Oleh Inay Kristina Maranressy, Dosen STIA Darul Rachman Tual
Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-90 Gereja Protestan Maluku (GPM) adalah sebuah tonggak sejarah yang patut disyukuri dengan penuh kerendahan hati di hadapan Allah. Gereja yang lahir dari rahim pekabaran Injil dan tumbuh dalam medan sosial, budaya, dan politik yang kompleks, kini memasuki usia yang semakin matang.
Usia 90 tahun bukan sekadar angka, melainkan refleksi dari perjalanan panjang yang ditandai dengan benih-benih pelayanan yang telah ditaburkan, proses pertumbuhan dalam kasih karunia, dan buah-buah kebaikan yang dirasakan oleh banyak orang.
Sembilan puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Dalam rentang waktu itu, Gereja Protestan Maluku (GPM) telah melewati berbagai fase sejarah, mulai dari masa kolonial, kemerdekaan, konflik, rekonsiliasi, hingga era digital yang serba cepat dan kompleks seperti hari ini. Di tengah pergumulan zaman yang terus berubah, GPM tetap berdiri sebagai gereja yang teguh dalam iman dan berusaha konsisten dalam peran profetiknya.
Memasuki usia yang ke-90 — a journey of faith (sebuah perjalanan iman) yang tak hanya mencerminkan panjangnya perjalanan waktu, tetapi juga kedalaman panggilan iman di tengah dinamika zaman. Di setiap era, GPM tetap berupaya menjadi terang, menghadirkan cahaya Injil Kristus bagi umat dan masyarakat luas.
Perjalanan 90 tahun ini menunjukkan bahwa GPM bukan hanya sekadar institusi keagamaan, tetapi juga rumah rohani, ruang dialog, tempat penguatan nilai-nilai kemanusiaan, serta agen transformasi sosial di Maluku dan Indonesia secara lebih luas.
Keteguhan dalam iman menjadi fondasi utama yang menopang GPM untuk tetap eksis — bukan hanya untuk mempertahankan dirinya, tetapi juga untuk terus menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah, cinta kasih, kelemahlembutan, kebenaran, keadilan dan terang Kristus bagi dunia, karena Kerajaan Allah tidak bekerja untuk Diri Sendiri, melainkan juga untuk orang Lain.
Dengan mengangkat tema HUT “Gereja yang Menabur, Bertumbuh dan Berbuah Karena Kasih Tuhan” (Markus 4:1–9), GPM menegaskan kembali identitas dan arah pelayanannya. Tema ini bukan hanya sebuah narasi simbolik, melainkan menjadi cermin bagi gereja untuk mengevaluasi dan memperbarui hidup pelayanannya dalam terang kasih Tuhan yang terus bekerja di sepanjang sejarahnya.
Bersamaan dengan itu, dalam konteks Pekan Bina Keluarga 2025, dengan tema “Memperkuat Keluarga, Mengokohkan Bangsa” (Kolose 3:18–25; 4:1–6) mengajak warga gereja untuk menaruh perhatian yang serius terhadap kehidupan keluarga sebagai fondasi utama gereja dan masyarakat.
Tidak ada gereja yang kuat tanpa keluarga yang kokoh, dan tidak ada bangsa yang maju tanpa keluarga yang sehat secara rohani, emosional, dan sosial.
Sebagaimana dikatakan oleh John Paul II, “Masa depan umat manusia melewati jalan keluarga.” Maka, gereja harus kembali menaruh perhatian pada keluarga sebagai ladang pertama tempat benih iman ditabur, tumbuh, dan menghasilkan buah.
Menabur dalam Kasih Tuhan (Markus 4:1–9)
Yesus mengajarkan perumpamaan tentang penabur dalam Markus 4:1–9 untuk menggambarkan bagaimana firman Tuhan ditaburkan dan diterima oleh berbagai jenis hati manusia. Dalam konteks pelayanan gereja, perumpamaan ini menjadi dasar teologis yang sangat kuat bagi panggilan GPM selama 90 tahun: menabur benih Injil dengan setia di tengah tanah kehidupan masyarakat Maluku, Indonesia, dan dunia.
“Adalah seorang penabur keluar untuk menabur…” (Markus 4:3b). Menabur adalah tindakan awal, namun sarat harapan. Penabur tidak selalu tahu bagaimana benih itu akan jatuh, tumbuh, atau bahkan apakah ia akan bertahan. Namun, ia tetap menabur, karena percaya bahwa ada kuasa Allah yang bekerja dalam setiap benih firman yang disampaikan.
GPM, sejak awal berdirinya pada 6 September 1935, telah mengambil bagian dalam misi menabur ini. Para pelayan awal—baik lokal maupun dari luar—membawa Injil dengan penuh kasih dan pengorbanan. Mereka tidak hanya mengajarkan doktrin, tetapi juga membangun sekolah, mendirikan pelayanan kesehatan, memperjuangkan keadilan sosial, dan menyuarakan perdamaian.
Sebagaimana dikatakan oleh Dietrich Bonhoeffer, “Gereja adalah gereja yang hanya ketika ia ada untuk orang lain.” GPM telah menjadi gereja yang hidup dalam prinsip ini—menabur dalam segala musim, di segala situasi.
Dalam terang tema Pekan Bina Keluarga, keluarga juga adalah ladang pertama tempat firman Tuhan harus ditabur. Orang tua memiliki tanggung jawab rohani untuk menjadi “penabur” utama dalam kehidupan anak-anak mereka. Keluarga Kristen yang menabur dengan kasih, akan menghasilkan generasi yang berakar dalam kebenaran.
GPM menghadapi berbagai tantangan ke depan tentu tidak ringan. Krisis moral, polarisasi politik, kerusakan lingkungan, dan ketidakadilan sosial masih terus menghantui kehidupan bersama. Di tengah situasi ini, gereja tidak boleh kehilangan arah. Profetisme harus tetap menjadi identitas dasar pelayanan GPM—bukan sebagai sikap konfrontatif, tetapi sebagai suara kenabian yang penuh kasih, kritis namun konstruktif, tajam namun membawa harapan.
Bertumbuh dalam Anugerah dan Tantangan
Pertumbuhan adalah proses ilahi yang terjadi setelah penaburan. Dalam perumpamaan penabur (Markus 4:1–9), benih yang jatuh di tanah yang baik bertumbuh dan menghasilkan buah. Namun, proses pertumbuhan tidaklah instan. Ia membutuhkan waktu, perawatan, dan daya tahan menghadapi berbagai tantangan.
“Sebagian jatuh di tanah yang baik, lalu tumbuh dan berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.” (Markus 4:8)
Selama 90 tahun, GPM telah melalui banyak musim pertumbuhan—baik dalam dimensi internal maupun eksternal. Pertumbuhan jumlah jemaat, pendirian jemaat baru, perluasan wilayah pelayanan, serta peningkatan kualitas pendidikan teologi dan kepemimpinan adalah buah dari anugerah Tuhan. Namun, semua itu dicapai melalui proses yang tidak mudah: konflik sosial, bencana alam, tantangan pluralisme, dan dinamika politik sering kali menguji daya tahan gereja.
Tetapi justru di tengah pergumulan itu, GPM terus bertumbuh. Sebab dalam kasih Tuhan, gereja tidak hanya dipanggil untuk “bertahan hidup”, tetapi juga untuk bertumbuh menjadi lebih kuat dan relevan. “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.” 2 Petrus 3:18)
Pertumbuhan sejati juga menyentuh aspek kualitas kehidupan keluarga. Tema Pekan Bina Keluarga 2025 menekankan bahwa keluarga bukan sekadar struktur sosial, tetapi adalah “gereja mini” tempat nilai-nilai iman ditumbuhkan.
Kolose 3:18–25 memberikan panduan etis mengenai peran masing-masing anggota keluarga. Suami istri dipanggil untuk saling mengasihi dan menghormati. Anak-anak diminta untuk taat, dan para orang tua diajak untuk tidak menyakiti hati anak-anak mereka. Bahkan relasi antara tuan dan hamba (dalam konteks modern: atasan dan bawahan) diajarkan untuk dipenuhi keadilan dan kasih.
“Hai para suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” (Kolose 3:19)
“Hai para anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.” (Kolose 3:20)
Dalam kerangka itu, gereja yang bertumbuh adalah gereja yang memperhatikan pertumbuhan iman dalam keluarga. Gereja tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah mingguan, tetapi komunitas yang secara aktif mendampingi keluarga-keluarga dalam pertumbuhan rohaninya.
Sebagaimana kata Rick Warren, penulis The Purpose Driven Life: “Kekristenan bukan sekadar agama, tetapi hubungan—dimulai dari hubungan kita dengan Tuhan dan berkembang dalam hubungan kita dengan orang lain, terutama keluarga kita.”
Berbuah dalam Kehidupan Nyata
Buah adalah hasil akhir dari proses penaburan dan pertumbuhan. Dalam Markus 4:1–9, Yesus menekankan bahwa benih yang jatuh di tanah yang baik bukan hanya tumbuh, tetapi berbuah—bahkan berlipat ganda. Buah inilah yang menjadi bukti bahwa firman Allah telah bekerja dengan efektif dalam hati manusia.
“Sebagian jatuh di tanah yang baik, lalu tumbuh dan berbuah…” (Markus 4:8a).
Selama 90 tahun pelayanannya, Gereja Protestan Maluku telah menghasilkan banyak buah yang nyata dalam kehidupan masyarakat. Buah itu tidak hanya berupa pertumbuhan kuantitatif jemaat, tetapi juga dalam bentuk kesaksian nyata gereja di tengah pergumulan bangsa. GPM telah menjadi pelopor pendidikan, pelindung bagi yang lemah, pembawa damai pascakonflik, serta pemelihara nilai-nilai keadilan dan perdamaian.
Dalam banyak wilayah pelayanan, GPM tidak hanya memberitakan Injil secara verbal, tetapi juga menghadirkan Injil dalam tindakan nyata—mendirikan sekolah, klinik, lembaga sosial, dan memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak. Ini adalah buah dari benih yang telah ditabur dengan kasih dan kesetiaan.
Namun, buah pelayanan gereja juga harus tampak dalam skala yang lebih kecil namun sangat penting yaitu keluarga. Dalam terang Pekan Bina Keluarga, keluarga yang sehat dan kuat merupakan buah dari pembinaan gereja yang sungguh-sungguh. Ketika anggota keluarga hidup dalam kasih, saling menghormati, bekerja dengan jujur, dan berdoa bersama, maka keluarga itu tidak hanya menghasilkan buah rohani untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi teladan bagi lingkungan sekitar.
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)
Berbuah dalam kehidupan nyata berarti membiarkan firman Tuhan menjadi gaya hidup. Dalam dunia yang semakin pragmatis, gereja dipanggil untuk menunjukkan buah kasih, pengampunan, kesetiaan, dan kebenaran—tidak hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam hubungan sosial, ekonomi, dan politik.
Sebagaimana dikatakan oleh Martin Luther King Jr.: “Iman adalah mengambil langkah pertama, bahkan ketika kamu tidak melihat seluruh tangga.”
Gereja dan keluarga yang beriman adalah mereka yang tetap berbuah, bahkan di tengah kesulitan, karena percaya pada kuasa kasih Tuhan yang menyertai.
Menyatu dalam Kasih Tuhan: Gereja dan Keluarga sebagai Pilar Bangsa
Kasih Tuhan adalah fondasi utama dari segala aktivitas gereja dan keluarga. Gereja yang menabur, bertumbuh, dan berbuah adalah gereja yang hidup dalam kasih Kristus, kasih yang tanpa syarat dan menggerakkan pelayanan dalam setiap aspek kehidupan. Kasih inilah yang menyatukan jemaat, menguatkan keluarga, dan mengokohkan bangsa.
Dalam konteks Pekan Bina Keluarga 2025 dengan tema “Memperkuat Keluarga, Mengokohkan Bangsa” (Kolose 3:18-25; 4:1-6), keluarga dipandang sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang memiliki peran strategis. Keluarga yang dibangun di atas kasih Tuhan menjadi tempat pertama di mana nilai-nilai kebenaran dan kasih dipelajari, dihidupi, dan diteruskan ke generasi berikutnya.
“Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.” (Kolose 3:20)
“Hai para suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” (Kolose 3:19)
“Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih.” (Kolose 4:5-6)
Seperti dikatakan oleh John Calvin, seorang tokoh reformasi yang memiliki pengaruh besar dalam pemikiran gereja: “Keluarga adalah sekolah utama untuk kehidupan rohani.”
Penguatan keluarga juga berarti membangun komunitas yang saling mendukung, menguatkan, dan menolong. Gereja Protestan Maluku tidak hanya fokus pada pertumbuhan kuantitas jemaat, tapi juga pada kualitas kehidupan rohani setiap keluarga sebagai fondasi yang akan memperkokoh bangsa Indonesia.
GPM sebagai gereja yang merayakan usia ke-90, menyadari bahwa untuk mengokohkan bangsa, harus dimulai dari memperkuat keluarga. Ketika setiap keluarga menjadi komunitas kasih yang kokoh, mereka menjadi sumber kekuatan moral, sosial, dan spiritual bagi masyarakat dan bangsa.
Dalam realitas sosial yang penuh tantangan, mulai dari ketimpangan ekonomi, pergeseran nilai-nilai moral, hingga ancaman disintegrasi sosial, keluarga yang dibangun atas kasih Tuhan memberikan harapan baru. Dengan dukungan gereja, keluarga dapat menjadi garda terdepan dalam menghadirkan nilai-nilai Kristiani yang membawa kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan.
Menginjak usia 90 tahun, Gereja Protestan Maluku telah menunjukkan komitmen yang teguh dalam menabur firman Tuhan, bertumbuh dalam anugerah-Nya, dan berbuah dalam pelayanan nyata. Kasih Tuhan menjadi sumber kekuatan dan motivasi utama yang mendorong gereja untuk terus melayani, mendampingi keluarga, dan mengokohkan bangsa.
Momentum 90 tahun ini bukan hanya perayaan sejarah, tapi juga panggilan untuk refleksi dan pembaruan. Apakah kita, sebagai bagian dari GPM, masih teguh dalam iman? Apakah gereja kita masih peka terhadap suara Tuhan dan jeritan dunia? Apakah kita masih berbuah bagi kehidupan bersama?
Untuk itu, memasuki usia 90 tahun adalah tonggak yang patut disyukuri, namun juga menjadi momen reflektif: ke mana arah GPM ke depan? Menjadi cahaya Injil berarti terus hadir sebagai pembawa damai, penggerak kasih, dan pelayan kebenaran di tengah dunia yang sering kali gelap oleh kepentingan, perpecahan, dan ketidakadilan. Gereja tidak boleh larut dalam nostalgia masa lalu, melainkan harus terus membangun spiritualitas yang kuat, pelayanan yang berdampak, dan komunitas yang inklusif.
Mari menjadikan HUT ke-90 ini sebagai momen untuk memperkuat komitmen kita sebagai gereja yang hidup, yang terus bertumbuh dalam kasih, dan berbuah bagi semua orang—melintasi batas agama, suku, dan golongan. Karena hanya dengan menjadi gereja yang teguh dalam iman dan profetik dalam tindakan, GPM akan tetap relevan dan menjadi berkat di abad berikutnya.
Dengan semangat “Cahaya Injil di Tengah Zaman yang Berubah”, GPM dipanggil untuk tidak hanya bertahan, tetapi bertumbuh. Bertumbuh dalam iman, bertumbuh dalam pengabdian, dan bertumbuh dalam menjawab tanda-tanda zaman. Sebab terang Kristus yang sejati tidak pernah padam, dan gereja-Nya akan terus menjadi pelita yang menuntun umat manusia menuju pengharapan yang hidup.
Mari kita terus menabur firman dengan setia, bertumbuh dalam kasih dan pengenalan akan Kristus, serta berbuah bagi kemuliaan nama Tuhan dan kemajuan bangsa.
Selamat ulang tahun ke-90, GPM!
Semoga Tuhan memberkati perjalanan gereja dan keluarga-keluarga di dalamnya.
*Opini ini merupakan tanggungjawab penulis seperti tertera dan bukan merupakan tanggungjawab redasi suaradamai.com





