Selasa, Januari 21, 2020
Beranda Lingkungan Masalah Sampah di Objek Wisata Maluku Tenggara

Masalah Sampah di Objek Wisata Maluku Tenggara

Sosialisasi yang dilakukan pemerintah bahkan Trash Hero Kepulauan Kei dalam memerangi sampah sepertinya belum cukup.

Langgur, suaradamai.com Pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan dalam menunjang pembangunan di Maluku Tenggara. Dalam perkembangannya, berbagai cara promosi gencar dilakukan berbagai kalangan, baik dari pemerintah hingga masyarakat. Para pengguna media sosial pun ramai-ramai mempromosikan keindahan objek wisata negeri ini.

Sayangnya, upaya itu tidak dibarengi dengan kesadaran menjaga lingkungan. Para pengelola tempat wisata dan masyarakat tertidur lelap, seakan tidak peduli bagaimana menjaga keindahan lokasi wisata.

Tim Suara Damai/Pilar Timur melakukan pengamatan selama satu minggu, sejak Rabu (1/1/20) sampai Rabu (8/1/20), menemukan kondisi pada beberapa objek wisata seperti pantai Ohoidertawun Atas dan Bawah, Pantai Ohoililir dan Ngurbloat (Pasir Panjang), terbentang hamparan sampah plastik maupun jenis sampah lainnya.

Salah satu pengelola pada objek wisata Pantai Ohoidertawun, NR, mengklaim hamparan sampah di sepanjang lokasi yang dikelolalanya merupakan kiriman dari laut.

“Setiap hari kami bersihkan lokasi ini, namun mengingat kondisi alam (musim barat), sehingga sampah-sampah tersebut tetap saja ada,” katanya.

Berbanding terbalik dengan relita yang ditemui tim media ini, saat berada di lokasi, tim menemukan selain sampah kiriman, terdapat sampah plastik yang mungkin sengaja dibuang oleh pengunjung. Sampah yang berserakan di siang bolong itu terkesan dibiarkan walaupun ada orang duduk di dekat situ.

Selain itu, tumpukan sampah rumput laut terbungkus plastik membentang sepanjang lokasi wisata. Tim menduga, sampah itu tak pernah diangkat karena ketebalannya mencapai kurang lebih 5 cm.

Terkait hal itu, pihak pengelola mengatakan, sampah itu baru akan dibersihkan satu atau dua hari lagi karena akan ada kunjungan Bupati Malra pada 29 Januari nanti.

Realita ini sungguh miris. Betapa tidak, sampah tersebut baru akan diangkat ketika nantinya ada kunjungan kepala daerah. Bagaimana kalau tidak ada kunjungan?

Kondisi yang sama juga ada dua lokasi lainnya, seperti Ohoililir dan Ngurbloat. Namun tumpukan rumput laut tidak setebal di Pantai Ohoidertawun Atas dan Bawah.

Persoalan sampah di tempat wisata tidaklah sederhana. Tidak ada tempat sampah yang memadai, belum adanya sistem penanganan sampah yang baik, serta rendahnya kesadaran masyarakat, baik pengunjung, pelaku usaha dan stakeholder, merupakan faktor yang harus diperhatikan.

Hakikatnya, pariwisata adalah bagian dari bisnis bersama yang memerlukan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.

Keberadaaan sampah yang tidak tertangani dengan baik, tentu menjadikan tempat tersebut kotor, kumuh, berbau, yang selanjutnya berakibat pada merosotnya citra pariwisata di Kepulauan Kei.

Apabila kondisi ini terus terjadi, sudah barang tentu akan berpengaruh pada kunjungan wisatawan. Bahkan berujung pada redupnya bisinis pariwisata di Kei. (gerryngamel/labesremetwa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

ARTIKEL TERPOPULER

Dua PNS Pemkot Tual Kena Pemecatan Tidak Dengan Hormat

Bagi Wali Kota Tual Adam Rahayaan, sikap disiplin merupakan suatu kewajiban mutlak yang harus diembani dan dijalankan oleh setiap PNS

HUT Sekami Sedunia: Kerumunan yang Membawa Sukacita

Bupati Malra Muhammad Thaher Hanubun merasa bahagia layaknya seorang ayah yang disambut anak-anaknya di rumah usai pekerjaan yang melelahkan. Di balik itu,...

Dinas PUPR Malra Capai 90 Persen Pembangunan Infrastruktur

“Untuk tahun 2019 kemarin, kami fokuskan di sebagian wilayah Kei Besar, dimana rata-rata tersebar di wilayah Kei Besar Utara Timur dan...

Kompi 1 Batalyon C Brimob Maluku Sambangi Pelabuhan Watdek

“Kami akan selau siap siaga, jika dibutuhkan  oleh masyarakat,” tandas Wadanyon C Pelopor AKP. SY. Basahona. Langgur, suaradamai.com – Personil...

KOMENTAR TERBARU