Kerjasama SMK Pusat Keunggulan: Polikant Dampingi SMK N 1 Tual

Polikant mendapat kesempatan mendampingi dua SMK. Namun, kampus biru itu hanya melakukan pendampingan bagi SMK N 1 Tual.


Langgur, suaradamai.com – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemenristek Dikti) memberi kesempatan bagi Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) sebagai pendamping bagi dua SMK, dalam program Sekolah Menengah Kejuruan Pusat Keunggulan atau SMK PK.

Program SMK PK bertujuan menghasilkan lulusan yang terserap di dunia kerja, atau menjadi wirausaha melalui keselarasan pendidikan vokasi yang mendalam dan menyeluruh dengan dunia kerja.

Sebagai perguruan tinggi vokasi, Polikant dipercayakan mendampingi dua sekolah, yaitu SMK N 1 Tual di Kota Tual dan SMK N 1 Bula di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).

Pembantu Direktur (Pudir) IV Bidang Kerjasama Polikant Ismail Marasabessy mengatakan, pihaknya hanya akan mendampingi SMK N 1 Tual, karena kompetensi SMK N 1 Bula tidak sesuai dengan kompetensi Polikant.

“Kompetensinya itu bisnis hortikultura sehingga kami tidak mengambil itu. Jadi hanya SMK N 1 Tual yang kami dampingi. Rencananya kegiatan sampai 31 Desember 2022. Kami fokus pada kegiatan pengembangan bidang bidang perikanan dan kelautan. Kebetulan SMK N 1 Tual mempunyai kompetensi pada bidang budidaya dan pengolahan (perikanan),” jelas Ismail kepada Suaradamai.com, Selasa (2/8/2022).

Ismail menambahkan bahwa pendampingan yang dilakukan berupa penguatan kompetensi guru dan kepala sekolah, terutama untuk mencapai konsep 8+i link and match.

“Hari ini Rabu (03/08/2022) kami akan melakukan pertemuan perdana dengan SMK N 1 Tual untuk mensinkronkan pendampingan seperti apa yang diinginkan oleh mereka. Pendampingan yang kami lakukan harus menyesuaikan dengan kebutuhan SMK,” jelas Ismail.

Dikutip dari laman Kemdikbud.go.id, Mendikbud Ristek Nadiem Anwar Makarim menjelaskan bahwa konsep 8+i Link and Match yang dimaksud sebagai berikut. Pertama, kurikulum disusun bersama sejalan dengan penguatan aspek softskills, hardskills dan karakter kebekerjaan sesuai kebutuhan dunia kerja. Kedua, pembelajaran diupayakan berbasis proyek riil dari dunia kerja (PBL) untuk memastikan hardskills, softskills dan karakter yang kuat.

Ketiga, peningkatan jumlah dan peran guru/instruktur dari industri maupun pakar dari dunia kerja. “Tingkatkan secara signifikan sampai minimal mencapai 50 jam/semester/program keahlian,” imbau Mendikbud Ristek seperti tertulis dalam laman Kemdikbud.go.id.

Keempat, praktik kerja lapangan/industri minimal satu semester. Kelima, bagi lulusan dan bagi guru/instruktur sertifikasi kompetensi harus sesuai dengan standar dan kebutuhan dunia kerja. Keenam, bagi guru/instruktur perlu ditekankan untuk memperbarui teknologi melalui pelatihan secara rutin.

Ketujuh, diadakan riset terapan yang mendukung teaching factory berdasarkan kasus atau kebutuhan. Kedelapan, komitmen serapan lulusan oleh dunia kerja. Sedangkan huruf “i” adalah berbagai kemungkinan kerja sama yang dapat dilakukan dengan dunia kerja. Di antaranya beasiswa dan/atau ikatan dinas, donasi dalam bentuk peralatan laboratorium dan lainnya.

Editor: Labes Remetwa


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU