Pemkab Aru Segerakan Musyawarah Adat untuk Budidaya Teripang Berbasis Sasi & Pengembangan Pohon Emas

“Mangrove kita dijaga, harus ada peraturan bupatinya, terumbu karang dijaga. Jadi selama ini diangkat untuk bahan bangunan, pesisir pantai kita angkat pasir untuk bahan bangunan. Nah semua ini kita akan bahas dalam musyawarah. Supaya kita sosialisasi, supaya masyarakat itu mau menjaga alam dia dengan baik,” terang Kaidel.


Dobo, suaradamai.com – Bupati Kepulauan Aru Timotius Kaidel mulai mengerjakan satu persatu terobosan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi hijau di sektor darat dan ekonomi biru di sektor laut.

Ekonomi hijau berfokus kepada pengembangan 10 juta pohon kelapa atau dijuluki pohon emas, sedangkan ekonomi biru berfokus kepada budidaya teripang berbasis kearifan lokal ‘sasi adat’.

Selain memiliki prospek pasar yang baik di dunia, Bupati Kaidel melihat kelapa sebagai salah satu sumber daya berkelanjutan yang harus digalakan sebagai bekal bagi generasi Aru kedepan.

Bupati Kaidel juga meyakini Kepulauan Aru memiliki kondisi geografis yang sangat mendukung budidaya teripang berbasis alam.

Terumbu karang, ekosistem pesisir, dan tradisi adat sasi menjadi modal penting dalam pengelolaan berkelanjutan.

Bupati Kaidel melihat peluang emas dari komoditi teripang yang menurutnya selama ini kurang dimaksimalkan.

Untuk mengeksekusi ini, pemerintah daerah dalam waktu dekat akan menyelenggarakan Musyawarah Adat Desa yang melibatkan semua pemangku kepentingan desa.

“Baik itu kepala desa, tokoh adatnya, tokoh masyarakatnya, tokoh agamanya, ini semua kita akan buat satu musyawarah adat,” ucap Kaidel dalam dialog bersama Redaksi Suaradamai.com di ruang kerjanya, Senin (3/11/2025).

Selain membahas program, program daerah, Musyawarah Adat ini kata Bupati Kaidel akan membahas poin-poin penting seperti budidaya kelapa hingga budidaya teripang berbasis alam.

“Terutama dalam sisi daratnya itu ada budidaya kelapa, pertanian tentang kelapa, dan di laut tentang sasi teripang atau budidaya teripang secara alam,” kata Kaidel.

Selain itu, Kaidel menjelaskan, dalam Musyawarah Adat itu juga akan diatur regulasi pelestarian lingkungan.

“Mangrove kita dijaga, harus ada peraturan bupatinya, terumbu karang dijaga. Jadi selama ini diangkat untuk bahan bangunan, pesisir pantai kita angkat pasir untuk bahan bangunan. Nah semua ini kita akan bahas dalam musyawarah. Supaya kita sosialisasi, supaya masyarakat itu mau menjaga alam dia dengan baik,” terang Kaidel.

Bagi Kaidel, alam Aru sangat penting dan bermanfaat bagi masyarakatnya sendiri, sehingga harus dijaga tetap lestari.

“Sehingga alam itu mampu menghidupi dia dan anak cucunya ke depan,” pungkas Kaidel.


Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Kabupaten Kepulauan Aru


Bagikan:

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Populer

Artikel terkait

Lampaui Target 2025, Penumpang di PELNI Tembus 5,15 Juta Orang

Kepala Cabang Pelni Tual, Teguh Harisetiadi, menyampaikan bahwa realisasi...

Konflik di Ohoi Ngadi Berakhir, Wawali Tual: Tanpa Rasa Aman Pembangunan Tak Jalan

Tual, suaradamai.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Tual bersama para...

Sah! Ini 3 Calon Direktur Polikant Periode 2025-2029

Kabalmay mengatakan, proses tahapan penyaringan ini sesuai dengan mekanisme...

Bupati Kaidel: Panen Raya 2026 Jadi Motivasi Petani Aru Dukung Program Nasional

Bupati Kaidel mengatakan, panen raya ini menjadi momentum untuk...