Korneles Jamlean, Dari Putus Cinta Menghasilkan Karya Seni Lukis dan Ukir

“Bukan uang yang diharapkan dari setiap pameran, melainkan melihat respons orang terhadap hasil karya, yang telah saya geluti selama bertahun-tahun,” jelasnya.


Langgur, suaradaamai.com – Putus cinta kadang kala tidak seperti yang ditampilkan dalam serial televisi kebanggaan ibu-ibu. Menyakitkan dan sangat menyedihkan. Banyak orang yang mengalami patah hati menjadi suka murung, bahkan ingin mengakhiri hidup.

Berbeda dengan Korneles Jamlean, Pria pemilik senyum manis berdarah Namar ini. Siapa sangka, patah hati di bangku sekolah menghantarkannya menjadi seorang seniman. ia pun meraup pundi-pundi rupiah lewat karya lukis dan ukir yang ia buat.

“Awalnya itu, saya putus cinta hingga patah hati. Walau patah hati, saya tidak lari ke minuman atau mabuk mabukan. Saya hanya mengurung diri di kamar selama sebulan. Di situ saya mencoret coret dinding, lalu membeli cat dan mulai mencoba melukis,” cerita Neles, sapaan akrabnya.

Meskipun lukisan tidak terlalu bagus namun saya bangga, kata Neles, karena setidaknya saya bisa menyalurkan emosi saya lewat lukisan itu. Saya melukis hamparan pemandangan alam yang luas, dan terdapat seekor burung bangau di pohon. Burung itu berteman sepi. Saya berimajinasi kalau burung itu adalah saya yang lagi sendiri.

Bagi Neles, melukis dan mengukir merupakan cara untuk menemukan jalan pulang yang mulus dan kembali bangkit menjalani hidup seperti sedia kala.

“Kalau memulai seni ukir, awalnya saya hanya mencari kesibukan dengan memahat kayu. Hal itu saya lakukan untuk menghilangkan pemikiran negatif, karena patah hati tadi. Akhirnya saya memiliki kemampuan mengukir selain melukis,” tutur Neles saat pameran Dekranasda Malra, Sabtu (5/2/2022).

Dari karya-karya ciptaanya, memunculkan berbagai tema seni. Jika diperinci, aliran yang patut disebut untuknya adalah naturalisme. Aliran yang berusaha menampilkan suatu objek secara alami.

Seniman 60 tahun ini menjual karya seninya, dengan jumlah uang yang tidak begitu besar. Alasannya, ia hanya ingin mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

“Bukan uang yang diharapkan dari setiap pameran, melainkan melihat respons orang terhadap hasil karya, yang telah saya geluti selama bertahun-tahun,” jelasnya.

Editor: Petter Letsoin


Baca juga:


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU