Renungan Katolik 16 September 2026: Yang Terbesar di Antaranya Ialah Kasih

Bacaan I: 1Kor 12:31–13:13

Bacaan Injil: Lukas 7:31–35

PW St. Kornelius, Paus, dan St. Siprianus, Uskup dan Martir
Warna Liturgi: Merah


SUARADAMAI.COM –  Ada banyak hal yang dianggap penting dalam kehidupan: kemampuan, pengetahuan, kedudukan, keberhasilan, pelayanan, bahkan berbagai karunia rohani. Namun Sabda Tuhan hari ini membawa kita kembali kepada sesuatu yang jauh lebih mendasar.

Rasul Paulus menyebut tiga hal yang tetap tinggal: iman, harapan, dan kasih. Lalu ia memberikan penegasan yang sangat kuat: yang terbesar di antaranya ialah kasih.

Tanpa Kasih, Semuanya Kehilangan Makna

Dalam Bacaan Pertama, Rasul Paulus berbicara dengan sangat tegas kepada jemaat di Korintus.

Seseorang dapat memiliki kemampuan berbicara yang luar biasa. Ia dapat mempunyai pengetahuan yang luas, memahami berbagai rahasia, bahkan memiliki iman yang besar. Seseorang juga dapat memberikan banyak dari apa yang dimilikinya kepada orang lain.

Namun semua itu, kata Paulus, kehilangan maknanya apabila tidak disertai kasih.

Pesan ini mengajak kita memeriksa kembali kehidupan kita sendiri.

Kita mungkin aktif dalam pelayanan, rajin berdoa, mempunyai banyak pengetahuan tentang iman, atau dikenal sebagai orang yang suka membantu. Tetapi kehidupan Kristiani tidak hanya diukur dari apa yang kita lakukan. Yang juga penting adalah dengan hati seperti apa kita melakukannya.

Apakah semuanya dilakukan karena kasih? Ataukah masih ada keinginan untuk dipuji, dihormati, dianggap penting, atau mendapatkan sesuatu bagi diri sendiri?

Kasih Bukan Sekadar Perasaan

Paulus tidak menggambarkan kasih sebagai sesuatu yang abstrak. Ia menunjukkan wajah kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Kasih itu sabar. Kasih itu murah hati. Kasih tidak cemburu. Kasih tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kasih tidak cepat marah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Di sinilah Sabda Tuhan menjadi sebuah cermin bagi kita.

Mudah mengatakan bahwa kita mengasihi seseorang ketika hubungan berjalan baik. Tetapi kasih yang sesungguhnya justru diuji ketika keadaan menjadi sulit.

Apakah kita masih mampu bersabar ketika seseorang mengecewakan kita?

Apakah kita mampu mengampuni ketika terluka?

Apakah kita dapat bersukacita ketika orang lain berhasil?

Apakah kita masih menyimpan kesalahan seseorang bertahun-tahun di dalam hati?

Kasih Kristiani bukan sekadar perasaan nyaman terhadap orang lain. Kasih adalah keputusan untuk tetap menghadirkan kebaikan, bahkan ketika mengasihi tidak mudah.

Ketika Apa Pun yang Dilakukan Selalu Salah

Injil hari ini memperlihatkan persoalan lain yang sangat dekat dengan kehidupan manusia.

Yesus menggambarkan orang-orang pada zaman-Nya seperti anak-anak yang duduk di pasar. Ketika seruling dimainkan, mereka tidak mau menari. Ketika kidung duka dinyanyikan, mereka juga tidak mau menangis.

Yohanes Pembaptis datang dengan kehidupan yang keras dan penuh pertobatan. Orang-orang menuduhnya kerasukan setan.

Kemudian Yesus datang, makan dan minum serta mendekati para pemungut cukai dan orang berdosa. Mereka pun mengkritik-Nya.

Apa pun yang dilakukan, selalu ada alasan untuk menolak.

Sikap seperti ini ternyata dapat tumbuh juga dalam kehidupan kita.

Seseorang diam, kita menuduhnya tidak peduli. Ia berbicara, kita mengatakan ia terlalu banyak bicara.

Seorang pemimpin bersikap tegas, kita menyebutnya keras. Ketika ia memberi kelonggaran, kita menilainya lemah.

Orang lain berhasil, kita mencari kekurangannya. Ketika ia gagal, kita merasa penilaian kita selama ini terbukti benar.

Pada titik tertentu, persoalannya mungkin bukan lagi pada orang lain, tetapi pada hati kita yang sudah terbiasa mencari kesalahan.

Mengoreksi Tanpa Membenci

Kasih bukan berarti membenarkan semua tindakan orang lain. Kasih juga tidak berarti kita harus diam terhadap kesalahan dan ketidakadilan.

Justru kasih membuat kita mampu berdiri pada kebenaran tanpa kehilangan penghormatan terhadap martabat manusia.

Kita dapat mengoreksi tanpa menghina.

Kita dapat berbeda pendapat tanpa bermusuhan.

Kita dapat mengatakan bahwa sesuatu itu salah tanpa membenci orang yang melakukannya.

Kita dapat memperjuangkan kebenaran tanpa menjadikan orang lain sebagai musuh yang harus dihancurkan.

Inilah salah satu tantangan terbesar kehidupan bersama: bagaimana tetap berbeda tetapi tidak kehilangan kasih.

Belajar dari Santo Kornelius dan Santo Siprianus

Pada 16 September, Gereja memperingati Santo Kornelius, Paus, dan Santo Siprianus, Uskup dan Martir.

Keduanya dikenang sebagai saksi iman Gereja perdana yang mempertahankan kesetiaan kepada Kristus sampai menghadapi kemartiran.

Peringatan mereka mengingatkan kita bahwa kasih Kristiani bukan sekadar rangkaian kata-kata indah. Kasih membutuhkan kesetiaan, keberanian, pengorbanan, dan keteguhan.

Kita mungkin tidak dipanggil untuk menjadi martir dengan menumpahkan darah. Namun setiap hari kita dapat menghadapi suatu bentuk “kemartiran kecil”.

Kita mematikan ego ketika memilih meminta maaf terlebih dahulu.

Kita mengalahkan keinginan membalas ketika memilih mengampuni.

Kita mengorbankan kenyamanan ketika membantu seseorang yang membutuhkan.

Kita menahan diri untuk tidak menyebarkan cerita buruk tentang orang lain.

Kita tetap melakukan kebaikan meskipun tidak mendapat ucapan terima kasih.

Di sanalah kasih memperoleh bentuknya yang nyata.

Apakah Orang Lain Merasakan Kasih Kristus Melalui Kita?

Sabda Tuhan hari ini akhirnya membawa kita kepada sebuah pertanyaan pribadi:

Apakah orang lain dapat merasakan kasih Kristus melalui cara kita memperlakukan mereka?

Bukan hanya melalui kata-kata rohani yang kita ucapkan, tetapi melalui kesabaran kita.

Bukan hanya melalui doa yang kita panjatkan, tetapi melalui kesediaan kita mengampuni.

Bukan hanya melalui pelayanan yang terlihat oleh banyak orang, tetapi melalui kebaikan-kebaikan kecil yang mungkin tidak pernah diketahui siapa pun.

Banyak hal yang kita kejar dalam kehidupan pada akhirnya akan berlalu.

Jabatan akan berakhir. Kekayaan dapat hilang. Kemampuan manusia akan berkurang. Pujian orang akan dilupakan.

Tetapi kasih tidak berkesudahan.

Karena itu, ketika hari ini kita harus memilih antara memenangkan pertengkaran atau menjaga persaudaraan, antara membalas atau mengampuni, antara mementingkan diri sendiri atau menolong sesama, ingatlah kembali pesan Rasul Paulus:

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini: iman, harapan dan kasih; namun yang terbesar di antaranya ialah kasih.”

Doa

Tuhan Yesus, Engkau telah mengasihi kami terlebih dahulu.

Ajarlah kami mengasihi bukan hanya dengan perkataan, tetapi melalui kehidupan kami.

Berilah kami kesabaran ketika menghadapi kelemahan sesama, kemurahan hati ketika melihat orang yang membutuhkan, kerendahan hati ketika kami berhasil, serta kekuatan untuk mengampuni ketika kami terluka.

Jauhkanlah kami dari hati yang mudah menghakimi, mencari kesalahan, dan menyimpan kepahitan.

Melalui teladan Santo Kornelius dan Santo Siprianus, teguhkanlah iman kami agar tetap setia kepada-Mu dalam segala keadaan.

Semoga dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan setiap perjumpaan kami hari ini, orang lain dapat mengalami kasih-Mu melalui diri kami.

Amin.


Bagikan:

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Populer

Artikel terkait

Sinergi Pemprov Maluku dan Pemkab Aru Dorong Gerakan Posyandu Aktif 6 SPM, Wokam Jadi Contoh

‎‎Dobo, suaradamai.com - Ketua Tim Penggerak (TP) Posyandu Provinsi...

Polikant Susun RPJP 2025–2045, Siapkan Arah Pembangunan Kampus Dua Dekade ke Depan

Polikant mulai menyiapkan peta jalan pembangunan hingga 2045. Melalui...

UKM Kewirausahaan Polikant Tuntaskan Intervensi PPK Ormawa 2026, Bangun Model Penguatan UMKM dari Ohoi Namar

Ketika kemasan terlambat datang dari Jawa, produksi enbal semprong...

Wabup Joko Lingara Ajak Warga Tertib Administrasi Kependudukan

Dukcapil Teluk Bintuni gelar sosialisasi pencatatan sipil dengan narasumber...