Menghidupi Keluarga dari Dalam Tembok Lapas

Atas hasil pekerjaan ini, warga binaan akan mendapat upah. Upah yang didapatkan pun lantas bukan untuk biaya hidup keseharian mereka di Lapas, melainkan dikirim ke masing-masing keluarga untuk menyambung hidup mereka.

“Uang yang katong (kami) dapat dari cetak tela ini, katong kirim untuk anak dan istri di rumah,” katanya.

Nuansa hati terasa begitu berbeda, baik dari penghuni baru atau pun penghuni lama saat berhadapan dengan kondisi Lapas maupun pekerjaan yang ada.

Beta (saya) baru masuk disini jadi masih penyesuaian diri walau sebenarnya beta biasa kerja begini,” ujar salah satu tahanan, LN.

Sebaliknya warga binaan lama IR, mengatakan bahwa dirinya sejak 5 bulan terakhir telah terbiasa dengan kondisi yang dihadapi. Meski diakuinya, pula terkadang amat terasa pilu karena jauh dari keluarga.

“Perasaan ya seperti biasanya saja. Memang ada suasana yang berbeda tapi sejak ada di dalam Lapas ini telah menyadarkan dan mengajarkan kepada kami arti kehidupan. Terima kasih untuk semua arti ajaran ini,” ucap IR.

Mentalitas dan kemandirian kreativitas warga binaan ini ternyata tidak lepas dari penanganan pihak lapas. Pembinaan spiritualitas, sosial, budaya hingga pelatihan bagi warga binaan intens dilakukan.

Kondisi itu pula dibarengi niat dan wujud tindak laku warga binaan untuk mau mandiri.

“Semua ini kami lakukan agar saat keluar dari sini mereka sudah punya keterampilan. Sehingga tidak kembali lagi melakukan kejahatan,” kata Kepala Lapas Tual, Kodir, saat ditemui di ruang kerjanya.

Kepala Lapas Tual, Kodir. Foto/Gerry Ngamel

Sayangnya, pendanaan dan sarana penunjang kreativitas sangat terbatas. Akhirnya, pihak Lapas pun selektif memilih pekerja.

“Dari warga yang ada, kami rekrut berdasarkan bakat minat mereka. Kalau memang mereka serius mau belajar mandiri serta berminat menambah ketrampilan, seperti berkebun, cetak tela, dan lainnya itu maka pasti kami arahkan ke sana,” ujarnya.

Dari berbagai produk hasil kerja warga binaan, produksi batu bata menjadi program industri unggulan Lapas, meski tak populer.

“Tela (bata) ini kan suatu kebutuhan bangunan yang pasti sangat dibutuhkan. Pastinya dengan ini, akan ada banyak kontribusi positif perputaran modal produksi,” imbuhnya.

Hanya saja, pihak Lapas masih terhambat jalur penjualan hasil produksi bata buatan warga binaan. 

“Kalau saja ada pemesan atau konsumen yang banyak, premi untuk warga binaan akan lebih besar lagi. Sehingga tentu bisa membantu keluarga mereka yang ada di rumah,” imbuhnya. (gerryngamel/tarsissarkol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU