Kaidel menjelaskan, Kepulauan Aru memiliki keunikan tersendiri karena hanya memiliki satu suku, yaitu Suku Aru, namun menggunakan 14 bahasa daerah yang tersebar dari Batu Goyang hingga Wariaralau.
Dobo, suaradamai.com – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru resmi membuka Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2025. Acara ini digelar di Lapangan Yos Sudarso Dobo pada Selasa (28/10/2025)
Festival ini menampilkan berbagai kegiatan seperti lomba pidato dalam bahasa daerah, pentas seni tradisional, serta diskusi kebahasaan yang menghadirkan tokoh adat dan pegiat budaya.
Dengan mengusung tema “Bahasa Ibu, Jaga Identitas”, kegiatan ini menjadi wadah bagi masyarakat dan generasi muda untuk mengenal, menggunakan, serta mengembangkan bahasa ibu di wilayah Aru, Provinsi Maluku.
Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, menekankan pelestarian bahasa daerah menjadi sangat penting dalam perkembangan teknologi saat ini.
“Pelestarian bahasa sangat penting di era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat ini banyak masyarakat yang menjunjung bahasa asing dan tanpa sadar membiarkan bahasa daerah kita tergerus hingga nyaris punah,” ujar Kaidel.
Menurutnya, penguasaan terhadap bahasa daerah kini telah diakui oleh negara sebagai bagian dari pengembangan bakat dan minat dalam Manajemen Talenta Nasional. “Sebagai anak bangsa dan anak daerah, kita punya tanggung jawab moral untuk menjaga dan melestarikan bahasa daerah kita sendiri,” tegasnya.
Penutur Bahasa Daerah Terus Menurun
Dalam kesempatan tersebut, Kaidel mengungkapkan kekhawatirannya terhadap semakin berkurangnya penutur bahasa daerah di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Kabupaten Kepulauan Aru.
“Bahasa daerah kini hanya dituturkan oleh orang dewasa pada keturunan ketiga atau keempat. Sementara anak-anak sangat sedikit yang masih bisa berbahasa daerah. Bahkan di beberapa desa di Aru, penutur bahasa daerah hampir tidak ada lagi,” ungkapnya.
Kaidel menjelaskan, Kepulauan Aru memiliki keunikan tersendiri karena hanya memiliki satu suku, yaitu Suku Aru, namun menggunakan 14 bahasa daerah yang tersebar dari Batu Goyang hingga Wariaralau.
Kerja Sama Revitalisasi Bahasa Daerah
Untuk mengatasi penurunan penutur bahasa daerah tersebut, Pemkab Aru telah menjalin kerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Maluku dalam melaksanakan program revitalisasi bahasa daerah.
Program ini dilakukan melalui pembelajaran di satuan pendidikan, yang melibatkan fasilitator, pengajar, serta didampingi oleh Duta Bahasa dan Balai Bahasa Provinsi Maluku.
“Tahun ini, revitalisasi Bahasa Tarangan Barat telah memasuki fase akhir atau tahun ketiga pendampingan Balai Bahasa, dan akan diserahkan ke daerah untuk pembinaan berkelanjutan. Sementara Bahasa Manumbai baru memasuki tahun pertama pelaksanaan pembinaan,” jelas Kaidel.
Ia juga berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut. “Kami berharap Balai Bahasa Provinsi Maluku tetap bersama kami untuk melakukan revitalisasi terhadap bahasa daerah yang penuturnya berkurang, bahkan yang sudah hilang seperti Bahasa Manumbai,” katanya.
Masuk Kurikulum Muatan Lokal
Lebih lanjut, Bupati Kaidel meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan agar melakukan perencanaan strategis dalam pengembangan serta pelestarian bahasa daerah, dan memasukkannya dalam kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah dasar dan menengah.
“Program revitalisasi bahasa daerah harus menjadi bagian dari pembelajaran di sekolah. Dengan begitu, generasi muda dapat belajar dan menuturkan bahasa daerah sejak dini,” tandasnya.
Diakhir arahannya menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Balai Bahasa Provinsi Maluku, para kepala sekolah, guru pendamping, fasilitator, serta panitia pelaksana FTBI 2025 yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan ini.
Ia berpesan kepada dewan juri agar memberikan penilaian yang objektif. “Saya berharap para juri dapat menilai dengan adil dan tidak diskriminatif, sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan minat dan bakat anak-anak Aru dalam berbahasa daerah,” ucapnya.
Kepada para kepala sekolah dan guru pendamping, Kaidel berpesan agar selalu memperhatikan kenyamanan dan keamanan siswa selama mengikuti lomba.
“Bagi peserta yang menang, jangan cepat berpuas diri. Teruslah mengasah kemampuan. Sementara bagi yang belum unggul, jangan mudah menyerah. Banyak orang sukses karena mampu bertahan dan belajar dari tantangan,” tutupnya.
Diketahui FTBI merupakan gagasan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, sebagai bagian dari kebijakan Merdeka Belajar Episode ke-17 tentang Revitalisasi Bahasa Daerah.
Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Kabupaten Kepulauan Aru





