Ketua MPH Sinode GPM: Sudah Ada Tanda Kemajuan Pembangunan di Kei Besar

Sidang MPL ke-42 ini menjadikan topik infrastruktur dan aksesibilitas kepulauan sebagai isu pembangunan utama.


Langgur, suaradamai.com – Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) Pendeta Elifas Tomix Maspaitella, menyampaikan bahwa sudah ada tanda-tanda kemajuan pembangunan di Pulau Kei Besar (Nuhu Yut), Kabupaten Maluku Tenggara.

Hal ini disampaikan Maspaitella pada kegiatan pembukaan Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) ke-42 Sinode GPM di Kota Elat, Ibu Kota Kecamatan Kei Besar Maluku Tenggara, Minggu (31/10/2021).

Maspaitella dalam sambutannya mengatakan, kemajuan pembangunan itu terutama ketersedian sarana transportasi darat dan laut, dermaga, akses jalan, layanan kebutuhan dasar seperti listrik, air bersih dan kesehatan, bahkan sudah punya puskesmas rawat inap.

“Kami berterimakasih bahwa di Pulai Kei Besar ini, lebih khusus di ohoi (desa), sudah banyak yang terjangkau listrik PLN. Semoga juga untuk pulau-pulau yang lain baik di Malra maupun Maluku secara umum,” kata Maspaitella.

Maspaitella juga berterimakasih kepada Bupati, Wakil Bupati, Sekda dan jajaran Pemkab Malra, bersama semua pimpinan dan anggota DPRD Malra, serta Pemerintah Provinsi dan DPRD Provinsi, dimana sudah menjaminkan pembangunan di wilayah tersebut.

Sidang MPL ke-42 Sinode GPM adalah sidang pertama pada masa sinode 2021-2025 yang kembali digelar di Nuhu Yut. 19 tahun yang lalu sidang serupa juga dilaksanakan di Nuhu Yut, yakni Ohoirenan. Bagi GPM, melaksanakan sidang di pelosok dan daerah pedalaman Maluku dimaksudkan untuk mendorong percepatan pembangunan dan mengubah perwajahan wilayah melalui peran mandiri warga gereja, masyarakat, dan partisipasi pemerintah.

Lebih jauh, kata Maspaitella, sidang MPL ke-42 ini menjadikan topik infrastruktur dan aksesibilitas kepulauan sebagai isu pembangunan utama, sebab GPM adalah Gereja laut pulau yang melayani di hamparan kepulauan yang kaya akan potensi kekayaan alam.

Maspaitella mengajak masyarakat Maluku agar tidak lagi terjebak dalam nostalgia sejarah, yakni narasi sejarah Kepulauan Maluku adalah pulau rempah-rempah yang melegenda dan menjadi incaran perdagangan internasional di masa lampau, dan nostalgia Maluku adalah salah satu dari 8 provinsi yang melahirkan NKRI.

“Masyarakat pulau-pulau baik di Maluku dan Maluku Utara harus memiliki akses kesejahteraan, kesehatan, pendidikan dan keadilan, maka pertumbuhan wilayah harus didorong secara cepat,” pungkas Maspaitella.

Editor: Labes Remetwa


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU