Kesalahan Fatal Petani dan Nelayan yang Diam-Diam Menghancurkan Penghasilan

Di Kabupaten Kepulauan Aru, sebagian besar keluarga hidup dari kebun dan laut. Ada yang menanam kelapa, ada yang menangkap ikan, ada juga yang mencari teripang. Semua itu menjadi sumber penghasilan utama masyarakat.

Namun ada satu kenyataan yang jarang disadari: banyak hasil kerja petani dan nelayan sebenarnya kehilangan harga karena cara kerja yang salah.

Kesalahan ini bukan karena masyarakat malas atau tidak mau belajar. Sebaliknya, kebanyakan cara kerja yang dipakai hari ini adalah cara lama yang diwariskan turun-temurun. Orang tua mengajarkan kepada anak, dan anak meneruskan kepada generasi berikutnya.

Masalahnya, cara lama itu tidak pernah benar-benar diperiksa apakah masih menguntungkan atau justru merugikan.

Contohnya sederhana.

Banyak hasil kebun dipanen asal-asalan. Ada yang dipetik terlalu cepat karena butuh uang. Ada juga yang dibiarkan terlalu lama. Setelah dipanen, proses pengeringan sering dilakukan sembarangan. Ada yang dijemur di tanah, ada yang kena hujan, ada yang bercampur dengan kotoran.

Akibatnya kualitas hasil kebun menjadi buruk. Ketika dijual, pembeli memberi harga rendah.

Pedagang sering disalahkan. Padahal kenyataannya, barang yang dijual memang sudah rusak mutunya.

Hal yang sama juga terjadi di laut.

Pada komoditas mahal seperti teripang, banyak yang ditangkap saat ukurannya masih kecil. Ada juga yang diproses dengan cara yang salah sehingga bentuknya rusak. Padahal di pasar luar daerah, bahkan luar negeri, teripang yang bagus bisa dihargai sangat mahal.

Karena kualitasnya rendah, harga yang diterima nelayan juga ikut rendah.

Inilah masalah yang sebenarnya sedang terjadi. Harga jatuh bukan selalu karena pasar yang jahat, tetapi sering karena mutu hasil kita sendiri yang rendah.

Ini memang kenyataan yang pahit untuk didengar. Tetapi jika tidak disadari sekarang, kerugian ini akan terus terjadi dari tahun ke tahun.

Karena itu masyarakat perlu mulai melihat kebiasaan lama dengan jujur. Mana yang masih baik, dan mana yang sebenarnya merugikan.

Perubahan tidak harus sulit. Dengan cara panen yang benar, pengeringan yang bersih, penyimpanan yang baik, dan cara tangkap yang lebih selektif, kualitas hasil bisa naik. Jika kualitas naik, harga juga bisa naik.

Di sinilah pentingnya pelatihan dan aturan baru. Bukan untuk mempersulit petani dan nelayan, tetapi untuk melindungi harga hasil kerja mereka sendiri.

Kabupaten Kepulauan Aru memiliki laut yang kaya dan kebun yang luas. Potensi ini sangat besar. Tetapi potensi itu hanya akan memberi kesejahteraan jika kualitas hasilnya juga baik.

Sudah waktunya kita berani mengatakan satu hal yang mungkin mengejutkan:

“selama ini kita sendiri yang tanpa sadar merusak harga kita”.

Jika kesadaran ini muncul, maka perubahan akan lebih mudah terjadi. Dan ketika cara kerja mulai diperbaiki, penghasilan petani dan nelayan Aru juga akan ikut meningkat.


Bagikan:

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Populer

Artikel terkait

PDGI Maluku Diharapkan Perkuat Layanan Kesehatan Gigi hingga Wilayah Terpencil

Ambon, suaradamai.com — Pemerintah Provinsi Maluku mendorong penguatan...

Musrenbang RKPD Tahun 2027, Bupati Kaidel Tekankan Pembangunan Partisipatif

Dengan terselenggaranya Musrenbang ini, diharapkan program pembangunan di Kabupaten...

Jemaat Paulus Mendesba Harap Dukungan Pemda untuk Pembangunan Gedung Gereja Permanen

Di balik sukacita kebangkitan Kristus yang dirayakan pada 5...

Musrenbang RKPD 2027, Pemkot Ambon Tekankan Inovasi dan Kolaborasi Pembangunan

Dalam arahannya, Wattimena menekankan pentingnya sikap antisipatif, inovatif, serta...