Jalan Panjang Pembangunan Gereja Somlain: 23 Tahun Perjuangan

Ikuti suaradamai.com dispot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Perjuangan selama 23 tahun berbuah manis. Kini, gedung gereja berukuran 35 m x 15 m itu berdiri dengan megah di atas lahan seluas 8.000 meter persegi.


Langgur, suaradamai.com – Gereja St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Stasi Somlain, Paroki Ohoidertutu, Keuskupan Amboina, akhirnya diresmikan setelah 23 tahun perjuangan. Tangis haru menyelimuti acara peresmian gereja tersebut, pada Minggu 29 Okober 2023.

Wacana pembangunan gereja baru di Somlain dimulai tahun 1990. Tarik menarik soal pemindahan lokasi gereja dari kompleks kampung bawah ke kampung atas berlangsung sangat lama. Butuh waktu satu dekade bagi umat di Somlain untuk sepakat membangun gedung baru di lokasi yang berbeda.

Dalam rapat di SD Naskat Somlain pada tahun 2000, umat pun bersepakat membentuk panitia pembangunan dan memilih lokasi dimana gereja saat ini berdiri. Meski demikian, pembangunan baru dapat dilakukan pada tahun 2003. Lagi-lagi, butuh waktu dua dekade bagi umat Katolik di Somlain untuk memiliki gedung gereja yang representatif.

Dalam periode tahun 2000-2003, umat mulai mengumpulkan uang, mencari dana dengan menjual kalender dan hasil kebun seperti enbal, mangga, kacang tanah, dan kacang hijau. Kemudian tahun 2003, Pastor Paroki Ohoidertutu Pastor Gerardus Esserey, MSC, meletakkan batu pertama pembangunan.

Usai peletakkan batu pertama, umat Somlain terus mencari dana. Secara bersama-sama, mereka mengerjakan apa saja untuk mendatangkan uang. Penjualan hasil kebun bahkan pekerjaan fisik pun digarap. Tercatat mereka pernah mengecor bangunan tiga lantai salah satu toko di Langgur, juga bangunan Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant).

“Kami dapat uang sedikit, bangun lagi gereja sedikit. Sampai akhirnya uang yang ada habis. Kami cari lagi,” ungkap Ketua Panitia Peresmian dan Dedikasi Gereja St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Stasi Somlain, Clemens Welafubun, dalam laporannya pada acara peresmian.

Pada tahun 2006, bantuan datang dari sejumlah pihak. Saat itu, Pemuda Katolik Maluku Tenggara menyelenggarakan kemah rohani dan bakti sosial di Somlain, yang melibatkan seluruh OMK dari semua stasi di Kei Kecil. Masing-masing OMK stasi menyumbang 1 sampai 2 ret pasir. 

Pada saat itu juga dilakukan lelang pekerjaan gereja. Panitia mendapat dukungan baik dari para tokoh Katolik saat itu. Bantuan yang ada kemudian dijadikan modal untuk lanjutan pembangunan.

Pekerjaan berlanjut sampai 2020. Panitia kehabisan dana, juga bahan bangunan. Seuntai kata “kapan selesai?” terpampang di dalam gereja, di atas pintu. Tulisan yang ditulis salah satu warga Somlain itu, bukan tanpa alasan. Di baliknya, tersirat kekecewaan, juga melekat harapan besar dari umat setempat.

Harapan itu cukup terjawab dengan kehadiran Bupati Malra M. Thaher Hanubun. Dalam kunjungannya pada 17 Februari 2020, Bupati terperanjat ketika melihat tulisan tersebut. Ia pun berjanji akan membantu penyelesaian pembangunan gereja. Hingga pada 2021, Pemkab Malra merealisasikan anggaran melalui APBD sebesar Rp750 juta. Itu pun belum menjawab semua kebutuhan.

Hingga pada 25 Juli 2023, umat mengambil langkah yang berani. Mereka membentuk panitia peresmian di saat pembangunan gereja belum selesai. Semata-mata untuk mempercepat pembangunan. Panitia baru bawa harapan baru. 

Banyak orang dilibatkan masuk dalam struktur kepanitiaan. Umat Somlain yang ada di Kei, di luar Kei, dan juga keluarga yang bertalian. Semuanya terlibat. Mereka harus bekerja hanya dalam jangka waktu tiga bulan untuk menyelesaikan pembangunan dan menyiapkan acara peresmian.

Secara maraton, panitia menggalang dana. Menjual enbal bunga, kacang hijau, sayur-sayuran, dan bazaar. Bahkan menggalang dana sampai keluar daerah. Total anggaran yang didapat mencapai lebih dari setengah miliar rupiah. Sebuah capaian yang luar biasa di tengah ramainya kegiatan penggalangan dana, oleh banyak panitia pembangunan rumah ibadah di Maluku Tenggara.

Sambil cari dana, pembangunan juga digencarkan. Panitia menata bagian dalam gedung gereja, menata panti imam, mimbar, altar, tiang-tiang, memperbaiki pagar, pengecatan, pengecoran lantai halaman, perbaikan lampu, hingga pengadaan alat-alat liturgi. Semuanya tuntas tanggal 27 Oktober atau dua hari sebelum acara peresmian.

Derai air mata tak terbendung

Kepala Tukang Pembangunan Gereja Somlain, Barlendus Welafubun (kiri), tampak tertunduk, menyekakan air mata ketika memasuki Gereja Somlain yang baru diresmikan. Foto: Labes Remetwa
Kepala Tukang Pembangunan Gereja Somlain, Barlendus Welafubun (kiri), tampak tertunduk, menyekakan air mata ketika memasuki Gereja Somlain yang baru diresmikan. Foto: Labes Remetwa

Pada Minggu 29 Oktober 2023, Uskup Diosis Amboina Mgr. Seno (Inno) Ngutra dan Bupati Malra M. Thaher Hanubun meresmikan Gereja St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Stasi Somlain.

Perjuangan selama 23 tahun berbuah manis. Kini, gedung gereja berukuran 35 m x 15 m itu berdiri dengan megah di atas lahan seluas 8.000 meter persegi.

Kendati demikian, kepala tukang Gereja Somlain, Barlendus Welafubun, tidak mampu mengangkat wajahnya ketika mendampingi Uskup dan Bupati meninjau bagian dalam gereja.

Bukan karena malu. Ia tampak tunduk. Menyekakan matanya dengan tisu dan terus berjalan ke arah altar. 

Di luar, panitia dan umat yang hadir pun berlinang air mata.

Editor: Labes Remetwa


Ikuti suaradamai.com dispot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ronald Tethool

Sosok inspiratif yang berhasil memajukan pariwisata Ngurbloat, Kepulauan Kei, Maluku.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU