Silas terpaksa menjadi simpatisan KKB akibat penyerangan kelompok tersebut pada 2021 lalu. Kini, ia bersama keluarga telah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi setelah empat tahun hidup di hutan.
Bintuni, suaradamai.com – Kisah Silas Meyem, seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Distrik Moskona Barat, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, tergolong unik. Pria kelahiran Surkah pada 20 Desember 1985 itu, sempat menjadi simpatisan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) bukan karena kemauan sendiri, melainkan karena keadaan.
Cerita Silas bermula pada tahun 2021. Saat itu, kelompok tersebut melakukan penyerangan ke kampungnya, Meyerga. Dalam kondisi sakit, ia bersama istri dan tujuh anggota keluarganya, melarikan diri ke hutan untuk menyelamatkan diri.
Namun nahas, pelarian mereka justru diikuti oleh KKB. Silas dan keluarga lalu dipaksa untuk bergabung.
“Dong (KKB) masuk kampung situ. Makanya rame, kita lari ke hutan sana. Dong lari ikut. Makanya kita kembali susah, karena kembali dorang ancam kita,” tutur Silas kepada suaradamai.com, belum lama ini.
Ia dan keluarga terpaksa ikut kemauan KKB. Kendati demikian, Silas menegaskan bahwa ia tidak terlibat dalam aktivitas yang dilakukan kelompok tersebut.
Selama empat tahun, ia dan keluarga hidup di hutan. Mereka bertahan dengan makanan seadanya.
“Kita tinggal saja. Bikin kebun, pangkur sagu, bikin rumah. Itu saja. Kita makan Kasbi, pisang, sayur gedi. Itu saja. Terus senter malam, panen daging, itu saja. Tidak ada yang lain. Kita di situ saja. Mau ke sana takut, naik ke sini takut anggota (aparat TNI). Sama saja,” kata Silas.
Namun saat kehabisan bahan makanan, Silas sesekali turun ke kampung untuk meminta bantuan keluarga.
“Terus kita kadang naik ke distrik. Kita takut anggota. Makanya keluarga kita dong kasih gula, garam. Kalau tidak ada, kita mau bikin bagaimana,” kata Silas.
Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi
Empat tahun hidup dalam ketidakpastian akhirnya membuat Silas memutuskan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Dengan bantuan saudaranya, Edoard Orocomna—anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Barat—Silas dan keluarganya berhasil pulang.
“Saya empat tahun tidak makan betul, tidak minum betul. Selama itu saya bikin kebun sendiri, tebang sagu, sampai sudah empat tahun saya bilang ‘ah, saya ini pegawai, lebih baik saya undur sudah’. Sa pu ade ini, Edoard Orocomna ini yang di MRP Papua Barat, dia yang urus saya. Lalu saya kembali,” kata Silas.
Setelah kembali, Silas langsung melapor ke Polres Teluk Bintuni. Ia diperiksa hingga dini hari sebelum menyatakan kesetiaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Saya keluar langsung buat pernyataan bahwa for harga mati NKRI. Itu langsung tinggal proses, sudah. Saya tinggal sampai sekarang [di Bintuni],” kata Silas.
Pada peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI, 17 Agustus lalu, Silas bersama istri dan tujuh anggota keluarganya mengucapkan ikrar kesetiaan kepada NKRI. Prosesi yang berlangsung di Gelanggang Argo Sigemeray, Teluk Bintuni itu disaksikan langsung oleh Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy.
Minta pindah tempat tugas
Kini, setelah proses pemulihan berjalan, Silas bertekad melanjutkan pengabdiannya sebagai aparatur sipil negara. Ia berharap bisa dipindahkan ke kota karena trauma dengan pengalaman masa lalu di distrik.
“Bapa punya harapan itu dua saja. Saya harus kerja. Mutasi dari distrik ke kabupaten sini. Saya tidak bisa kembali ke distrik. Kalau kembali itu agak terganggu. Saya kemarin sudah setor berkas ke Bupati. Bupati mau sa pindah ke Dinas Kominfo,” kata Silas.
Selain itu, Silas juga berharap pemerintah dapat membantunya mendapatkan tempat tinggal di kota, karena saat ini ia masih menumpang di rumah keluarga.
Editor: Labes Remetwa









