Wali Kota Tual: Safari Natal 2019 Satukan Dua Daerah Saudara

“Kami anggap safari ini sama saja rasanya seperti di Kota Tual, karena kami satu leluhur, satu suku, satu budaya, satu bahasa Kei dan satu hukum adat Larvul Ngabal,” kata Wali Kota Tual Adam Rahayaan.

Langgur, suaradamai.com   Kegiatan Safari Natal 2019 oleh Gubernur Maluku Murad Ismail di Kepulauan Kei, menjadi momentum terindah sepanjang masa bagi dua daerah administratif di wilayah ini. Sejatinya, momentum ini telah mempersatukan kembali dua kaka beradik sekandung, yakni Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara yang terpisah sejak 10 Juli 2007 melalui pemekaran daerah otonom.

“Momentum Safari Natal kali ini bagi masyarakat Kei memiliki nilai kehormatan yang luar biasa. Oleh karena baru pertama kali dalam sejarah kepemimpinan di Maluku, dua daerah kakak adik dipersatukan oleh Bapak Gubernur Maluku Murad Ismail,” ungkap Wali Kota Tual Adam Rahayaan dalam sambutannya pada gelaran Safari Natal di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara di Jalan Raya Langgur-Debut, Senin (30/12/19).

Bagi Wali Kota Rahayaan, walaupun safari natal ini terpusat di wilayah Pemerintahan Kabupaten Maluku Tenggara, namun tidak sedikitpun mengurangi partisipasi sang adik, dalam hal ini jajaran pimpinan dan ASN lingkup Pemerintah Kota Tual.

“Kami anggap safari ini sama saja rasanya seperti di Kota Tual, karena kami satu leluhur, satu suku, satu budaya, satu bahasa Kei dan satu hukum adat Larvul Ngabal. Bila ditarik ulur ke belakang dalam sejarah Maluku, maka katong semua satu, sehingga biasanya dibilang Maluku satu darah. Demikian pula bila diperluas historinya dalam monteks nusantara, maka katong samua adalah satu bangsa Indonesia,” ujar Wali Kota Tual.

Orang nomor satu Kota Tual ini menegaskan bahwa kekayaan budaya dan nilai historis inilah senantiasa menjadi kekuatan bagi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga stabilitas kamtibmas di kedua daerah ini. Apalagi menurutnya, kekuatan ini pula didorong oleh perhatian khusus Gubernur Maluku yang senantiasa memberikan pesan dan arahan pada setiap rapat koordinasi.

“Atas dasar itulah, kemudian menjadi komitmen kami untuk selalu membangun koordinasi dan partisipasi semua pihak di daerah ini, sehingga suasana perayaan natal tahun ini dapat berlangsung dalam suasana aman, damai dan tenteram, baik di Kota Tual maupun saudara kami di Maluku Tenggara,” katanya.

Wali Kota Tual menyatakan, kondisi yang ada saat ini akan terus dipertahankan, dan akan lebih dioptimalkan dalam sistem kelembagaan pemerintahan daerah.

Senada dengan itu, Bupati Maluku Tenggara M. Thaher Hanubun menyatakan, Maluku Tenggara dan Kota Tual adalah satu kesatuan sebagai saudara sejak dahulu kala, dan sampai kapan pun tak akan pernah terpisahkan.

“Maluku Tenggara tidak akan pernah terlepas dari Kota Tual, karena kedua daerah ini adalah satu yang disebut dengan Kei,” ujar Bupati Malra.

Menurut Bupati, kehadiran sosok pimpinan tertinggi Maluku di Kepulauan Kei dalam momentum perayaan natal merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi seluruh elemen masyarakat di dua daerah ini.

“Masyarakat di dua daerah ini merindukan kehadiran sekaligus sentuhan tangan dan hati dari sosok Gubernur Maluku saat ini bersama istri, untuk membangun negeri Kepulauan Kei ini yang dianggap sebagai daerah yang termiskin,” tutur Bupati.

Bupati berharap, melalui perayaan natal bersama ini akan tumbuh dan berkembang semangat kesatuan kerukunan, persahabatan, persaudaraan dan cinta kasih antar masyarakat di Kepulauan Kei serta Maluku pada umumnya. Sebagaimana tertuang dalam tema natal tahun ini, ‘Hiduplah Sebagai Sahabat bagi Semua Orang’.

“Sebagaimana pula falsafah hidup yang telah ditinggalkan oleh leluhur bagi kehidupan orang Kei bahwa darah yang mengalir di tubuhmu adalah darah yang dilandasi dengan falsafah ain ni ain, manut ain mehe ni tilur ne vu’ut ain mehe ni ngivun. Kamu adalah saya dan saya adalah kamu, jadi tidak boleh saling menyakiti satu dengan yang lain,” ucap Bupati berpesan.

Orang nomor satu Malra mengingatkan, sebagai satu saudara maka masyarakat Kei harus mampu menjaga dan merawat persaudaraan, kerukunan dan harmoni kehidupan serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat merusak tata kehidupan adat-istiadat. (gerryngamel/labesremetwa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU