PWI Malra Desak Polisi Segera Tangkap Pelaku Penganiayaan Wartawan

Ikuti suaradamai.com dispot_imgspot_imgspot_imgspot_img

“Kalau Kepolisian Resor (Polres Malra) lambat maka tentunya kita akan tindaklanjut ke Polda Maluku,” kata Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) Agustinus B. Rahakbauw.


Langgur, suaradamai.com – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) Agustinus B. Rahakbauw mendesak aparat kepolisian agar segera menangkap pelaku penganiayaan terhadap jurnalis Carang TV, Yoseph (Oce) Leisubun.

Rahakbauw menilai, kasus penganiayaan yang terjadi di Langgur, Maluku Tenggara, Maluku, pada Senin (25/9/2023), telah menciderai kebebasan pers yang diatur dalam UU No. 40 tahun 1999 tentang pers.

“Saya selaku Ketua PWI Maluku Tenggara, mendesak Kapolres Maluku Tenggara untuk segera menuntaskan kasus pemukulan terhadap saudara kita Oce Leisubun,” tegas Rahakbauw ketika dihubungi via telepon, Selasa (26/9/2023).

Rahakbauw mengingatkan, kebebasan pers selain diatur dalam UU No. 40/1999, juga telah ditindaklanjuti dengan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Dewan Pers dengan Kapolri tentang perlindungan kemerdekaan pers dan penegakan hukum dalam kaitan dengan penyalahgunaan profesi wartawan.

“Kalau Kepolisian Resort (Polres) lambat maka tentunya kita akan tindaklanjut ke Polda Maluku,” tandas Rahakbauw.

Untuk diketahui, Rahakbauw saat ini berada di Kota Bandung, mengikuti agenda Kongres PWI. Ketua PWI Kota Tual Abdullah Tusiek yang juga hadir dalam kegiatan tersebut, telah menyampaikan kejadian penganiayaan di Langgur.

Kronologi penganiayaan wartawan Carang TV

Kontributor Carang TV Yoseph (Oce) Leisubun mendapat ancaman dan penganiayaan oleh empat oknum berlagak preman, di Kompleks Pemda, Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku, Senin (25/9/2023).

Leisubun memastikan, perlakuan yang dia terima ada hubungannya dengan berita yang dia tulis. Materi berita adalah kasus Bupati Malra, yang disoroti Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Maluku Tenggara dan Forum Masyarakat Maluku Tenggara (Formama Tenggara).

Sebelumnya, Pemuda Katolik dan Formama Tenggara angkat bicara lewat konferensi pers. Mereka menyoroti kasus dugaan kekerasan seksual yang dilakukan oleh Bupati Malra M. Thaher Hanubun.

Kejadian penganiayaan terhadap wartawan yang juga bekerja pada media TualNews.com itu, berawal dari ancaman melalui telepon sekitar pukul 17.30 WIT. Oknum atas nama Denis Renmaur menelepon Reny Bunga, istri Leisubun dan menyampaikan ancaman. Saat itu, Leisubun tidak di rumah dan meninggalkan telepon genggamnya.

“Bilang Oce itu, saya ini Denis. Istri saya langsung mematikan panggilan,” ujar Leisubun menceritakan ancaman awal.

Leisubun kembali ke rumah sekitar pukul 18.20 WIT. Mendengar cerita dari istrinya, dia kemudian menutup usaha kios sembako miliknya dan beristirahat.

Tidak berselang lama, Denis dan tiga temannya sudah berada di depan rumah. 

“Mereka datang langsung Denis masuk rumah lalu bicara soal pemberitaan. Setelah itu, saya dipukul,” kata Leisubun.

Beruntung Ia menghindari pukulan itu, tetapi sempat terkena di bagian dagu sebelah kanan. 

“Kami sempat baku melawan soal berita itu. Berita terkait jumpa pers Forum Masyarakat Maluku Tenggara (Formama Tenggara), begitupula Pemuda Katolik,” jelas Leisubun. 

“Dia masuk dalam rumah. Kita adu mulut dari ruang tamu sampai ke dapur,” jelas Leisubun.

Leisubun melanjutkan, Denis kemudian memintanya untuk stop tulis berita tersebut karena berkaitan dengan piring nasinya.

Karena ditekan, Leisubun mengaku setuju tidak akan menulis lagi, supaya Denis bisa tenang dan mau pergi tinggalkan rumahnya. Apalagi saat itu, di rumahnya ada ibunya yang sakit dan istrinya yang takut dan tegang.  

Leisubun yakin, ancaman dan penganiayaan yang ia terima berkaitan dengan pemberitaan. Ia mengaku tidak punya masalah pribadi dengan Denis. Hanya Denis menekankan berkali-kali tentang piring nasinya. Denis juga kemudian menjamin bahwa dia bisa mempertemukan Leisubun dan Bupati Malra Thaher Hanubun.

Leisubun diarahkan oleh Denis ke kediaman Bupati Malra di Kota Tual. Di sana, mereka sempat bertemu bupati tetapi tidak ada pembicaraan soal pemberitaan atau ancaman dan kejadian penganiayaan.

Usai bertemu Bupati, Leisubun bersama sejumlah rekan pers dan aktivis kemudian melapor kejadian ancaman dan penganiayaan tersebut ke Polres Maluku Tenggara. Rekan-rekan wartawan dan aktivis juga ikut mengawal sampai pemeriksaan visum di RSUD Karel Sadsuitubun Langgur. Mereka bubar dari Polres Malra sekitar pukul 03.30 dini hari, Selasa (26/9/2023).

Leisubun menjalani pemeriksaan lanjutan di Satreskrim Polres Maluku Tenggara, Selasa (26/9/2023).

Editor: Labes Remetwa


Baca juga:

Ikuti suaradamai.com dispot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ronald Tethool

Sosok inspiratif yang berhasil memajukan pariwisata Ngurbloat, Kepulauan Kei, Maluku.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU