Anak muda menilai kebahagiaan dan masa depan. Bukan lagi sekadar mengejar pernikahan dan karier mapan, mereka lebih fokus pada stabilitas finansial, kesehatan mental, dan kualitas hidup.
Dobo, suaradamai.com – Fenomena perubahan cara pandang generasi muda di Indonesia semakin terlihat jelas. Mulai dari prioritas hidup, pola konsumsi, hingga ketakutan yang mereka rasakan, semuanya kini sangat berbeda dari generasi sebelumnya.
Sebuah unggahan di media sosial yang ramai dibagikan belakangan ini menyoroti bagaimana anak muda menilai kebahagiaan dan masa depan. Bukan lagi sekadar mengejar pernikahan dan karier mapan, mereka lebih fokus pada stabilitas finansial, kesehatan mental, dan kualitas hidup.
Unggahan tersebut menampilkan empat tren baru cara berpikir generasi muda yang mencerminkan realitas saat ini:
1. Lebih Takut Miskin Ketimbang Tidak Menikah
Bagi banyak anak muda, menikah bukan lagi prioritas utama. Stabilitas finansial dianggap jauh lebih penting.
“Karena apa gunanya menikah… kalau lagi mikir besok bayar tagihan apa?” demikian narasi dalam unggahan itu.
Tekanan biaya hidup dan keresahan soal masa depan membuat pernikahan dipandang sebagai komitmen besar yang harus disertai kesiapan ekonomi yang matang.
2. Self-Reward Jadi Bentuk Bertahan Hidup
Kebutuhan untuk “healing” menjadi gaya hidup baru. Kopi mahal, tiket konser, hingga liburan singkat dianggap cara menjaga kewarasan di tengah tekanan pekerjaan dan rutinitas.
“Kalo hidupnya berat, siapa lagi yang kasih hadiah ke diri sendiri?” tulis unggahan tersebut, menggambarkan bagaimana self-reward menjadi alat perawatan mental.
3. Quiet Quitting: Hidup Tidak Hanya Tentang Kerja
Generasi sebelumnya mengusung prinsip “kerja keras dulu, senang nanti”. Namun, anak muda menolak pola itu.
“Ngapain kaya tapi burnout? Kerja secukupnya aja, hidup seperlunya,” bunyi salah satu kutipan.
Fenomena ini mencerminkan penolakan terhadap budaya kerja berlebihan. Anak muda lebih memilih menyeimbangkan kehidupan personal dan profesional.
4. Takut Hidup Terlalu Lancar
Menariknya, ada rasa cemas baru yang muncul: ketika hidup terlalu baik, justru dianggap pertanda akan datang masalah besar.
“Kalau semua baik-baik aja… suka muncul pikiran: besok bakal ada cobaan apaan lagi ya?” tulis narasi pada slide terakhir.
Kecemasan ini menggambarkan kondisi mental generasi muda yang hidup dalam tekanan ketidakpastian.
Fenomena Sosial di Era Serba Cepat
Pengamat sosial menilai pergeseran ini dipengaruhi berbagai faktor:
- biaya hidup yang tinggi
- beban produktivitas di usia muda
- mudahnya membandingkan diri melalui media sosial
- meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental
Pilihannya jelas: generasi muda ingin hidup yang lebih realistis, seimbang, dan tidak memaksakan pencapaian hanya demi mengikuti standar sosial.
Perubahan cara pikir ini sekaligus menunjukkan bahwa generasi saat ini tengah mencari bentuk kebahagiaan yang lebih relevan dengan kondisi zaman: bahagia dulu, mapan menyusul – selama kewarasan tetap terjaga.





