Mengusung peran penting Tanah Papua sebagai benteng terakhir hutan tropis Indonesia, pusat keanekaragaman hayati dunia, dan kawasan strategis aksi iklim, forum kolaborasi multipihak ini akan menghimpun sekitar 500 peserta. Para peserta terdiri atas pejabat pemerintah pusat dan daerah, tokoh masyarakat adat, akademisi, sektor swasta, filantropi, serta mitra pembangunan internasional.
Sorong, suaradamai.com – Tanah Papua bersiap menjadi pusat perhatian pembangunan berkelanjutan nasional dan internasional.
Lebih dari 50 organisasi masyarakat sipil bersama Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya akan menggelar konferensi akbar PAPEDA Summit 2026 (Papua Action for Development, Economy, and Sustainable Nature) yang dijadwalkan berlangsung pada 2 hingga 4 September 2026 di Kota Sorong, Papua Barat Daya.
Mengusung peran penting Tanah Papua sebagai benteng terakhir hutan tropis Indonesia, pusat keanekaragaman hayati dunia, dan kawasan strategis aksi iklim, forum kolaborasi multipihak ini akan menghimpun sekitar 500 peserta.
Para peserta terdiri atas pejabat pemerintah pusat dan daerah, tokoh masyarakat adat, akademisi, sektor swasta, filantropi, serta mitra pembangunan internasional.
Transformasi Ekonomi Berbasis Alam (Ekonomi Restoratif)
Tanah Papua menyimpan sekitar 34,2 juta hektare hutan primer, 1,6 juta hektare mangrove, serta 11 gigaton cadangan karbon. Meskipun alokasi dana Otonomi Khusus (Otsus) sejak tahun 2001 telah melebihi Rp1.000 triliun dan diperkuat melalui Rencana Induk Percepatan Pembangunan Papua (RIPPP) 2022–2041, berbagai tantangan ketimpangan ekonomi, kemiskinan (18,1%), stunting, dan layanan dasar masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
PAPEDA Summit 2026 dirancang untuk menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan Ekonomi Restoratif (New Nature Economy). Pendekatan ini diperkirakan mampu menghasilkan potensi nilai ekonomi sebesar Rp65 hingga Rp130 triliun per tahun melalui sektor agroforestri, perikanan berkelanjutan, ekowisata, dan pembiayaan jasa lingkungan.
Konferensi akbar ini menargetkan pencapaian strategis:
- Deklarasi Sorong 2026 sebagai komitmen bersama perlindungan hutan dan laut.
- Percepatan pengakuan hak masyarakat adat, Hutan Adat, dan Perhutanan Sosial.
- Peluncuran inisiatif pendanaan Cenderawasih Trust Fund.
- Peluncuran platform peningkatan kapasitas komunitas “Tong Belajar”.
- Perumusan rekomendasi kebijakan pembangunan terpadu berbasis ekosistem (ridge-to-reef approach).
Struktur Acara dan Tokoh-Tokoh Penting
Konferensi selama tiga hari ini terbagi dalam 6 sesi Plenary dan 15 sesi Parallel dengan menghadirkan sekitar 100 pembicara dan moderator:
Hari 1 (Rabu, 2 September 2026): Kepemimpinan & Komitmen: Fokus pada konsolidasi kebijakan nasional-daerah, evaluasi tata kelola Otsus & RIPPP, serta komitmen iklim. Dijadwalkan menghadirkan Menko Pangan Zulkifli Hasan, Mendagri Tito Karnavian, Utusan Khusus Presiden Hashim Djojohadikusumo, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Hari 2 (Kamis, 3 September 2026): Masyarakat Adat & Ekosistem: Fokus pada pengakuan Hutan Adat, kedaulatan pangan lokal (sagu dan agroforestri), energi terbarukan skala kampung, ekowisata, serta tata kelola laut. Menghadirkan tokoh seperti Sekjen AMAN Rukka Sombolinggi, Tokoh Perempuan Adat Papua Yustina Ogoney, serta jajaran kementerian terkait.
Hari 3 (Jumat, 4 September 2026): Pembiayaan & Ekonomi Masa Depan: Fokus pada blended finance, pasar karbon hijau-biru, ekonomi biodiversitas, kewirausahaan adat, dan kemitraan global. Menghadirkan Menteri Investasi/Hilirisasi Rosan Roeslani, pimpinan LSM, filantropi global, dan perwakilan negara mitra (Norwegia, Inggris, Jerman).
Editor: Labes Remetwa







