Menelisik Ruang Klink Inspektorat Malra

Pengawasan itu bisa dimulai dari proses perencanaan, realisasi anggaran, dan pelaporan.


Inspektorat Malra sebagai institusi pengawasan dinilai melindungi koruptor, ikut terlibat nepotisme, punya banyak uang, punya mobil, punya rumah mewah. Karena itu, institusi ini tidak ada gunanya lagi.c

Kegerahan masyarakat itu sebetulnya dapat dipahami, karena masih banyak dari mereka yang beranggapan bahwa inspektorat sama seperti anjing penjaga (watch dog) yang tugasnya melaporkan jika terjadi ketidakberesan dalam pemerintahan.

Padahal dalam paradigma baru, Insan pengawas ini sebenarnya menjadi Strategic Partner yang membantu pimpinan dan jajaran manajemen untuk menyelesaikan berbagai permasalahan penyelenggaraan pemerintahan.

Bila kita berbicara soal pengawasan, maka pengawasan itu bukanlah tanggung jawab institusi inspektorat semata, melainkan tanggung jawab masyarakat pada semua elemen.

Pengawasan itu bisa dimulai dari proses perencanaan, realisasi anggaran, dan pelaporan.

Beberapa waktu lalu, saya sengaja membuat survei kecil kecilan tantang profesionalisme auditor, tentang volume kerja mereka, tentang tunjangan para auditor, bahkan tentang kekayaan pegawai inspektorat atau APIP (Aparat Pengawas Internal Pemerintah).

Hal ini bertujuan untuk memberikan gambaran kondisi real di Inspektorat Malra terhadap penilaian negatif masyarakat.

Volume Kerja

Kita lihat saja, dengan sepuluh tenaga fungsionaris auditor, dan lima tenaga P2OPD yang dimiliki Inspektorat Malra. Mereka harus melakukan pemeriksaan dana desa di 192 Ohoi, dengan 192 masalah. Belum lagi mereka melakukan pengawasan keuangan di seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

Artinya, jumlah tenaga auditor yang berjumlah 15 orang, belum mencapai kebutuhan ideal, jika dibandingkan dengan jumlah objek yang diperiksa.

Tunjangan Auditor

Dengan volume kerja APIP yang besar, seharusnya insan pengawas ini didukung dengan tunjangan jabatan fungsional auditor sesuai dengan Perpres nomor 5 tahun 2014, atau dukungan insentif aparat pengawasan internal pemerintah (APIP) seperti yang dilakukan oleh kabupaten lain di Indonesia.

Bila dicermati dengan baik, seorang pegawai atau mantan pegawai Inspektorat Malra sekalipun, terlihat biasa biasa saja. Mereka memiliki harta yang tidak tergolong kaya, tidak punya mobil pribadi atau rumah mewah. Padahal peluang mereka untuk meraup kekayaan sangat terbuka dengan berbagai negosiasi bulus.

Profesionalisme Auditor

Sejak menjadi sekertaris desa, saya dua kali diperiksa sebagai verifikator adminstrasi keuangan desa. Untuk dana desa, biasanya auditor memeriksa soal Buku khas Umum, Rekening Koran, SPP, Bukti kwitansi, realisasi kegiatan bahkan, dilakukan audit lapangan.

Saat itu, kita diperhadapkan dengan insting seorang auditor yang penuh dengan pertanyaan dan analisis tajam.

Saya saksikan sendiri, para auditor itu tidak langsung percaya dengan omong kosong saya. Dia akan melakukan semacam critical assessment (penilaian kritis), lalu mempertanyakan validitas bukti, keaslian bukti, mempertanyakan hal-hal yang mencurigakan, dan melakukan observasi. Setelah itu, dia melakukan evaluasi cermat, dan membuat kesimpulan konservatif terhadap kewajaran laporan keuangan.

Berdasarkan semua yang telah dikemukakan, maka saya berkesimpulan bahwa institusi pengawas seperti Inspektorat, bukannya bersikap apatis, tidak berbuat, tidak profesional. Tetapi jauh dari anggapan itu, insan-insan APIP ini telah bertindak sejalan dengan apa yang dipikirkan masyarakat itu sendiri.

Namun memang perlu dilakukan beberapa tindakan perbaikan seperti membuat regulasi yang dapat memperkuat tugas dan fungsi APIP.

Selain itu, institusi pengawas ini perlu membuat kegiatan gelar pengawasan dana desa, atau semacamnya, mengingat jumlah dana desa yang besar setiap tahun.

Kegiatan itu bertujuan untuk meningkatkan kemampuan aparatur desa dalam memahami proses pelaksanaan, penatausahaan, dan pelaporan dengan baik, hemat, terarah dan terkendali serta dapat dipertanggung jawabkan secara adminstrasi, teknis dan hukum.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU