Tak Sekadar Mie, Produk PBL THP Polikant Padukan Enbal dan Lat untuk Pangan Bergizi

Tak sekadar menjadi mi, inovasi mahasiswa THP Polikant memadukan embal dan lat (Caulerpa) menjadi pangan lokal bernilai tambah yang berpotensi dikembangkan sebagai produk UMKM.


Langgur, Suaradamai.com – Program Project Based Learning (PBL) Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP) Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) menghasilkan inovasi pangan berbasis bahan lokal berupa mie enbalat yang memadukan tepung enbal dengan rumput laut lat (Caulerpa).

Inovasi tersebut dikembangkan mahasiswa THP dalam kegiatan PBL Semester Genap Tahun Akademik 2025–2026. Produk mie enbalat diharapkan tidak hanya menjadi hasil pembelajaran mahasiswa, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai produk pangan bernilai tambah dan peluang usaha bagi masyarakat.

Manajer PBL THP Polikant, Ir. Fien Sudirjo, M.Sc., mengatakan pengembangan mie enbalat berangkat dari potensi pangan lokal Kabupaten Maluku Tenggara yang dinilai memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan.

Hal itu disampaikannya di Laboratorium Pengolahan Polikant, Rabu (5/8/2026), di sela-sela kegiatan produksi mi enbalat.

“Pada pelaksanaan PBL kali ini, kami mengangkat potensi pangan lokal Kabupaten Maluku Tenggara, yakni lat (Caulerpa) dan enbal. Kedua komoditas ini memiliki potensi yang sangat besar, namun inovasi pengolahannya masih perlu terus dikembangkan,” kata Fien.

Menurut dia, kedua komoditas tersebut memiliki potensi yang besar, namun inovasi dalam pengolahannya masih perlu terus dikembangkan. Karena itu, mahasiswa didorong untuk mengembangkan kreativitas melalui diversifikasi pangan lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Fien mengatakan pengembangan produk tersebut membawa semangat From Local to Global, yakni mendorong pangan lokal yang sederhana agar dapat diolah menjadi produk berkualitas sehingga memiliki peluang diterima di pasar yang lebih luas.

“Semangat yang kami usung adalah From Local to Global, yaitu bagaimana pangan lokal yang sederhana dapat diolah menjadi produk berkualitas yang mampu diterima tidak hanya di Kepulauan Kei, tetapi juga di pasar nasional, bahkan berpotensi menembus pasar internasional,” ujarnya.

Menggunakan Tepung Lulun

Salah satu hal yang membedakan produk mi enbalat tersebut adalah penggunaan tepung yang diolah dari lulun sebagai bahan baku utama.

Fien menjelaskan, selama ini pembuatan mi berbahan lokal umumnya menggunakan tepung mocaf. Dalam PBL kali ini, mahasiswa dan dosen mencoba pendekatan berbeda dengan memanfaatkan tepung yang berasal dari lulun.

“Salah satu inovasi yang berhasil dikembangkan adalah mie enbalat. Selama ini, pembuatan mie berbahan lokal umumnya menggunakan tepung mocaf. Namun, kami mencoba menghadirkan pendekatan berbeda dengan memanfaatkan tepung yang diolah dari lulun sebagai bahan baku utama,” katanya.

Selain tepung lulun sebagai bahan baku utama, mi tersebut juga diperkaya dengan fortifikasi rumput laut lat (Caulerpa).

“Selain itu, produk ini diperkaya dengan fortifikasi rumput laut lat (Caulerpa) sehingga tidak hanya menjadi sumber karbohidrat, tetapi juga memiliki nilai gizi yang lebih tinggi,” terangnya.

Fortifikasi lat diharapkan dapat meningkatkan nilai gizi produk. Rumput laut tersebut mengandung berbagai vitamin dan mineral sehingga mi enbalat tidak hanya menjadi sumber karbohidrat, tetapi juga memiliki nilai tambah dari sisi kandungan nutrisi.

Dengan inovasi tersebut, konsumen diharapkan tidak hanya memperoleh sumber energi dari produk mi, tetapi juga mendapatkan asupan nutrisi tambahan dari bahan pangan lokal yang digunakan.

Melibatkan Mahasiswa Semester 2 hingga 6

Kegiatan PBL Semester Genap Tahun Akademik 2025–2026 melibatkan seluruh mahasiswa Program Studi THP Polikant, mulai dari semester 2, 4, hingga semester 6.

Menurut Fien, proses pengembangan produk dimulai melalui diskusi antara dosen dan mahasiswa. Pada tahap awal, dosen memperkenalkan berbagai potensi bahan pangan lokal yang dapat dikembangkan.

Mahasiswa kemudian diberikan ruang untuk menyampaikan gagasan dan ide kreatif mengenai produk yang dapat dihasilkan.

“Meskipun prosesnya didampingi oleh dosen, mahasiswa diberi ruang untuk menyampaikan pendapat, berdiskusi, dan berkontribusi dalam melahirkan sebuah inovasi,” katanya.

Dari berbagai gagasan yang muncul, akhirnya disepakati pengembangan mi enbalat. Produk tersebut merupakan hasil kolaborasi antara mahasiswa dan dosen dengan keterlibatan mahasiswa sejak tahap perencanaan hingga proses produksi.

Model pembelajaran tersebut diharapkan memberikan pengalaman yang lebih utuh kepada mahasiswa. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teoritis, tetapi juga belajar mengembangkan ide, melakukan pengolahan, mengevaluasi produk, hingga menghasilkan produk yang berpotensi diterapkan di masyarakat.

Berpeluang Dikembangkan UMKM

Fien mengatakan pengembangan mi enbalat belum berhenti pada tahap produksi dalam kegiatan PBL. Produk tersebut masih akan terus disempurnakan hingga memperoleh kualitas yang optimal.

Setelah kualitas produk dinilai optimal, tahap selanjutnya adalah mengaplikasikan inovasi tersebut kepada masyarakat.

Polikant juga membuka peluang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berminat mengembangkan mi enbalat sebagai produk usaha.

“Apabila terdapat UMKM yang berminat mengembangkan produk ini, kami siap memberikan pendampingan, khususnya dalam aspek keterampilan produksi, sehingga inovasi ini dapat menjadi peluang usaha yang berkelanjutan,” ujarnya.

Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu pelaku UMKM mengadopsi teknologi dan keterampilan pengolahan yang telah dikembangkan melalui PBL.

Dengan demikian, hasil pembelajaran mahasiswa tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat ditransfer kepada masyarakat dan dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif.

Bekal Berwirausaha

Fien berharap kegiatan PBL dapat memberikan pengalaman belajar yang utuh kepada mahasiswa, mulai dari menggali ide, berdiskusi, melakukan proses produksi, hingga menghasilkan produk inovatif.

Menurutnya, pengalaman tersebut penting agar mahasiswa memiliki kemampuan untuk melihat potensi bahan pangan lokal di daerah masing-masing dan mengubahnya menjadi produk bernilai tambah.

“Ke depan, saya berharap keterampilan yang diperoleh selama mengikuti PBL dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk membangun usaha sendiri,” katanya.

Ia berharap usaha yang dirintis mahasiswa tidak harus langsung dimulai dalam skala besar. Menurutnya, usaha dapat dikembangkan secara bertahap sesuai kemampuan dan peluang pasar.

“Meskipun dimulai dari skala kecil, usaha tersebut diharapkan dapat berkembang dan menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi mereka di masa depan,” ujar Fien.

Melalui inovasi mi embalat, PBL THP Polikant tidak hanya menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mendorong diversifikasi pangan lokal Maluku Tenggara sekaligus membuka peluang pemanfaatan bahan pangan lokal menjadi produk bernilai ekonomi.


Bagikan:

Populer

Artikel terkait

Wali Kota Ambon Minta Generasi Muda Kritis secara Santun: Kritik Pemerintah dengan Etika, Bukan Caci Maki

Wattimena mengibaratkan tata kelola pembangunan Kota Ambon seperti sebuah...

Peringati Hari Masyarakat Adat, OMK Bintuni Tanam Mangrove di Masina

Puluhan anak muda Katolik turun ke Kampung Masina, menanam...

Bupati Kaidel Kenakan Lia Lia, Yuk Intip Warisan Leluhur Aru yang Tak Ditelan Zaman Ini!

Hingga saat ini, Lia lia masih digunakan oleh masyarakat...

Kontraktor OAP Teluk Bintuni Tolak Asosiasi Luar Kerja di Daerah

Kontraktor asli Papua asal Teluk Bintuni buka suara. Mereka...