Sebuah prasasti di Goa Maria Imakulata Kolser, Kepulauan Kei, mencatat tanggal 8 Desember 1926. Sementara itu, Goa Maria Sendangsono diberkati pada 8 Desember 1929. Selisih tiga tahun ini membuka pertanyaan sejarah yang menarik: seberapa tua sebenarnya Goa Maria Kolser, dan mungkinkah tempat ziarah di Maluku Tenggara ini menyimpan salah satu jejak paling awal dalam sejarah Goa Maria di Indonesia?
Suaradamai.com – Selama bertahun-tahun, Sendangsono di Yogyakarta dikenal luas sebagai salah satu tempat ziarah Katolik paling bersejarah di Indonesia. Namun jauh di timur Nusantara, di sebuah kampung di Kepulauan Kei, berdiri sebuah Goa Maria dengan sebuah tanggal yang menarik perhatian: 8 Desember 1926.
Tanggal itu tertera pada prasasti Goa Maria Imakulata Kolser di Ohoi Kolser, Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara.
Jika catatan tersebut ditempatkan berdampingan dengan sejarah Goa Maria Sendangsono, muncul sebuah pertanyaan menarik:
Seberapa tua sebenarnya Goa Maria Imakulata Kolser dalam sejarah Goa Maria di Indonesia?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan menjelang peringatan 100 tahun Goa Maria Imakulata Kolser pada Desember 2026.
Penelusuran Suaradamai.com menemukan bahwa Kolser memang memiliki posisi yang sangat menarik dalam sejarah tempat ziarah Maria di Indonesia. Namun, bukti yang tersedia sejauh ini belum cukup untuk secara pasti menyebutnya sebagai Goa Maria pertama di Indonesia.
Yang dapat dikatakan dengan lebih kuat: Kolser merupakan salah satu Goa Maria tertua di Indonesia dan memiliki jejak pemberkatan sejak 1926.
Sebuah Tanggal di Kolser: 8 Desember 1926
Sejarah Goa Maria Imakulata Kolser tidak hanya bertumpu pada tutur yang diwariskan umat.
Salah satu bukti penting berada di lokasi itu sendiri.
Prasasti Goa Maria mencatat bahwa tempat tersebut diberkati oleh Pastor Henricus Nollen, MSC, pada 8 Desember 1926.
Tanggal tersebut juga memiliki arti khusus dalam Gereja Katolik karena 8 Desember merupakan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda.
Jejak lain ditemukan dalam Almanak Bunda Maria Hati Kudus, tahun ke-39, edisi 1 Januari 1929.
Dalam tulisan “Pemuji Maria di Kei” karya Jos. V. D. Kolk, MSC, tercatat keberadaan sebuah goa di Kei yang dihiasi patung besar Bunda Maria dari Lourdes dan patung kecil Santa Bernadette, hadiah sebuah keluarga dari Belanda.
Catatan tersebut juga menyebut Mgr. Yohanes Aerts memberkati patung dan goa itu secara khidmat di tengah banyak umat.
Dengan demikian, keberadaan Goa Maria di Kolser bukan hanya hidup dalam ingatan masyarakat. Ia juga meninggalkan jejak dalam dokumen dari masa tersebut.
Lalu Bagaimana dengan Sendangsono?
Perbandingan menjadi menarik ketika melihat sejarah Goa Maria Sendangsono di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sendangsono memiliki sejarah Katolik yang lebih awal.

Tempat tersebut terkait erat dengan pembaptisan massal umat oleh Pastor Frans van Lith, SJ, pada 1904. Peristiwa itu menjadi salah satu tonggak penting perkembangan Gereja Katolik di Jawa.
Tetapi sejarah tempat itu sebagai lokasi pembaptisan tidak sama dengan tanggal berdirinya bangunan Goa Maria.
Data Sistem Informasi Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat bahwa pembangunan Goa Maria Sendangsono berlangsung selama sekitar dua tahun, yakni 1927 hingga 1929.
Patung Santa Perawan Maria tiba pada September 1929. Setelah patung ditempatkan, Goa Maria tersebut akhirnya diberkati dalam perayaan Ekaristi pada 8 Desember 1929.
Artinya, terdapat dua sejarah yang perlu dibedakan: Sendangsono sebagai tempat penting bagi sejarah Katolik sejak 1904 dan Sendangsono sebagai Goa Maria yang dibangun pada 1927–1929.
Perbedaan inilah yang membuat tanggal Kolser menjadi menarik.
Kolser 1926, Sendangsono 1929
Jika yang dibandingkan secara khusus adalah tanggal pemberkatan Goa Maria, prasasti Kolser menunjukkan tanggal 8 Desember 1926, sedangkan sumber resmi mengenai Sendangsono mencatat pemberkatannya pada 8 Desember 1929.
Ada selisih sekitar tiga tahun.
Bahkan pembangunan Goa Maria Sendangsono, menurut catatan Cagar Budaya DIY, baru dimulai pada 1927 setahun setelah tanggal pemberkatan yang tercatat pada prasasti Kolser.
Fakta kronologis ini memberikan alasan kuat untuk melihat kembali posisi Goa Maria Imakulata Kolser dalam sejarah tempat ziarah Maria di Indonesia.
Menariknya, sejumlah publikasi masa kini memang telah menyebut Kolser sebagai salah satu Goa Maria tertua di Indonesia.
Tetapi pertanyaan yang lebih besar belum otomatis terjawab.

Apakah Kolser yang pertama?
Mengapa Belum Bisa Disebut yang Pertama?
Menentukan “Goa Maria pertama di Indonesia” ternyata tidak sesederhana membandingkan Kolser dengan Sendangsono.
Indonesia memiliki sejarah misi Katolik yang panjang dan tersebar di berbagai wilayah. Ada komunitas Katolik yang telah berkembang jauh sebelum abad ke-20, terutama di wilayah timur Nusantara.
Untuk menyatakan Kolser sebagai Goa Maria pertama, perlu dibuktikan bahwa tidak ada Goa Maria lain di wilayah Indonesia yang telah dibangun atau diberkati sebelum 8 Desember 1926.
Sampai saat ini, bukti komprehensif semacam itu belum ditemukan.
Bahkan penelitian mengenai sejarah Goa Maria di Indonesia masih menghadapi persoalan dokumentasi. Sejumlah kajian menyebut belum tersedia data yang benar-benar lengkap mengenai kapan tradisi pembangunan Goa Maria pertama kali dimulai di seluruh Indonesia.
Karena itu, menyebut Kolser sebagai “Goa Maria pertama di Indonesia” sekarang akan melampaui bukti yang tersedia.
Tetapi menyebutnya “salah satu Goa Maria tertua di Indonesia” memiliki dasar yang jauh lebih kuat.
Dan tanggal 1926 membuka ruang penelitian yang lebih besar.
Dokumen 1929 Membuat Kolser Semakin Menarik
Ada satu hal yang membuat kasus Kolser berbeda.
Selain prasasti 1926, terdapat dokumen tertulis yang terbit pada awal 1929.
Almanak Bunda Maria Hati Kudus tidak hanya menyebut keberadaan goa tersebut, tetapi juga menggambarkan patung Bunda Maria Lourdes dan Santa Bernadette yang disumbangkan sebuah keluarga dari Belanda.
Dokumen itu menggambarkan goa dari batu karang Kei, lingkungan di sekitarnya, umat yang menghadiri pemberkatan, hingga kebiasaan orang yang melintas memberikan penghormatan kepada Maria.
Artinya, pada saat Almanak tersebut terbit 1 Januari 1929, Goa Maria di Kei sudah menjadi kenyataan yang layak dicatat dalam publikasi misi Katolik.
Pada saat yang hampir bersamaan, pembangunan Goa Maria Sendangsono masih berlangsung dan baru selesai serta diberkati kemudian pada tahun yang sama.
Temuan kronologis ini tidak otomatis menjadikan Kolser sebagai yang pertama di Indonesia.
Tetapi ia menunjukkan bahwa sejarah Goa Maria di Indonesia mungkin tidak hanya harus dibaca dari Jawa.
Ada jejak penting di Timur Indonesia yang layak mendapat perhatian lebih besar.
Dari Kei, Sebuah Bab Sejarah yang Perlu Diteliti
Jauh sebelum Goa Maria Kolser berdiri, iman Katolik telah bertumbuh di tengah masyarakat Kolser.
Dokumen MSC mencatat Ignatius Bak Maturbongs sebagai orang Kolser pertama yang dibaptis menjadi Katolik pada 23 Agustus 1891.
Pembaptisan berikutnya berlangsung pada 1892 dan 1894. Dari komunitas kecil itu kemudian lahir pula katekis-katekis yang ikut mengambil bagian dalam pewartaan iman ke daerah lain.
Dengan demikian, berdirinya Goa Maria pada 1926 bukan peristiwa yang muncul secara tiba-tiba.
Ia bertumbuh dari komunitas Katolik yang ketika itu telah memiliki perjalanan iman selama lebih dari tiga dekade.
Kini, hampir satu abad kemudian, jejak-jejak itu mulai membentuk sebuah pertanyaan sejarah yang lebih luas.
Bukan sekadar, “Kapan Goa Maria Kolser dibangun?”
Melainkan:
“Di manakah sebenarnya posisi Kolser dalam sejarah Goa Maria di Indonesia?”
Jangan Buru-buru Menyebut “Pertama”
Dalam penulisan sejarah, kebanggaan terhadap warisan sebuah komunitas justru perlu berjalan bersama kehati-hatian terhadap fakta.
Karena itu, sebelum ditemukan dokumen yang dapat membuktikan bahwa tidak ada Goa Maria lain di Indonesia sebelum 1926, sebutan “Goa Maria pertama di Indonesia” sebaiknya belum digunakan sebagai fakta.
Namun satu hal sudah dapat dikatakan:
Goa Maria Imakulata Kolser memiliki jejak sejarah yang sangat tua.
Prasastinya menunjuk 8 Desember 1926.
Dokumen tahun 1929 mengabadikan keberadaannya.
Sumber-sumber masa kini menyebutnya sebagai salah satu Goa Maria tertua di Indonesia.
Dan ketika dibandingkan dengan Sendangsono—tempat yang memiliki sejarah Katolik sejak 1904 tetapi Goa Marianya dibangun pada 1927–1929 dan diberkati pada 8 Desember 1929—tanggal Kolser muncul tiga tahun lebih awal dalam konteks pemberkatan Goa Maria.
Itu bukan alasan untuk terburu-buru mengklaim sebuah gelar.
Justru itu adalah alasan untuk membuka arsip lebih jauh.
Arsip MSC, catatan Keuskupan Amboina, publikasi misi dari masa Hindia Belanda, serta arsip gerejawi di Belanda dapat menjadi jalan untuk menemukan jawaban yang lebih pasti.
Menjelang 100 tahun Goa Maria Imakulata Kolser pada Desember 2026, pertanyaan tersebut menjadi semakin penting.
Sebab mungkin saja, di sebuah kampung kecil di Kepulauan Kei, tersimpan satu bagian penting dari sejarah devosi Maria di Indonesia yang selama ini belum banyak dikenal.
Dan sejarah itu kini menunggu untuk ditelusuri lebih jauh.







