Strategi Hilirisasi dan Digitalisasi Jaga Pertumbuhan Ekonomi Nasional 2023  

Pada 2020 Indonesia dilanda pandemi Covid-19. Pemerintah melakukan kolaborasi pusat dan daerah. Ekonomi kita pada 2021 dan 2022 terbukti stabil..


Jakarta, Suaradamai.com – Dunia yang dilanda pandemi Covid-19 selama dua tahun, disusul konflik Rusia-Ukraina yang berdampak besar pada krisis pangan dan energi, membuat fenomena resesi global tak bisa disepelekan.

Setiap negara menghadapinya secara berbeda-beda. Negara-negara maju memberi solusi pada kebijakan moneter. Inflasi yang tinggi dihadapi dengan menaikkan suku bunga. Begitu terjadi krisis energi, mereka menaikkan harga BBM. Sementara, Indonesia masih mampu menahan kenaikan harga BBM itu dengan subsidi.

Masih banyak negara yang terus berkutat dengan pertumbuhan ekonomi mereka. Thailand yang mengandalkan sektor pariwisata belum mampu kembali ke situasi normal.

IMF dan Bank Dunia memprediksi positif  ekonomi Indonesia pada 2023. Ekonomi Indonesia cukup kuat sehingga bisa menghadapi tantangan 2023 dengan lebih tenang.

Bila kita melihat ekonomi kita pada kwartal-kwartal yang lalu, tergambarkan di sana ekonomi Indonesia tumbuh di atas 5 persen. Pada kwartal ketiga yang lalu, kita tumbuh malah 5,3 persen.

Indonesia menerapkan ekonomi terbuka sehingga pengaruh ekonomi global akan terimbas pada ekonomi kita. Pengaruh global cukup terasa.

Bila melihat data ekspor Indonesia pada 2021, terdapat pertumbuhan cukup tinggi ekspor Indonesia ke China dan Amerika, mencapai 72 persen. Ekspor kita pada 2022 sampai Oktober, agak menurun. Namun, pasar ekspor Indonesia ke kedua negara itu justru mengalami kenaikan. Ekspor Indonesia ke Singapura dan Korea Selatan pada 2022 terus meningkat.

Menurut Gunawan dari Kantor Kementerian Perekonomian, prediksi ekonomi Indonesia 2023 terasa tidak adil bila kita tak balik melihat pertumbuhan pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disampaikan Gunawan di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (30/11/2022).

Pada 2020 Indonesia dilanda pandemi Covid-19. Pemerintah melakukan kolaborasi pusat dan daerah. Ekonomi kita pada 2021 dan 2022 terbukti stabil.

“Ini suatu kerja keras yang luar biasa. Kalau kami dari pemerintah ngomong kita bagus, kita keren, itu ada indikatornya. Kita tumbuh 5,7 persen. Sekarang kita bicarakan ekonomi kita 2023 ke depan. Prediksi pada 2023, pertumbuhan kita di atas 5 persen. Dulu, untung penanganan pandemi kita harus beli vaksin, siapkan tenaga medis dan sebagainya. Itu ratusan triliun rupiah,” ujar Gunawan kepada awak media.

Sekarang, pada 2023, Indonesia akan mengeluarkan multiplier-multiplier dengan efek lebih tinggi lagi. Investasi dan pembangunan infrastruktur terus dilanjutkan.

Pertama, terkait dengan hilirisasi. Presiden Joko Widodo menekankan hilirisasi ini. Selama ini kita ada di zona nyaman, tidak memikirkan investasi. Begitu ada harga komoditas yang tinggi di luar negeri, kita ekspor. Indonesia produsen nikel terbesar, namun yang dijual hanya nikel mentahnya, padahal nilai tambahnya bisa mencapai 220 kali. Hilirisasi jadi pendorong pertumbuhan ekonomi kita.

Kedua, menurut Gunawan, terkait digitalisasi. Misalnya, pemerintah daerah (Pemda) sekarang didorong melakukan transaksi digital. Dulu, untuk membayar pajak kendaraan, konsumen harus datang ke Kantor Samsat. Seluruh Pemda sekarang didorong melakukan pembayaran digital, yang lebih efisien.

Keempat, terkait pengembangan peluang bisnis di daerah-daerah. Kita tidak lagi berpusat di Pulau Jawa. Kita bergeser ke pusat-pusat baru ekonomi di daerah luar Jawa untuk memberikan pertumbuhan ekonomi di sana. Pemda didorong menciptakan suasana yang kondusif bagi investasi. Ini akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi nasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU