“Banyak sekali masyarakat asli Papua, khususnya asli Tujuh Suku membutuhkan modal dan peralatan untuk UMKM,” ujar Kepala Dinas Perindagkop dan UMKM Teluk Bintuni, Ongen Pattikawa.
Bintuni, suaradamai.com – Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM (Perindagkop dan UMKM) Kabupaten Teluk Bintuni, Ongen Pattikawa, menyampaikan kondisi UMKM masyarakat asli Papua, dalam Rapat Koordinasi Nasional UMKM dan Kewirausahaan yang digelar oleh Kementerian UMKM di Yogyakarta, 4-6 Februari 2026.
Pattikawa menekankan, Kabupaten Teluk Bintuni sebagai salah satu daerah penghasil Minyak dan Gas (Migas) terbesar secara nasional, belum mendapat perhatian serius dari Pemerintah Pusat.
“Saya mau sampaikan bahwa Bintuni juga merupakan dapur Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagai penghasil migas. Kami mohon kepada Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Republik Indonesia dapat melihat kami di Teluk Bintuni terkait pengembangan UMKM,” kata Pattikawa dalam Rakornas yang dihadiri langsung Menteri UMKM Maman Abdurrahman.
Dalam kesempatan itu, Pattikawa menyampaikan dua kendala utama yang dihadapi UMKM Orang Asli Papua (OAP), khususnya masyarakat asli Tujuh Suku, yakni terkait izin dan modal usaha.
Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni, menurut Pattikawa, telah berupaya menjawab masalah izin usaha. Hal itu dilakukan melalui kerja sama dengan Kejaksaan Negeri Teluk Bintuni.
“Kami telah melaksanakan perjanjian kerja sama dengan Kejaksaan Negeri Teluk Bintuni untuk dapat melihat mereka punya izin-izin. Salah dua kendala adalah izin halal dan izin edar,” jelas Pattikawa.
Selanjutnya, ia juga meminta Kementerian UMKM untuk mendukung UMKM OAP dengan memberikan modal usaha. Sehingga UMKM Teluk Bintuni bisa naik kelas.
“Mudah-mudahan saya berdiri di sini, saya menyampaikan harapan dan impian masyarakat di sana bisa jadi impian, Pak. Karena satu harapan mereka adalah bagaimana mereka dapat menjual, memasarkan usaha mereka,” kata Pattikawa.
Masih terkait modal usaha, pelaku UMKM di Teluk Bintuni juga masih kesulitan dalam mengakses modal usaha di perbankan.
“Bapak tadi berbicara soal KUR, tetapi banyak kendala yang mereka hadapi. Padahal mereka bilang ‘wah kita ke Bank ini ada kesulitan, mekanisme proses yang berbelit-belit’. Sehingga mereka kecewa,” kata Pattikawa.
Pada kesempatan itu, Pattikawa juga menyampaikan dua proposal dari UMKM kepada Menteri UMKM Maman Abdurrahman. Proposal tersebut berkaitan dengan pengembangan produk olahan sagu dan olahan produksi minyak buah merah.
Editor: Labes Remetwa
Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Kabupaten Teluk Bintuni
