Perhelatan besar ini dipusatkan di Pelataran Masjid Raya Al-Fatah dan diperkirakan akan dihadiri ribuan jamaah.
Ambon, suaradamai.com – Lebih dari seratus tokoh habaib, masyaikh dan ulama dari berbagai wilayah Maluku, Maluku Utara, hingga Papua akan diperingati dalam acara Maulid dan Haul Akbar Ulama se-Maluku ke-IV yang digelar pada, Jum’at malam (21/11/2025).
Perhelatan besar ini dipusatkan di Pelataran Masjid Raya Al-Fatah dan diperkirakan akan dihadiri ribuan jamaah.
Acara ini menjadi cara masyarakat merawat ingatan kolektif bahwa perjalanan keislaman Maluku bukan hanya sejarah, tetapi napas yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Majelis Al-Huseini Ambon, berkolaborasi dengan DPC Rabithah Alawiyah Ambon, Yayasan Ar-Rahmah Ambon, serta Perkumpulan Pemuda Alawiyyin Ambon.
Seratus Lebih Nama Dalam Ingatan Bersama
Daftar haul yang dirilis panitia tahun ini memuat lebih dari seratus nama habaib, masyaikh dan ulama. Mereka adalah tokoh-tokoh yang menjadi fondasi sejarah Islam di kawasan timur Indonesia dan berperan besar dalam membangun peradaban keagamaan masyarakat Maluku.
Ketua Majelis Ratib Wa Maulid Al-Huseini Ambon, Sayyid Hasan bin Syekh Abubakar, mengatakan setiap nama yang tercantum dalam daftar tersebut memiliki peran penting dalam kehidupan umat pada masanya.
“Setiap nama dalam daftar haul adalah guru bagi masyarakatnya. Ada yang mendidik dari surau kecil, ada yang membina jamaah melalui majelis ilmu, dan ada pula yang menjadi rujukan dalam urusan adab dan akhlak,” ujarnya Selasa (18/11/2025).
Ia menambahkan bahwa para tokoh tersebut merupakan para pewaris Nabi yang sepanjang hidupnya telah memperkuat pendidikan agama, menjaga tradisi maulid dan tahlil, serta menanamkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin di Maluku dan wilayah sekitarnya.
Jejak dakwah para tokoh agama tersebut membentuk denyut kehidupan Islam yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Ambon, Pulau Seram, Jazirah Leihitu, Bacan, Ternate, Tidore hingga pesisir Papua.
Ruang Perjumpaan Umat
Ia melanjutkan bahwa haul kali ini dirancang tidak semata sebagai ritual tahunan, melainkan sebagai ruang perjumpaan yang lebih luas bagi masyarakat.
“Haul ini adalah momentum sosial. Di sini para habaib, masyaikh, ulama, guru ngaji, tokoh masyarakat hingga para pemuda bisa duduk bersama untuk merajut persaudaraan,” ungkapnya.
Ia menuturkan, tradisi dzikir, tahlil, dan pembacaan maulid dalam haul nanti bukanlah hal baru, melainkan tradisi yang telah berakar kuat dan diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat muslim Maluku.
Jejak Panjang Islam di Maluku
Sejak abad ke-19, para ulama, saudagar Arab–Hadrami, para habaib dan para masyaikh datang ke bumi Maluku membawa cahaya ilmu dan adab. Melalui majelis-majelis kecil yang tumbuh di kampung-kampung pesisir hingga pulau-pulau terpencil, mereka menanamkan ajaran tentang tauhid, akhlak dan cinta kepada Rasulullah SAW.
Dari lingkungan yang sederhana itulah lahir generasi ulama yang kemudian membentuk corak keislaman Maluku—sebuah ajaran Islam yang ramah, teduh, bersahaja, dan kaya tradisi.
Ketua panitia, Sayyid Faisal Alhamid, menyebut perayaan ini sebagai ruang menghubungkan generasi masa kini dengan teladan para ulama terdahulu.
“Kami berharap para pemuda mengenal lebih dekat siapa saja ulama yang dulu membangun fondasi keislaman di Maluku, agar tradisi keilmuan dan akhlak itu tidak putus,” ujarnya.
Rangkaian Kegiatan
Sejumlah kegiatan dijadwalkan berlangsung, di antaranya:
• Ziarah makam para ulama
• Pembacaan Al-Fatihah, Yasin dan Tahlil
• Hadrah dan pembacaan Maulid Simthudduror karya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang haulnya ke-114 juga dirangkaikan pada peringatan ini.
• Tausiyah dari para ulama
• Pembacaan riwayat haul Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi beserta tokoh-tokoh ulama se-Maluku.
Panitia tengah mematangkan persiapan menjelang malam puncak peringatan tersebut. Dua hari lagi, Pelataran Al-Fatah diperkirakan akan dipenuhi lantunan shalawat dan dzikir yang menyatukan jamaah dalam suasana khidmat.





