LPDP terus tumbuh sebagai salah satu pilar penting pembangunan SDM. Dengan dukungan negara dan kontribusi alumni, lembaga ini diharapkan mempercepat Indonesia mencapai visi besar 2045: menjadi bangsa maju dengan talenta mendunia.
Jakarta, suaradamai.com – Pendidikan menjadi kunci kemajuan bangsa. Hal ini kembali ditegaskan Direktur Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan, Ir. Dwi Larso, dalam sesi Good Talk di kanal YouTube Good News From Indonesia (GNFI) yang membahas perjalanan LPDP, kontribusi alumni, serta peluang bagi calon penerima beasiswa di masa depan.
Dalam pemaparannya, Dwi Larso menjelaskan bahwa LPDP berdiri untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam jumlah talenta berpendidikan tinggi. Saat ini, hanya sekitar 0,5 persen penduduk usia produktif Indonesia yang menempuh pendidikan hingga jenjang S2 atau S3 – jauh tertinggal dari Malaysia dan Vietnam yang telah mencapai 2,5 persen.
“Tekad LPDP adalah mendukung bangsa ini untuk maju, lewat pendidikan. Karena ujung tombak masa depan itu ada pada SDM unggul,” tegasnya.
Dana Abadi Negara untuk Beasiswa: Kenapa Penting?
LPDP dikelola dari dana abadi pendidikan yang dialokasikan pemerintah sebagai bentuk investasi jangka panjang terhadap sumber daya manusia. Dana tersebut terus berkembang: dari Rp51 triliun pada 2019 menjadi sekitar Rp154 triliun pada 2024.
Menurut Dwi Larso, model dana abadi membuat pembiayaan pendidikan lebih terjamin.
“Kalau menyekolahkan anak S2 atau S3, itu pembelanjaannya multi years. Dana abadi memastikan dukungan sampai mereka lulus,” jelasnya.
Pola ini bahkan diapresiasi negara lain yang masih bergantung pada APBN tahunan.
Alumni LPDP Wajib Pulang ke Indonesia?
Kebijakan kembali ke tanah air tetap diterapkan, namun kini lebih fleksibel.
Secara prinsip, alumni memang diharapkan langsung berkontribusi di Tanah Air. Namun LPDP membuka ruang bagi mereka yang memiliki peran strategis di luar negeri.
“Mengabdi pada bangsa bisa dari mana saja. Yang penting kontribusinya untuk kepentingan Indonesia,” ujar Dwi.
Alumni dapat tetap di luar negeri hingga dua tahun untuk riset, magang, atau membangun jejaring internasional, dengan wajib mengajukan izin ke LPDP. Beberapa bahkan diperbolehkan lebih lama bila membawa manfaat bagi Indonesia, seperti bekerja di lembaga dunia (PBB, World Bank, ADB) atau menarik investasi untuk Tanah Air.
Profil Alumni: 45% Jadi Dosen, Banyak Ikut Bangun Daerah
Hingga akhir 2025, LPDP telah meloloskan lebih dari 55.000 awardee dengan sekitar 28.000 di antaranya sudah lulus.
Kontribusi alumni pun dinilai sesuai arah kebijakan pendidikan nasional:
• 45% berkarier sebagai dosen, guru, dan peneliti
• 25% menjadi ASN, TNI, Polri
• 30% bekerja di BUMN, swasta, atau menjadi entrepreneur
• 5–8% di antaranya membangun usaha (startup dan sociopreneur)
LPDP juga memperkuat akses bagi daerah 3T melalui beasiswa afirmasi, agar talenta unggul tersebar merata secara nasional.
Jenis Beasiswa: Akademik hingga Kewirausahaan
Jika dulu LPDP dikenal fokus pada bidang akademik, kini lembaga ini memperkuat dukungan pada STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) sebagai sektor prioritas nasional.
Porsinya meningkat signifikan:
• dari 47% (2021)
• menjadi 67% (2024)
Namun non-STEM tetap penting, terutama yang menyokong transformasi digital, kebijakan hijau, hingga ekonomi maritim.
Selain itu, LPDP kini membuka peluang lebih besar di bidang kewirausahaan melalui program co-funding bersama universitas dan negara mitra. Dengan skema ini, satu kuota beasiswa dapat membiayai lebih dari satu penerima karena ditopang lembaga internasional.
Pendaftar Tinggi – Hanya Seperempat yang Bisa Lolos
Minat studi lanjut terus melonjak. Pada 2024, LPDP mencatat 52.000 pendaftar, namun hanya sekitar 8.000 yang bisa diterima.
“Yang sudah lulus administrasi itu sekitar 40.000. Mereka semua anak-anak muda terbaik. Tapi kemampuan kita baru seperempatnya,” kata Dwi.
Karena itu, LPDP tengah mendorong masuknya dana abadi filantropi, termasuk dari industri dan publik, guna memperbesar jumlah awardee setiap tahun.
Tips Lolos LPDP: Mental “Gaspol”
Bagi calon pelamar, Dwi Larso menyampaikan mindset utama:
1. Motivasi kuat berkontribusi untuk bangsa
2. Rencana studi sesuai kebutuhan nasional
3. Kemampuan bahasa dan akademik yang mumpuni
4. Integritas dan konsistensi dalam setiap tahap seleksi
“Kita mengejar ketertinggalan. Gaspol – tidak pakai rem! Tapi jangan sampai masuk jurang,” ujarnya sambil tersenyum.
LPDP terus tumbuh sebagai salah satu pilar penting pembangunan SDM. Dengan dukungan negara dan kontribusi alumni, lembaga ini diharapkan mempercepat Indonesia mencapai visi besar 2045: menjadi bangsa maju dengan talenta mendunia.





