Candaan Wabup Teluk Bintuni soal “Kiamat” di Depan Pendeta Yandi Bikin Jemaat Tertawa

Wakil Bupati Teluk Bintuni, Joko Lingara, mencairkan suasana KPI dengan humor segar tentang kebersamaan lintas agama dan kematian yang tak bisa diwakilkan.


Bintuni, suaradamai.com – Suasana Kebaktian Penyegaran Iman (KPI) di Alun-Alun Argo Sigemerai, SP V, Distrik Bintuni, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, Senin (11/5/2026) malam, sempat pecah tawa saat Wakil Bupati Joko Lingara melontarkan sejumlah candaan segar di hadapan Pendeta Yandi Manobe dan ratusan jemaat yang hadir.

Di tengah sambutan resminya, Wabup Lingara tiba-tiba berseloroh soal kiamat — mengaitkannya dengan semangat kerukunan antarumat beragama yang selama ini menjadi kebanggaan Teluk Bintuni.

“Yang bisa memisahkan kita adalah kiamat saja. Kalau kiamat datang, kita semua akan habis. Kalau kita mati satu-satu itu kurang bagus, kalau kiamat kan kita mati rame-rame,” ujar Lingara, disambut tawa jemaat.

Tak berhenti di situ, Wabup yang dikenal dekat dengan masyarakat ini melanjutkan dengan humor soal tradisi “perwakilan” di dunia birokrasi — yang ternyata tidak berlaku untuk urusan kematian.

“Kalau ada acara dan Pa Wakil tidak hadir, bisa diwakili asisten. Tapi kalau mati, tidak ada yang mau bilang ‘sudah, saya wakili Bapak mati dulu’. Pasti tidak ada yang mau,” selorohnya, kembali memancing gelak tawa hadirin.

Di balik humor itu, pesan Wabup Lingara sesungguhnya serius: kebersamaan lintas agama di Teluk Bintuni bukan sekadar slogan. Ia menyebut bahwa Islam, Katolik, dan Protestan di daerah itu telah hidup berdampingan secara harmonis sejak zaman leluhur — bahkan saling dilibatkan dalam kegiatan keagamaan masing-masing, termasuk MTQ.

Wabup Lingara juga mengungkapkan bahwa malam itu ia harus membagi waktu antara KPI di SP V dan rapat panitia Pesparani Katolik di SP1 yang ia ketuai — dua kegiatan yang waktunya bersamaan. Dengan nada berkelakar, ia bercerita berhasil “melobi” Pastor agar diberi kesempatan hadir lebih dulu di KPI, semata karena ingin melihat langsung sosok Pendeta Yandi Manobe yang selama ini hanya ia kenal dari TikTok.

“Saya ini sembahyang dua kali, Bapak Pendeta. Hari Jumat ke masjid, hari Minggu ke gereja. Banyak-banyak amal supaya masuk surga,” katanya, disambut tawa dan tepuk tangan jemaat.

KPI dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-28 Jemaat GKI Ebanhaezer Bintuni itu mengusung tema Kasih Kristus Menggerakkan Kemandirian Gereja: Mewujudkan Keadilan, Perdamaian, dan Kesejahteraan.

Kehadiran Pendeta Yandi Manobe disambut antusias oleh jemaat yang selama ini hanya bisa menyaksikan pelayanannya melalui media sosial.

Editor: Labes Remetwa


Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Kabupaten Teluk Bintuni


Bagikan:

Populer

Artikel terkait

Bupati Kaidel Ajak Warga Aru Sukseskan Sensus Ekonomi 2026: Dasar Kebijakan Ekonomi Tepat Sasaran

‎Sensus ini mencakup pendataan seluruh pelaku usaha non-pertanian di...

‎Website Desa, Langkah Besar Kepulauan Aru Maju Mendunia dari Desa

Peluncuran website desa menandai titik awal perubahan besar bagi...

Mengapa Program 10 Juta Pohon Kelapa Layak Diperhitungkan untuk Masa Depan Aru?

‎Lewat program 10 juta pohon kelapa, Kepulauan Aru sedang...

Perdana, Distrik Merdey Tertibkan Pedagang yang Gunakan Rumah Dinas sebagai Tempat Usaha

Kesepakatan sewa lahan dan bangunan dicapai dalam rapat lintas...