“Mam, Tia Rindu…”

Corona pisahkan mama


KUCERITAKAN kisahku ini buat mama yang lagi diisolasi di rumah sakit dan buat orang-orang yang menjauhiku.

Namaku Tia. Kata mama, aku lahir di rumah sakit Katolik di Langgur, bertepatan dengan Pilkada. Kalau saja aku terlahir laki-laki mungkin namaku adalah Andre. Rumah kami di tengah-tengah kota. Saat ini aku adalah siswi kelas dua di salah satu Sekolah Dasar swasta di kotaku. Aku anak yang aktif di kelas. “Dasar Tomboy”. Sebutan ini sering ku dengar saat guru kelas menegurku.  

Mamaku seorang Pegawai Negeri Sipil di lingkup Sekretariat Daerah. Mama cantik dan berwibawa sekali, saat mengenakan seragamnya. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, mama selalu memandikanku dan mengantar ke sekolah yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah. “Ingat jangan nakal ya sayang,”  itu pesan mama setiap kali sebelum melepasku di gerbang sekolah.

Hari itu hari Rabu, papa menjemputku lebih awal.  Aneh, karena  belum jam pulang dan biasanya mama yang jemput. Tidak tahu apa yang dibicarakan papa ke ibu guru wali kelasku, tetapi selang beberapa menit dari depan pintu kelas, guruku memintaku pulang saat itu juga. Seperti biasa sebelum pulang sekolah, aku menghampiri guru hendak pamit dan mencium tangannya, tetapi ibu menolak dan menjauhiku. Papa menghampiriku, menggendongku, meninggalkan sekolah dengan tergesa-gesa. Dari kejauhan aku melihat para guru mulai berkerumun. Sekali-sekali mereka menoleh ke arah kami dengan cemas. Selama perjalanan pulang ke rumah, papa diam seribu bahasa.

Tiba di depan pintu pagar rumah, suasana tidak seperti biasanya. Kakak laki-laki yang sulung sudah lebih dahulu di sana dan seragam SMP-nya belum dilepas. Kakak tertunduk lesu di beranda depan rumah. Melihat papa dan aku masuk ke halaman rumah, air matanya mengalir deras. Motor metik Mio milik mama terparkir di luar garasi. Aku berlari mencari mama walau papa mencegahku. Pintu kamar tertutup rapat. Sepatu kantor mama terlihat berserakan di depan pintu masuk kamar. “Mam, mama, buka pintu, Tia su pulang,” aku berteriak sambal mengetuk-ngetuk pintu dengan keras. Berulang-ulang aku memanggil mama. Papa malah yang datang menggendongku menjauh dari pintu. “Mama lagi sakit”  hanya itu yang terdengar dari kamar mama. “Lho! bukannya baru tadi pagi mama antara Tia ke sekolah? Mam baik-baik saja to? Mama sakit apa pa?” balasku. Tapi lagi-lagi papa diam tak menjawab. Papa malah membawaku ke kamar kakak dan melepas pakaian seragamku. Sejak kejadian hari itu kami dilarang keluar rumah dan tidak lagi pergi ke sekolah sampai hari ini.

Selang beberapa hari, teman-teman dekat mama di kantor, tiga orang datang ke rumah. Aku sangat mengenal mereka, walaupun mereka menggunakan masker penuh muka dan sarung tangan. Mereka hendak betemu mama, tapi mama tidak mau keluar dari kamar. Samar-samar terdengar kalau mereka baru saja pulang menanam kebun besar di lokasi Kantor Bupati baru. Seperti terburu-buru mereka meniggalkan rumah sambil menyemprotkan cairan dari botol kecil yang terlihat seperti botol parfum mama, di tangan dan kaki. Di depan pintu pagar, sebut saja Tante Siska teman mama paling akrab, berpesan agar jangan dekat mama sebelum ada hasil laboratorium dari Ambon. Aku hanya menggangguk. Spontan aku berlari ke arah Tante Siska, tetapi dia malah menjauh sambil menancap gas motornya.

Teman-teman di sekitar rumahku manjauh. Ada ketakutan setiap kali mereka memandangku. Aku mencoba memanggil dan mengajak bermain seperti biasanya, tetapi mereka malah berlari masuk ke rumah dan mengunci pintu. Tetangga yang sering bermain kartu dengan papa pun demikian, malah saat ini pintu rumah dan pagar mereka digembok rapat dan mengungsi ke tempat lain.  Saat pagi, aku hanya memandangi temanku yang diantar bapaknya ke sekolah dari celah horden jendela.

Subuh itu, aku terkejut bangun. Mobil ambulance tanpa sirene dengan lampu kelap kelip memasuki halaman rumah. Beberapa orang berpakaian putih-putih seperti astronot bergerak cepat dan masuk ke dalam rumah. Dari celah pintu aku melihat beberapa polisi bermasker dan berpakain lengkap dengan senjata di tangan berada di halaman rumah. Mama dijemput entah dibawa ke mana.  “Mama baik-baik sayang. Jaga papa dan kaka ee. Jangan nakal, mama pasti pulang,” hanya itu yang keluar dari mulut mama sesaat kemudian mama menghilang di balik pintu ambulance. Tak terasa air mataku deras mengalir tanpa suara.

Keesokan harinya mama menelpon dan mengajakku bercerita. Aku menolak. Papa membuka pengeras suara telepon genggam dan dari jauh aku dengar mama bertanya apakah aku sudah makan atau belum. Aku hanya mengangguk pertanda sudah makan. Setiap hari mama menelpon lewat video call mengatakan kalau mama baik-baik saja, bahkan memperlihatkan tempat tidur mama di rumah sakit. Mama selalu berpesan agar aku tidak usah cemas dan panik. Mama menyakinkanku kalau di tempat isolasi ada tenaga medis yang dengan tekun menjaga dan merawat mama.

Terima kasih buat om dan tante yang telah menjaga dan merawat mama selama ini. Aku tahu kalau mama sangat kuat dan pasti pulang. Aku juga berharap semua pihak bekerja sama dengan baik agar mama dan teman-teman mama yang sementara diisolasi cepat sembuh dan pulang ke rumah masing-masing. Aku juga berharap kepada pembaca sekalian agar menjaga jarak, pakai masker sebagaimana anjuran pemerintah agar jangan ada lagi teman sebayaku yang mengalami nasib seperti aku ini. Buat tetangga dekat rumahku, jangan hukum kami lagi. Kami juga tidak menginginkan keadaan keluarga kami seperti ini. Setiap malam aku tetap berdoa buat mama agar cepat sembuh dan pulang. Mama jangan cemas, kami di rumah masih kuat.

Hari ini aku mendengar satu pasien covid, teman mama dipanggil pulang. Tapi aku tidak cemas. Karena aku percaya, Tuhan menyertai mama. Tiap hari kami berdoa untuk mama. Sejak mama pergi, papa mengosongkan satu ruangan, khusus untuk ruangan doa. Selain kami berdoa bersama, aku sering melihat papa berdoa sendiri sampai tertidur di depan altar. Mama, sekarang papa tidak seperti dulu lagi. Papa sudah paling rajin berdoa. Kami percaya, Tuhan pasti menyembuhkan mama.

Aku juga berdoa agar arwahnya diterima di sisi Tuhan. Aku berharap semua pihak bisa bekerja sama agar musibah ini cepat berlalu dari wilayah kita ini. Tia mau bobo mama.

“Mam, pulang mam, Tia rindu… ingin peluk mama seperti dulu lagi”.  

Salam dari anakmu Tia yang terpenjara rindu di rumah kita.


Cerita fiksi ini ditulis oleh HNQ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU