Riset Polikant: Bahan Bakar (Biofuel) dari Mikroalga (Plankton)

Dosen sekaligus peneliti di Politeknik Perikanan Negeri Tual Dr. Cenny Putnarubun melakukan riset/penelitian biofuel (biodiesel dan bioethanol) sejak 2008. Hingga kini, ia sudah memiliki dua paten untuk itu. Pada tahun 2013, ia melakukan ujicoba pada kendaraan roda dua dan berhasil.


Langgur, suaradamai.com – Dr. Cenny Putnarubun, dosen sekaligus peneliti di Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant), menemukan bahan bakar (biofuel) yang terbuat mikroalga (plankton).

Lulusan S3 Universitas Padjadjaran itu telah melakukan penelitian sejak 2008. Ia berangkat dari menipisnya cadangan minyak bumi (fosil) di dunia, sehingga harus mencari energi alternatif atau energi terbarukan. Pilihannya adalah biofuel dari mikroalga.

Menurut Putnarubun, pembuatan biofuel dari mikroalga ini mudah dan tidak butuh waktu yang lama. “Kurang lebih 2-3 minggu sudah bisa dapat biodiesel dan bioethanol,” kata Putnarubun menjelaskan lama pembuatan biofuel mulai dari awal hingga menghasilkan produk jadi.

Secara singkat Putnarubun menjelaskan pembuatan biofuel. Awalnya, mengambil sampel mikroalga di laut. Sampel ini dibawa ke laboratorium untuk memilih spesies tertentu dan dikultur/dipelihara. Dari laboratorium, dibudidayakan lagi dalam skala lebih besar. Setelah mencapai kepadatan yang tepat, mikroalga dipanen.

Sampel bioethanol. Hasil penelitian Dr. Cenny Putnarubun, Dosen sekaligus peneliti di Politeknik Perikanan Negeri Tual. Senin (28/3/2022). Foto: Labes Remetwa
Sampel bioethanol. Hasil penelitian Dr. Cenny Putnarubun, Dosen sekaligus peneliti di Politeknik Perikanan Negeri Tual. Senin (28/3/2022). Foto: Labes Remetwa

Proses selanjutnya kembali ke laboratorium. Mikroalga itu dipadatkan, hingga menjadi pasta. Kemudian dikeringkan menjadi tepung. Tepung inilah yang digunakan untuk membuat biodiesel dan bioethanol. Melalui proses fermentasi, tepung tadi menjadi bioethanol. Sementara melalui perlakuan tertentu, tepung itu diubah menjadi biodiesel.

“Untuk mendapat biodiesel, kita ambil lemak. Untuk dapat bioethanol, kita ambil karbohidrat,” jelas Putnarubun kepada Suaradamai.com, di ruang kerjanya baru-baru ini.

Dosen Program Studi Bioteknologi itu menambahkan, banyaknya bioethanol dan biodiesel yang dihasilkan tergantung dari jenis mikroalga. Ada mikro alga yang bisa menghasilkan 60 persen bioethanol, ada yang 50 persen, ada juga yang 20 persen. Pemilihan jenis mikroalga berperan penting dalam jumlah produksi biofuel.

Selama ini, Putnarubun coba memproduksi biofuel dari berbagai jenis mikroalga. Ia pernah menghasilkan 400 ml biodiesel dan 200 ml bioethanol dari 1 kg tepung mikroalga.

“Dari 1 ton air, kita bisa dapat 1-2 kg tepung mikroalga,” tambah Putnarubun.

Hingga kini, Putnarubun sudah memiliki dua paten untuk bahan bakar, yakni pembuatan bensin dan solar dari mikroalga, dan pembuatan bensin dari rumput laut. Pada tahun 2013, ia melakukan ujicoba pada kendaraan roda dua dan berhasil.

Walau begitu, Putnarubun mengatakan masih harus melakukan uji lanjutan apakah hasil penelitiannya ini masuk standar nasional untuk bahan bakar.

Editor: Labes Remetwa


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU