Menelusuri Jejak Sejarah Kota Tual, Dari Pusat Administrasi Hindia Belanda hingga jadi Daerah Otonom di Maluku

Memasuki era reformasi, aspirasi masyarakat untuk menghadirkan pemerintahan yang lebih dekat dengan rakyat semakin menguat. Melalui perjuangan panjang pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen lainnya, Kota Tual akhirnya lahir sebagai daerah otonom baru di Provinsi Maluku pada 2007.


Tual, suaradamai.com – Kota Tual bukan sekadar salah satu kota di Provinsi Maluku. Daerah yang resmi menjadi kota otonom pada 17 Juli 2007 ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan menempatkannya sebagai salah satu pusat perkembangan pemerintahan, perdagangan, serta kehidupan sosial budaya di kawasan tenggara Maluku.

Status sebagai daerah otonom diperoleh melalui Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2007. Sebelum pemekaran, Kota Tual merupakan ibu kota Kabupaten Maluku Tenggara yang wilayah administrasinya mencakup kawasan yang sangat luas, mulai dari Kepulauan Kei, Kepulauan Aru, Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Babar, hingga gugusan pulau-pulau di wilayah selatan yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Maluku Barat Daya.

Namun, peran strategis Tual telah terbentuk jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, kawasan Bot Tual dijadikan sebagai pusat administrasi Kepulauan Kei yang dipimpin seorang controleur. Wilayah kewenangannya bahkan menjangkau Kepulauan Aru, Kepulauan Tanimbar, hingga sebagian wilayah Papua bagian selatan. Posisi geografis yang berada di jalur pelayaran timur Nusantara menjadikan Tual sebagai simpul penting pemerintahan dan aktivitas perdagangan sejak masa kolonial.

Memasuki era reformasi, aspirasi masyarakat untuk menghadirkan pemerintahan yang lebih dekat dengan rakyat semakin menguat. Melalui perjuangan panjang pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen lainnya, Kota Tual akhirnya lahir sebagai daerah otonom baru di Provinsi Maluku pada 2007.

Dalam perjalanan pemerintahannya, Kota Tual telah dipimpin oleh sejumlah kepala daerah yang mewarnai proses pembangunan kota. Yohanis Patinama tercatat sebagai Penjabat Wali Kota pertama yang mempersiapkan roda pemerintahan awal. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Drs. H. N. M. Tamher sebagai Wali Kota definitif pertama bersama Wakil Wali Kota Adam Rahayaan.

Selanjutnya, estafet kepemimpinan diteruskan oleh sejumlah penjabat wali kota maupun wali kota definitif hingga akhirnya pada periode saat ini Kota Tual dipimpin oleh Wali Kota H. Akhmad Yani Renuat, S.Sos., M.Si., M.H. bersama Wakil Wali Kota H. Amir Rumra, S.Pi., M.Si. Keduanya dilantik Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025.

Secara geografis, Kota Tual berada di gugusan Kepulauan Kei yang meliputi Pulau Dullah, Kepulauan Tayando-Tam, dan Kepulauan Kur. Wilayahnya terdiri atas 66 pulau, dengan 13 pulau berpenghuni dan 53 pulau lainnya belum berpenghuni.

Saat ini Kota Tual memiliki lima kecamatan, tiga kelurahan, 27 desa atau ohoi, serta 11 dusun. Dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 91 ribu jiwa dan luas wilayah sekitar 254,39 kilometer persegi, Kota Tual menjadi kota terbesar kedua di Provinsi Maluku.

Potensi utama daerah ini berada pada sektor perikanan dan kelautan yang didukung letak geografis strategis di kawasan Laut Arafura. Selain itu, sektor perdagangan dan jasa terus berkembang sebagai penopang pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Memasuki usia ke-19 tahun, Kota Tual terus diarahkan menjadi daerah yang mampu tumbuh secara berkelanjutan melalui sinergi pembangunan antara pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Maluku, dan pemerintah pusat. Berbagai program pembangunan yang dijalankan diharapkan mampu memperkuat daya saing daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Perjalanan Kota Tual membuktikan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi menjadi fondasi penting dalam menentukan arah pembangunan masa depan. Dari pusat administrasi kolonial hingga menjadi daerah otonom yang terus berkembang, Kota Tual terus meneguhkan perannya sebagai salah satu kawasan strategis di wilayah timur Indonesia.

Editor:Ketty Remetwa


Catatan Sejarah ini diambil dari pembacaan sejarah singkat pada Hari Ulang Tahun (HUT Kota Tual yang ke – 19 tahun 2026


Bagikan:

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Populer

Artikel terkait

HUT ke-451 Kota Ambon, Wali Kota Paparkan Capaian 17 Program Prioritas

“Pemerintah Kota Ambon menyadari bahwa capaian yang telah diraih...

Jelang HUT ke-451 Kota Ambon, LGJI 2026 Hadirkan Kategori Etnik Budaya Maluku

Ketua Panitia LGJI 2026, Rudolf Pattiasina, mengatakan antusiasme masyarakat...

Pengembangan Kelapa di Aru, Profesor Unpatti Dorong Pemkab Siapkan Pasar dan Pengelolaan Komersial

‎Menurut Prof Tiven, pengembangan industri kelapa dapat menjadi jalan...

KNPI Tuhiba Rancang Pelatihan Siskeudes untuk Cetak Operator Kampung OAP

Dari 14 kampung di Distrik Tuhiba, cuma ada satu...