“Selama ini juga permintaan rekaman CCTV dipersulit oleh pihak mitra dapur MBG, sehingga yang keluarga dapat hanya satu rekaman saja, dengan beralasan yang lain sudah terhapus,” ungkap Nindy
Tual, suaradamai.com – Korban penganiayaan di dapur makan bergizi gratis (MBG), Jalan Baldu Wahadat, Kota Tual, Nindy Claudia Gerits Russel (24) menyesalkan pihak Kepolisan yang justru meminta bukti rekaman CCTV dari pihak korban, bukan ke pihak mitra.
“Selama ini juga permintaan rekaman CCTV dipersulit oleh pihak mitra dapur MBG, sehingga yang keluarga dapat hanya satu rekaman saja, dengan beralasan yang lain sudah terhapus,” ungkap Nindy kepada Suaradamai.com, Kamis (21/11/2025).
Staf akuntan itu lantas meminta pihak Kepolisan agar jeli dan sungguh-sungguh dalam bekerja, agar keputusan penetapan tersangka tepat dan memberikan efek jera.
“Tentunya, saya meminta Satreskrim Polres Tual agar dapat lebih tepat mengalamatkan status tersangka, saya justru tidak tenang jika supir mitra masih lolos dan bebas berkeliaran,” pungkasnya.
Ia juga sesalkan penetapan tersangka oleh pihak Polres setempat.
Pasalnya, supir mitra BJ yang menjadi dalang pemicu tindak penganiyaan dan pengeroyokan malah lolos dari jeratan hukum.
Status tersangka hanya dialamatkan kepada anak supir mitra, Maikel Alfa Jaftoran (MAJ) dan Ibunya Eva Hatumessen (EH) yang juga menjadi pelaku tindak pengeroyokan tersebut.
Kepada suaradamai.com, staf akuntan dapur MBG Nindy Claudia Gerits Russel (24) selaku korban mengungkap kekesalannya, terhadap kepolisian lantaran supir mitra justru lolos dari proses hukum.
“Dari awal permasalahan ini kan pemicunya justru dari BJ,” ungkapnya. Kamis (21/11/2025).
Dijelaskannya, BJ merupakan pemicu utama dari masalah ini, sehingga terjadi tindak penganiyaan dan pengeroyokan.
“Namun sungguh sangat disesalkan justru dia yang lolos dari permasalahan ini, saya sangat mengapresiasi tindak cepat dari pihak Kepolisan namun terkesan jutsru membebaskan otak dari tindakan tersebut,” kesalnya.
Kronologi Pengeroyokan
Permasalah ini dipicu masalah sepele, permintaan kunci untuk mengambil sepatu Nindy yang hendak berangkat ibadah Minggu 26 Oktober 2026.
Lantaran pagar dapur MBG Jalan Baldu Wahadat, lorong Citra, dikunci Nindy lantas meminta ahli gizi untuk memberikan lewat celah pagar.
Ahli gizi lantas menyarankan, menghubungi supir mitra BJ untuk meminta kunci pintu pagar.
Saat dihubungi BJ membalas dengan kata kasar. Adu mulut pun terjadi via WhatsApp. BJ lantas memboyong istri dan anak laki-lakinya ke dapur MBG.
Ia lebih dulu mengancam ahli gizi dengan kata-kata kasar.
Karena tak tahan dengan hinaan dan caci maki, staf ahli gizi lantas menelpon Nindy untuk datang ke dapur MBG, setelah tiba malah disambut dengan pukulan oleh istri BJ dan dicekik dari leher oleh anak lelakinya.
Nindy lantas dianiaya, diborong, dipukul hingga bersimbah darah, oleh ketiga orang tersebut.
Hari itu juga, keluarga bersepakat untuk melaporkan tidak penganiyaan dan menolak semua mediasi damai dari pihak pelaku.
Editor: Henrik Toatubun





