Di tengah ancaman terhadap tanah adat, OMK St. Yohanes Bintuni menegaskan pentingnya wilayah adat sebagai sumber kehidupan dan fondasi ketahanan pangan.
Bintuni, suaradamai.com – Orang Muda Katolik (OMK) St. Yohanes Bintuni menggelar seminar dengan tema wilayah adat sebagai fondasi untuk ketahanan pangan. Kegiatan dilaksanakan di Kampung Masina, Distrik Bintuni, Teluk Bintuni, Papua Barat, Jumat (8/8/2025).
Seminar ini merupakan bagian dari peringatan Hari Internasional Masyarakat Adat atau International Day of the World’s Indigenous Peoples yang jatuh pada 9 Agustus setiap tahunnya.
Secara global, peringatan hari masyarakat adat mengangkat tema Indigenous Peoples and AI: Defending Rights, Shaping Futures atau masyarakat adat dan kecerdasan buatan (AI): membela hak, membentuk masa depan.
Sementara di Teluk Bintuni, Orang Muda Katolik setempat mengangkat tema wilayah adat sebagai fondasi untuk ketahanan pangan. Tema ini diangkat sebagai bentuk refleksi atas pentingnya mempertahankan tanah adat sebagai sumber kehidupan dan ketahanan pangan bagi masyarakat adat setempat.
Seminar menghadirkan empat narasumber, yakni Panitia Masyarakat Hukum Adat Dr. George Frans Wanma, yang memberikan pemahaman tentang regulasi yang mengatur tentang masyarakat adat dari UUD 1945 hingga Perda Nomor 1 tahun 2019 tentang pengakuan dan perlindungan masyarakat hukum adat.
Selanjutnya ada juga anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Barat Theres F. Ateta. Perwakilan unsur perempuan di MRP ini menyampaikan materi tentang jaga tanah dan manusia Papua.
Kemudian ada juga dari unsur Pemkab Teluk Bintuni, yaitu Kepala Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Teluk Bintuni Yakobus Yerkohok. Yerkohok menjelaskan tentang penguatan pangan lokal untuk mencegah krisis pangan.
Terakhir, Yustina Ogoney. Ogoney adalah aktivis lingkungan, pemerhati adat, Kepala Distrik/Kecamatan, dan Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Papua Barat. Ogoney membahas keberadaan masyarakat adat di tengah proyek strategis nasional (PSN).
Puluhan peserta yang berasal dari OMK, unsur pemuda, tokoh masyarakat, dan tokoh adat, sangat antusias mengikuti seminar tersebut. Mereka terlibat aktif dalam diskusi dengan memberikan pendapat, masukkan, dan mengajukan pertanyaan.
Pantauan suaradamai.com, seminar yang berlangsung selama satu hari ini rasanya tidak cukup. Sebab hingga seminar usai, peserta masih mengancungkan tangan untuk menyampaikan pandangan mereka.
Baik narasumber maupun peserta, meminta agar pada peringatan Hari Internasional Masyarakat Adat yang berikut, kegiatan harus dibarengi dengan aksi nyata seperti menanam pohon buah-buahan dan aksi lainnya yang berkaitan dengan masyarakat adat.
Sebagai informasi, seminar ini juga dihadiri oleh Asisten II Bidang Administrasi Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Teluk Bintuni, I. B. Putu Suratna yang mewakili Bupati dan Isteri Bupati Verawati Manibuy, dan Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Teluk Bintuni Muhammad Saiful Adha.
Editor: Labes Remetwa
Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Kabupaten Teluk Bintuni





