Penyakit GERD, Samakah dengan Maag? Ini Penyebab, Gejala dan Pencegahannya

Ikuti suaradamai.com dispot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Di Indonesia, 24,8 persen dari populasi atau 1 dari 4 penduduk mengalami GERD.


Langgur suaradamai.com – Gastroesophageal reflux disease (GERD) merupakan salah satu penyakit pencernaan yang disebabkan oleh asam lambung yang naik ke kerongkongan.

GERD dan maag, samakah?

Banyak masyarakat yang mengira bahwa maag dan GERD merupakan jenis penyakit yang sama. Padahal, keduanya merupakan jenis penyakit yang berbeda.

Dilansir dari detikhealth, dokter spesialis penyakit dalam, dr Rabbinu Rangga Pribadi, SpPD menyebut, GERD dan maag adalah dua hal yang berbeda. GERD merupakan keadaan asam lambung naik ke kerongkongan, sedangkan maag dalam pengertian awam adalah penyakit radang pada lambung.

Di Indonesia, 24,8 persen dari populasi atau 1 dari 4 penduduk mengalami GERD.

Penyebab

GERD terjadi karena adanya kelemahan katup antara kerongkongan dan lambung.

Sejumlah faktor yang menyebabkan meningkatkan risiko GERD adalah berat badan berlebih, merokok, mengonsumsi makanan dalam jumlah besar dan makanan pemicu kenaikan asam lambung (kopi, alkohol, cokelat dan makanan yang digoreng).

Selain itu, berbaring setelah makan, mengonsumsi obat, serta kehamilan juga menjadi penyebab munculnya penyakit lambung itu.

Namun, dr Rabbinu mengatakan, salah satu faktor terbesar penyebab GERD adalah stres.

Dia menerangkan, penelitian menunjukkan bahwa stres adalah faktor terbesar dan terburuk gejala GERD, bahkan hampir 50 persen.

Gejala

Sensasi terbakar di dada yang terkadang menjalar ke kerongkongan. Rasa terbakar itu dapat berlangsung selama 2 jam, dan umumnya memberat setelah makan.

Sensasi tersebut bisa juga disertai dengan rasa asam atau pahit di mulut. Selain itu gejala yang muncul juga seperti nyeri dada, sulit menelan, batuk kering, nyeri tenggorokan dan suara serak.

Pencegahannya

Jangan tidur setelah makan. Setidaknya beri jarak 2-3 jam setelah makan agar isi lambung tidak berbalik ke kerongkongan.

Sebaiknya hindari makanan dan minuman yang dapat memicu pengeluaran asam lambung, seperti kopi dan alkohol.

Hindari rokok. Tembakau dalam rokok bisa meningkatkan produksi asam lambung dan melemahkan fungsi katup penghubung antara lambung dan kerongkongan.

Jangan mudah panik dan hindari hal-hal yang bisa membuat stres. Rajin berolahraga dan rutin  berkonsultasi dengan dokter.

Apakah GERD bisa menjadi kanker?

Banyak masyarakat mengira bahwa GERD dapat berkembang menjadi kanker kerongkongan. Meski asam lambung yang naik ke kerongkongan dapat menyebabkan iritasi dalam jangka panjang, GERD yang berkembang menjadi kanker hanya terjadi jika tidak ditangani dengan benar. Persentase terjadinya pun kurang dari 1 persen.

Editor : Labes Remetwa


Baca juga:

Ikuti suaradamai.com dispot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ronald Tethool

Sosok inspiratif yang berhasil memajukan pariwisata Ngurbloat, Kepulauan Kei, Maluku.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU