Makam Leluhur dan Benteng Batuan, Pesona Wisata Wulurat (Bagian 2)

Ohoi Wulurat, Kecamatan Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara, telah ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat sebagai ohoi wisata budaya di Kepulauan Kei. Keindahan alam sekeliling ohoi, keberadaan makam para leluhur ‘Iksail’, dan diperindah sebuah konstruksi benteng batuan kuno ‘Lutur Ko Yam Faak’  yang berdiri kokoh, membuktikan kemajuan perabadan budaya masyarakat Kei. Potensi tersebut pula, tak salah, bila mendaulat Ohoi Wulurat sebagai ohoi wisata budaya.


Letak Ohoi Wulurat yang berjarak sekira 1 kilometer bila ditempuh dari Pelabuhan Kapal Elat, membuat Ohoi Wulurat salah satu ohoi yang mudah diakses di Pulau Kei Besar. Ketika telah menginjakan kaki di Pelabuhan Elat, cukup menempuh waktu sekira 3-4 menit untuk tiba di ohoi dengan sebutan ‘Woma El Walob’ ini.

Akses yang mudah ditambah biaya murah transportasi, cukup merogoh kantong pribadi Rp 5.000 untuk menumpangi sepeda motor (ojek) menuju Ohoi Wulurat. Sebelum, anda memasuki Ohoi Wulurat, suasana hutan rumbia akan menawarkan tempat wisata yang alami, hijau dan sejuk dengan latar belakang budaya Kei.

Pemerintah Ohoi Wulurat, dalam perencanaan mendukung wisata ohoi budaya, akan dibangun penataan seperti, kolam ikan, gasebo, ruang santai. Dibangun fasilitas pendukung lain yakni, kolam renang, ruang olahraga berupa lapangan futsal, lapangan volly ball, lapangan tenis, lapangan basket, ruang bilyard, ruang permainan anak timezone, dan ruang selfi.

Warga dan pemerintah Ohoi Wulurat telah berkomitmen menjadikan Ohoi Wulurat sebagai ohoi wisata budaya Kei. Tahapan tahun 2012, beberapa kali digelar pertemuan tingkat ohoi untuk mengambil gagasan dan mufakat untuk mengangkat benteng batu menjadi salah satu destinasi wisata budaya Kei.

Selanjutnya, pada tahun yang sama, dibentuk sanggar budaya untuk mengelola, pada tahun 2015 dibangun jalan batu lingkar Benteng Batu Ko Yam Faak. Pada tahun 2016, dibangun kerjasama dengan Tari Travel Makassar sebagai jaringan akses perjalanan tamu wisata ke Ohoi Wulurat.

Pemerintah ohoi menyiapkan layanan paket wisata diantaranya, paket terima tamu yang diisi ritual situringin, tari panah pengantar jalan, tari penghormatan, tuilsak wina, dan kunjungan rumah adat.  Untuk menikmati paket ini, anda perlu mengeluarkan biaya Rp 800.000, dan Rp 1.500.000, disesuakan jumlah tamu.

Homestay dengan tarif nginap 1 malam Rp 100.000 per orang, makan Rp 50.000 sekali makan per orang, makan adat untuk satu menu sekali kunjungan untuk kurang dari 3 tamu Rp 500.000 per sekali makan/orang.  Spot panorama alam untuk 1 guide lokal harga Rp 50.000. Spot panorama pantai Pulau kelapa dan sekitarnya 1 kali kunjungan dengan sewa speed boat Rp 500.000.

Pada tahun 2017, dibangun dua rumah adat dan pakaian adat (seting). Pada tahun 2020, pembangunan salah satu sarana pendukung akses ke Iksail Te’teen (kuburan tua) Ko Yam Faak, jalan utama  Wear Bail, pada tahun 2021, pembangunan gedung pegelaran, dan pembangunan panggung dan lapangan, pada tahun 2022 pembangunan kolam renang dan spot.

Sementara pelaku pengelolaannya adalah sanggar budaya, pemerintah ohoi dan warga ohoi, dengan sumber dana pendanaan adalah dana ohoi (desa), swadaya masyarakat, dan bantuan lain. Capaian dan target adalah adanya kemajuan pembangunan, peningkatan ekonomi masyarakat, adanya penghasilan asli ohoi (PAD), terpenuhinya kebutuhan publik, wisata berbasis budaya dan hiburan, menjadi pusat pengembangan budaya, penciptaan lapangan kerja dan pelestarian budaya dan adat istiadat.

Ketika adanya identitas ohoi yang kaya akan adat, budaya dan peninggalan arkeologi menuju tingkat peradaban yang tinggi, sebagai modalitas kemandirian ohoi sehingga regenerasi tidak mengalami diskriminatif terhadap perkembangan budaya. Sebuah sejarah yang ada faktanya dan bukan mitos yang diagungkan untuk mengangkat jati diri dan mendiskreditkan yang lain.

Rekomendasi adalah, pengelolaan pengembangan wisata Ohoi Wulurat perlu diperkuat dengan peraturan ohoi tentang Ohoi Wulurat sebagai ohoi wisata budaya Kei, penyusunan profil ohoi tentang sejarah berdirinya Ohoi Wulurat.

Juga sosialisasi program ke semua pemangku kepentingan, membangun kemitraan ke pihak terkait dalam hal membangun sadar wisata masyarakat Ohoi Wulurat. Membahas status kepemilikan lahan, membahas sumber biaya dan percepatan pembangunan, pembuatan master plan pembangunan dan side plan untuk masing-masing spot, dan realisasi pembangunan tiap spot berdasarkan skala prioritas kebutuhan.

Dari gambaran di atas maka dapat dikatakan bahwa Ohoi Wulurat sebagai ohoi wisata budaya Kei adalah suatu realita bukan slogan atau wacana, sebuah keunggulan dan peluang untuk Ohoi Wulurat maju dan Ko Yam Faak. (bersambung)

Catatan Tarsis Temorubun, Reporter Suara Damai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU