Maraknya penyalahgunaan lem aibon oleh generasi muda serta tingginya kasus HIV di Teluk Bintuni, Papua Barat, jadi masalah serius bukan hanya bagi pemerintah daerah, tetapi juga orangtua.
Bintuni, suaradamai.com – Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni Yohanis Manobi, mengajak orangtua untuk membantu pemerintah dalam upaya melahirkan generasi muda yang sehat, baik secara fisik maupun mental/jiwa.
Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan materi dalam kegiatan peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang digelar oleh Komunitas Big Noken di Tugu Bintuni Bangkit SP 5, Teluk Bintuni, Papua Barat, Jumat (17/10/2025).
“Bapak Bupati mempunyai mimpi, yaitu yang pertama mewujudkan manusia Bintuni yang sehat. Mimpi ini ditaruh paling pertama untuk kita semua. Baru nanti kemudian enerjik dan lain-lain itu mengikuti dari belakang,” kata Manobi.
Melalui visi tersebut, pemerintah daerah, kata Manobi, ingin memastikan bahwa semua masyarakat Kabupaten Teluk Bintuni dari ujung Moskona Utara sampai dengan Onar, sampai Aroba, harus sehat.
Kendati demikian, bagi Manobi, mimpi itu tidak bisa terwujud tanpa dukungan semua elemen masyarakat. Ia menekankan peran orangtua dan keluarga sangatlah penting dalam mewujudkan hal tersebut.
“Kita mulai dari hal yang paling kecil dulu yaitu mulai dari dalam keluarga. Seperti yang tadi dalam sambutan Pak Bupati, bahwa dari keluarga kita jaga kesehatan kita. Jadi saya mau sampaikan bahwa ketika ada interaksi antara Ibu dan Bapak di dalam rumah, itu harus memberikan pendidikan kesehatan kepada anak-anak. Setiap mau sembahyang malam, sembahyang pagi, sampaikan kepada anak-anak untuk jaga kesehatan,” ujar Manobi.
Jaga Anak-Anak untuk Masa Depan Teluk Bintuni
Dalam konteks sakit mental, lanjut Manobi, singkatnya adalah orang yang berperilaku tidak sewajarnya.
“Kita saat tertawa dia biasa, kita sedih dia malah tertawa. Dia selalu bikin sesuatu yang aneh, atau kalau bahasa sehari-hari kita bilang ‘orang gila’,” jelas Manobi.
Menurut Manobi, upaya penanganan bagi orang yang sakit mental ini berbeda dengan sakit lainnya. Pengobatan orang sakit mental sangat sulit, butuh biaya dan waktu yang tidak sedikit.
Karena itu, ia imbau kepada seluruh elemen masyarakat terutama orangtua, untuk mencegah anak-anak dari pengaruh buruk yang berakibat sakit mental.
“Kalau tidak dijaga dengan baik, dia akan bikin ulah yang lain. Seperti lem untuk lem kayu, dia bawa, cium, terus sampai makan lagi. Kalau dia sudah makan, dia masuk dalam kesehatan [sakit] jiwa. Ini sangat sulit disembuhkan,” tegas Manobi.
Selain maraknya penyalahgunaan lem aibon oleh generasi muda, kasus HIV di Teluk Bintuni juga cukup tinggi. Manobi bilang angkanya sudah mencapai 1.500an kasus. Hal ini jadi masalah serius bukan hanya bagi pemerintah daerah, tetapi juga orangtua.
“Bapak, Mama, kam jaga kam punya anak-anak dorang. Malam itu kalau keluar dari jam 10.00 kam sudah tanya, suruh pulang ke rumah, kembali ke rumah dan kamu pastikan dong sudah tidur. Jangan kasih tinggal dorang sampai pagi baru tanya ‘ini dari mana?’. Itu Bapak dengan Mama tidak bantu pemerintah. Tidak mendukung yang tadi yaitu terwujudnya manusia Bintuni yang sehat,” ujar Manobi.
Manobi pun mengajak para orangtua untuk menjaga anak-aanaksebagai generasi penerus Tanah Sisar Matiti.
“Kita generasi ini, generasi yang sebentar lagi kita sudah meninggal. Tetapi anak-anak ini, mereka akan melanjutkan pembangunan di Kabupaten Teluk Bintuni. Untuk itu, tanggungjawab semua orang, Bapak, Mama, jaga anak-anak kita,” ujar Manobi.
Editor: Labes Remetwa





