Sate kian tentunya punya nilai gizi tertentu untuk kesehatan. Ada juga sayur sir-sir dengan racikan bumbu pala. Mereka juga bikin jus papeda. Lalu ada juga sajian bia masngur ditampilkan. Termasuk lat (anggur laut) yang disajikan dengan berbagai varian rasa,” kata Toffi menyebutkan sejumlah produk olahan baru.

Bagi Toffi, produk olahan ini layak dipamerkan ke publik. Sebagai orang pemerintahan, Toffi menyarankan agar produk-produk ini juga dapat ditampilkan pada pameran di Festival Pesona Meti Kei (FPMK) pada Oktober mendatang.

“Pada saat acara Meti Kei kan akan dibikin pameran ekonomi kreatif. Mudah-mudahan dari Politeknik dapat mengisi salah satu stand di sana dengan menampilkan kuliner pesisir,” ungkap Toffi.

Praktikum yang kedua

Susan menjelaskan, praktikum ini merupakan kegiatan yang kedua. Sebelumnya hanya berupa praktikum reguler yang dilaksanakan di Ohoi Ohoililir, Kecamatan Manyeuw. Kali ini dibuat di kampus berupa lomba.

Sebelum lomba, Susan menambahkan, mahasiswa sudah dibekali pengetahuan tentang bahan, cara pembuatan, hingga cara penyajian produk olahan.

Mahasiswa, yang dibagi menjadi tujuh kelompok, mengolah bahan makanan di rumah kelompok masing-masing dan kemudian disajikan di kampus. Proses pengolahan di rumah diawasi oleh dosen pengampu.

Susan dan Lenny bersyukur karena melalui lomba ini, mahasiswa juga mendapat masukkan dari para juri. Mereka berharap, lewat lomba ini, dapat menguatkan kecintaan mahasiswa terhadap pangan lokal, dan menciptakan inovasi olahan baru yang pada akhirnya menjadi atraksi wisata kuliner.

Lenny, yang sudah malang-melintang melatih pelaku UMKM tentang pembuatan produk berbahan pangan lokal, menilai bahwa produk olahan yang dihasilkan mahasiswa ini berbeda dengan yang lain, baik dari segi kreativitas hingga cita rasa.

Mereka berencana untuk membuat lomba yang sama tahun depan, dengan tidak hanya melibatkan juri dari Dinas Pariwisata tetapi juga chef pada hotel/restoran di Maluku Tenggara.

Editor: Labes Remetwa


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU