“Kegiatan ini diawali dengan survei di Kota Tual, yang hasilnya diolah, diidentifikasi, dan dianalisis. Hasilnya kemudian disampaikan dalam bentuk FGD untuk merumuskan model desa agribisnis perikanan,” ujarnya.
Tual, suaradamai.com – Dalam upaya merumuskan Model Desa Agribisnis Perikanan yang berkelanjutan secara ekonomi dan produksi di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) bersama Dinas Perikanan Kota Tual menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD).
Kegiatan ini bertujuan menggali masukan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, pelaku utama perikanan, serta para pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya.
FGD ini berlangsung pada Kamis (16/10/2025) di Ruang Rapat TPID, Kantor Wali Kota Tual.
Ketua Tim Penelitian Polikant, Syahibul Kahfi Hamid, menjelaskan bahwa FGD ini merupakan bagian dari tahapan penelitian yang telah dilakukan.
“Kegiatan ini diawali dengan survei di Kota Tual, yang hasilnya diolah, diidentifikasi, dan dianalisis. Hasilnya kemudian disampaikan dalam bentuk FGD untuk merumuskan model desa agribisnis perikanan,” ujarnya.
Ia menegaskan, FGD ini membutuhkan masukan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah kota, lembaga keuangan, pelaku usaha, nelayan, akademisi, dan instansi pemerintah vertikal.
Model agribisnis perikanan yang dirumuskan berfokus pada pilar utama, yaitu kelembagaan dan tata kelola, yang ditunjang oleh pemanfaatan IPTEK, pengembangan sumber daya manusia (SDM), pemasaran dan branding, keterlibatan masyarakat, serta keberlanjutan lingkungan dan sumber daya.
“Poin-poin tersebut akan dibahas dalam FGD. Kami akan mengidentifikasi faktor penentu dan penyebab, mengumpulkan masukan dari peserta, lalu menyusun strategi dan rekomendasi untuk Pemerintah Kota Tual,” tambah Syahibul.
Berdasarkan survei ekonomi di 27 desa di Kota Tual, Desa Labetawi, Kecamatan Dullah Utara, meraih peringkat pertama berdasarkan akses, jarak, dan potensi perikanan tangkap, budidaya, wisata, kelembagaan, serta infrastruktur.
“Desa Labetawi akan menjadi lokasi penerapan model ini,” ungkap Syahibul.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kota Tual, A. Serang, menyatakan bahwa kolaborasi ini sangat strategis.
“Kementerian Kelautan dan Perikanan memiliki program prioritas untuk membangun 100 Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) pada tahun ini, dengan 65 kampung untuk perikanan tangkap dan 35 untuk perikanan budidaya. Kami bersyukur, Desa Labetawi di Kota Tual dan satu lokasi di Kabupaten Buru ditetapkan sebagai lokus pembangunan KNMP di Provinsi Maluku,” ucapnya.
Serang menambahkan bahwa FGD ini merupakan bagian dari kajian mendalam yang dilakukan Polikant melalui survei dan riset. Semua stakeholder, termasuk nelayan, pembudidaya, pengelola, dan pemasar, diundang untuk memberikan masukan.
“Semua argumen dan masukan akan diramu oleh tim untuk menghasilkan dokumen Rencana Pengelolaan Desa Agribisnis Perikanan. Ini adalah langkah awal di Tual, dengan Desa Labetawi sebagai proyek percontohan yang mengintegrasikan pengelolaan potensi perikanan dari hulu ke hilir,” jelasnya.
Kegiatan FGD ini dihadiri oleh perwakilan dari Bappeda Kota Tual, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, serta para nelayan dan pelaku usaha perikanan.
Dokumen yang dihasilkan dari FGD ini diharapkan menjadi panduan strategis untuk pengembangan agribisnis perikanan yang berkelanjutan di Kota Tual, khususnya di Desa Labetawi sebagai model percontohan.
Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Kota Tual





