Berkaca Dari Proses Pengangkatan Kepala Ohoi Loon Yang Damai Dan Sejuk

Ikuti suaradamai.com dispot_imgspot_imgspot_imgspot_img

“Kalau dalam perjalanan kepemimpinan saya, kemudian tidak berkenan di hati masyarakat ataukah perintah undang undang untuk saya turun dari jabatan kepala Ohoi Loon, saya akan menerima itu dengan lapang dada.”Ujar dia.


Langgur, suaradamai.com – Timbul konflik kepala ohoi (desa) yang berkepanjangan di Kabupaten Maluku Tenggara, akibat fanatisme dan kerasnya konfrontasi marga atau mata rumah calon kepala ohoi yang diusung. tanpa sadar, nilai-nilai yang tekandung dalam falsafah leluhur dilanggar bahkan diabaikan.

Fo rin ne bardik Rahan, Afa did lir uha, dir nain , ungkapan ini menerangkan bahwa setiap persoalan kepala ohoi dilakukan secara internal sehingga segala bentuk keputusan, dilaksanakan dalam mata rumah itu sendiri. Keputusan itu akan diterima publik tanpa harus ada pertanyaan tentang proses atau dinamika internal mata rumah tersebut. Falasafah leluhur diatas lebih cocok disematkan pada masyarakat adat Ohoi Loon, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara.

Dalam video yang diunggah akun youtube Im A BIG terlihat jelas, proses pengukuhan yang menawarkan kedamaian dan kesejukan di Ohoi Loon. Masyarakat adat woma El-Harnar loon menyambut pemimpin baru mereka dengan sorak-sorai. Warga membentuk pagar hidup di kedua sisi jalan menggunakan pakaian adat. Mereka menari penuh sukacita sambil melantunkan nyanyian menanti datangnya pemimpin baru. Sang pemimpin itu berjalan tegak dengan pakaian kebesaran diantar oleh para pengawal didalam sebuah belan (Perahu). Seluruh rangkaian acara pengukuhan menggunakan bahasa kei. Dihadiri oleh Raja, Camat, Kepala PMD dan seluhur Pj dan kepala Ohoi dalam lingkup Kecamatan Kei Kecil. Usai dikukuhkan, surat rekomendasi Raja diserahkan kepada camat Kei Kecil dihadapan masyarakat.

Ketua Badan Permusyawaratan Ohoi (BPO) Thomas Reyaan, menjelaskan dalam setiap ohoi memiliki Kovat (peran dan fungsi marga dalam ohoi). Pada masyarakat adat ohoi Loon dikenal memiliki 2 marga dan 3 mata rumah. Marga Reyaan sebagai tuan tan dan marinyo. Marga Kilmas Riin Balubun memiliki tugas sebagai panglima perang dan Marga Kilmas Riin Lakesubun diberikan tugas sebagai kepala ohoi dan mitu duan.  

“Sesuai pesan leluhur, marga kilmas lakesubun memiliki hak penuh untuk menduduki kursi kepala ohoi. jadi, kepala ohoi yang sesuai dengan proses akan disukai oleh masyarakat.” Tegas Reyaan.

Kornelis Kilmas, Kepala Ohoi Loon terpilih itu, mengaku dirinya ditunjuk melalui proses Madivun riin Kot  (Rapat internal mata rumah) Marga Kilmas riin Lakesubun secara demokratis tanpa ada paksaan atau intervensi dari pihak lain.

Pengakuan Kornelis itu dicuplik media suaradamai.com dalam sebuah video berdurasi pendek.

“Apa yang membuat sehingga proses Kepala Ohoi Loon berjalan dengan Damai ? ” tanya Perekam

“Kami disini, masing-masing marga sangat paham tentang tugas dan peran kami secara adat. Kursi kepala ohoi ini ditunjuk oleh Marga Reyaan kepada kami Marga Kilmas riin Lakesubun. Karena ini telah menjadi milik mata rumah kami, sehingga hak ini dipercayakan kepada saya, bukan jadi milik pribadi saya, tetapi milik adik kaka yang lain dalam mata rumah. Kami punya hak yang sama. ” Akui Kornelis dengan wajah tenang.

Kornelis menambahkan, Ia telah memenuhi semua syarat yang dianjurkan pemerintah maupun adat. Madivun riin kot, BPO dan penjabat kepala ohoi telah menjalankan fungsinya dengan baik sehingga pada saat pelantikan, semua lapisan masyarakat ikut berpartisipasi menyukseskan acara pengkuhan tersebut.

“Mungkin Tuhan dan Leluhur merestui sehingga proses ini aman dan damai,” ucap dia.

Pria kelahiran Loon, 6 Januari 1981 itu mengatakan, selama menjadi kepala dusun dan penjabat kepala ohoi Loon belasan tahun lalu, ia selalu mengedepankan asas transparansi atau keterbukaan keuangan serta melibatkan masyarakat dalam setiap kebijakan di ohoi.

“Selama saya memimpin, masyarakat pasti suda bisa menilai. Apabila kepemimpinan saya buruk pasti saya tidak akan ditunjuk kembali dalam marga atau masyarakat loon,” ujar dia.

Ia mengatakan, Jabatan yang diterima itu berdasarkan adat dan pemerintah sehingga ketika saatnya, adat dan pemerintah tidak merestui dia sebagai kepala ohoi maka dirinya bersedia mundur dari jabatan kepala Ohoi.

“Kalau dalam perjalanan kepemimpinan saya, kemudian tidak berkenan di hati masyarakat ataukah perintah undang-undang untuk saya turun dari jabatan kepala Ohoi Loon, saya akan menerima itu dengan lapang dada.” Tegas dia.

Ditempat berbeda, Kepala Marga Kilmas Lakesubun Petrus Kilmas, mengatakan panitia mempersiapkan acara pengukuhan secara baik dengan mengedepankan nilai nilai adat. Dalam hal mengantar undangan, panitia menggunakan kembali tradisi leluhur seperti naun (gelang tangan dari pucuk daun kelapa)  dan snib (pesan) melalui para utusan. Para utusan itu berpakaian adat dan tidak menggunakan alas kaki. Mereka mengikat naun ditangan dan mengantarkan snib kepada Raja, Camat, Kepala PMD atau tamu undangan. Sebelum pesan disampaikan, naun terlebih dahulu dibuka oleh tuan rumah atau  undangan, setelah itu utusan menyampaikan maksud kedatangan mereka.

“Kalau naun belum dibuka oleh si pemilik rumah, snib belum bisa untuk disampaikan. Kami akan tunggu hingga naun tersebut dibuka,” Cerita dia.

Lebih lanjut ia mengatakan semua proses adat hingga pemerintahan dilalui dengan baik sehingga tidak ditemukan permasalahan sedikitpun.

“ Kami ikut aturan Perda, kalau ada kesalahan, kami minta petunjuk dari dinas terkait.” Tegas dia.

Apabila yang terjadi dalam madivun riin kot “ Kata dia”, ada dua calon yang memilik hak yang sama, dan telah memenuhi syarat adminstrasi, maka kedua orang itu akan diusulkan ke Badan Saniri Ohoi (BSO) atau BPO. Tugas BPO selanjutnya adalah membentuk panitia pemilihan, dan seluruh masyarakat loon akan memilih kedua calon tersebut.

“Yang lolos dalam pemilihan, selanjutnya akan diproses untuk dilakukan pelantikan. Tetapi selama ini semua proses kepala ohoi di loon tidak pernah dilakukan pemilihan,” Ungkap Petrus.

Pelantikan Para Kepala Ohoi di Aula Hotel Kimson, tampak Bupati Maluku Tenggara Muhammad Thaher Hanubun menyematkan tanda nama ke Kepala Ohoi Loon Korenelis Kilmas . Senin, (7/2/19)
Pelantikan Para Kepala Ohoi di Aula Hotel Kimson, tampak dari kanan ke kiri Kepala Ohoi Namar, Kepala Ohoi Yatvav yang sedang menerima tanda penyematan nama oleh Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun, dan disebelah kiri ialah Kepala Ohoi loon. Senin, (7/2/19) lalu

MK salah satu warga ohoi loon membenarkan semua pengakuan tersebut. Ia mengatakan selain syarat dukungan itu ditandatangani oleh Marga Kilmas Lakesubun, BPO atau Penjabat, seluruh warga ohoi loon tanpa terkecuali ikut membubuhkan tandatangan mendukung Kornelis Kilmas sebagai Kepala Ohoi Loon.

“ Jangankan manusia setuju, hewan dan tumbuhan pun ikut setuju.” Pungkas dia.

Editor: Petter Letsoin

Ikuti suaradamai.com dispot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ronald Tethool

Sosok inspiratif yang berhasil memajukan pariwisata Ngurbloat, Kepulauan Kei, Maluku.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU