Rumah Belajar Asmat, Aksi Pendidikan Berantas Buta Huruf Generasi Asmat

“Tiap hari di sekolah anak anak makan, minum baru belajar. Biasanya juga anak anak bawa pulang beras, minyak, sabun,” tutur Amatus Biyini, salah satu orang tua peserta didik.


Agats, Suaradamai.com – Siapa sangka masih banyak masalah pendidikan di Indonesia yang harus segera diselesaikan, terutama pada sekolah marginal dengan lokasi terpencil, dan sekolah kecil. Fenomena ini mudah ditemukan jika kita berkunjung ke sekolah-sekolah pedalaman atau sekolah sekolah pinggiran yang kebanyakan berstatus non-favorit di Asmat Provinsi Papua Selatan.

Walau demikian, kompleksitas masalah pendidikan tersebut tidak menghalangi pemerintah daerah setempat untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah sekolah tersebut. Kreativitas yang sederhana pun bisa menginspirasi anak-anak untuk mau belajar.

Melalui Dinas Pendidikan, Bidang PAUD dan Pendidikan Non Formal (PNF) Asmat, satu persatu dukungan tersebut berusaha dipenuhi. Pada tanggal 24 April 2013, dan pada 16 Agustus 2022 dibentuk KB. Cahaya Kasih Bunda (CKB), dan KB. Ji Ate Cem yang bertugas menjadi jembatan antara putera Puteri Asmat yang termarjinal dengan satuan pendidikan melalui program Pemberantasan Buta Huruf (PBH).

Rumah Belajar, KB. Cahaya Kasih Bunda Asmat. Sumber Foto: Petter Letsoin

KB. Cahaya Kasih Bunda punya kelas khusus untuk anak anak dengan kemampuan membaca yang terbatas. Namanya Rumah Belajar Asmat. Konsep pembelajaran di tempat ini pun tidak asal. Rumah belajar ini memberikan pengetahuan kepada peserta didik dengan cara bermain sambil belajar yang merupakan cara efektif untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak.

Sesuai pengamatan jurnalis suaradamai.com, kegiatan membaca merupakan salah satu kegiatan dasar dan wajib dilakukan. Hal itu dimaksudkan agar dapat mendorong minat baca anak anak pada rumah belajar tersebut.

Untuk proses pembelajaran telah dibagi menjadi dua rombongan belajar (Rombel). Untuk Kelompok Bermain (KB) digelar setiap hari senin hingga sabtu dari pukul 08.00 sampai pukul 11.15 WIT. Sedangkan untuk Rumah belajar digelar setiap hari kamis hingga minggu dari pukul 14.00 sampai 17.00 WIT. Anak anak yang belajar di rumah belajar Asmat rata rata beranjak usia sekolah Formal.

Para siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah inipun tidak dipungut biaya sedikitpun alias gratis, bahkan pemerintah setempat memberikan bantuan makanan untuk membantu pemulihan gisi anak anak.

“Tiap hari di sekolah anak anak makan, minum baru belajar. Biasanya juga anak anak bawa pulang beras, minyak, sabun,” tutur Amatus Biyini, salah satu orang tua peserta didik.

Selain itu, Alo Bimo, salah satu orang tua yang ditemui mengungkap fakta bagaimana perlakuan para guru dan pengajar terhadap anak anak mereka di sekolah.

“Guru guru disini baik baik. Kita percaya. Anak anak tahu baca, tulis dan bisa lanjut ke SD. Sore sore biasanya ada senam untuk mereka. Kalau ada anak anak yang tidak ke sekolah, guru guru biasanya menjemput di rumah,” ujar Alo.

Ia juga mengapresiasi kehadiran rumah belajar Asmat, karena membantu anak anak pada wilayah tersebut untuk mendapat pendidikan yang layak dan dapat menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

“Sekolah ini sangat membantu anak anak kami. Banyak yang sudah lanjut sekolah ke Jayapura, Wamena, Merauke. Ada yang sudah mau sarjana,” cerita Alo.

Diketahui, mayoritas anak anak yang sekolah di rumah belajar Asmat merupakan anak anak dari kawasan padat penduduk di komplek pasar dolog, kampung bis Agats, Asmat. Rata rata penduduknya adalah masyarakat urban yang berpindah dari kampung ke kota untuk mencari nafkah yang lebih baik.


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU