Minggu, Oktober 25, 2020

“The Dream Team,” Lokomotif Pembangunan Pertanian di Maluku Tenggara

Ada lima orang yang tergabung dalam The Dream Team. Masing-masing memiliki keahlian khusus.


Langgur, suaradamai.com – Untuk mengantisipasi krisis kebutuhan pangan, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara bekerja sama dengan TNI Polri membuka 28 hektar lahan kebun dengan nama Ve’e kes yang.

Ve’e kes yang dikelola oleh OPD dan masyarakat. Bagi Bupati, makna Ve’e kes yang sendiri bukan hanya soal penyedia pangan tetapi juga sebagai bekal pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Ve’e kes yang telah memberikan inspirasi bagi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maluku Tenggara untuk menyelenggarakan pertanian yang lebih menarik. Distan Ketapang hendak membuktikan bahwa bertani bukanlah pekerjaan yang hina, melainkan sebuah pekerjaan yang menarik dan sangat bermanfaat bagi kehidupan. Bertani memerlukan pengetahuan, keahlian yang mampu memberikan inovasi terbaru sehingga membantu pekerjaan menjadi lebih mudah dan menyenangkan.

Memaknai maksud Bupati, Distan Ketapang Malra membentuk sebuah tim yang telah menciptakan gagasan dan inovasi untuk memberikan terobosan bagi sektor pertanian yakni The Dream Team. Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Ketapang Malra Felix Tethool, yang tergabung dalam tim tersebut adalah mereka yang punya ide, terampil, dan mampu membuat inovasi.

Ada lima orang yang tergabung dalam The Dream Team di antaranya Mahfud as Rumra, Chandra Farneubun, Desmi Alwie, Remigius Rejaan dan Silvester Somar. Kelima orang tersebut dengan keahlian dan keterampilan masing-masing. “Tidak semua pegawai dapat bergabung dalam tim ini, hanya mereka yang memiliki keterampilan, ide, dan mampu membuat inovasi yang bisa bergabung,” jelas Felix.

Personil The Dream Team, Chandra Farneubun mengatakan, sektor pertanian dua tahun terakhir ini mengikuti perkembangan zaman, industri 4.0. Dimana pertanian sangat memerlukan inovasi untuk membuat orang tertarik. Dengan mengikuti perkembangan dapat membantu pertanian di Malra maju dan menjadi tempat untuk daerah lain bisa datang dan belajar. Keahlian Chandra sendiri adalah pemetaan digital, memberikan data yang valid. “Hal ini bukan sesuatu yang mudah, kita akan petakan dengan data terperinci dan akan menjadi panduan bagi tempat lain,’’ katanya. Dengan adanya pemetaan dapat diketahui potensi tanah untuk pertanian dan sebagainya.

Untuk pengembangan alat kerja menjadi tugas Desmi Alwie. Menurut Desmi, pekerjaan bertani yang mudah dan menyenangkan adalah lewat alat bantu yang mudah digunakan. Saat ini Desmi telah mengembangkan alat terbaru untuk bertanam yang diberi nama Tudes. Alat ini membantu petani memasukan bibit dan pupuk ke dalam tanah hanya dengan satu tusukan, lalu menutupnya sendiri. 

Inovasi bertanam dengan lahan terbatas yakni bertanam dengan hydroponik merupakan keahlian Silvester Somar. Somar menjelaskan, penduduk saat ini tinggal di kota dengan area terbatas, mengatasi hal tersebut bertanam dengan hydroponik adalah langkah yang tepat. Median yang digunakan pun terjangkau yakni arang sekam dan batu kali.

Pengelolaan posko transformasi teknologi pertanian di ve’e kes yang ditangani oleh Remigius Rejaan. Di Posko tersebut, para petani mendapat motivasi dan pengetahuan praktis tentang pertanian.

Sementara itu, Mahfud Rumra mengurus teknologi irigasi. Terobosan terbaru yaitu 3 jenis smart irigasi antara lain sms irigation, timer irigation dan pengukur kelembapan. Jenis irigasi yang telah digunakan adalah SMS irigasi dan timer irigasi. Pengukur kelembapan sedang dalam tahap pengerjaan.

Menurut Mahfud, terobosan-terobosan ini akan membuat pekerjaan menjadi mudah dan menyenangkan sehingga pandangan masyarakat tentang pertanian itu susah segara berubah. “Saat ini semua alat pendukung dalam tahap pengerjaan namun terhambat karena masalah anggaran,” tambahnya.

Mahfud dan timnya berharap Pemda dapat memberikan dukungan, sehingga semua program terealisasi secepatnya.

Felix menambahkan, dengan penerapan IT dan inovasi-inovasi saat ini, maka memberikan konsep Ve’e kes yang sebagai Smart Farming untuk area Indonesia Timur. Ve’e kes yang adalah ladang inspirasi menyalurkan inovasi dan mengimplementasikan yang diinginkan. “Itu adalah bekal sebenarnya yang dimaksudkan oleh Bupati Maluku Tenggara kepada generasi selanjutnya,” kata Felix.

Editor: Labes Remetwa

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

ARTIKEL TERPOPULER

Pemkot Tual Pulangkan 254 Pelaku Karantina: Terbanyak Mahasiswa

Wali Kota memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menasihati pelaku karantina yang sebagian besar adalah pelajar mahasiswa.

Tharob: Varietas Bawang Merah Tajuk Lebih Baik dan Cocok di Kei

Bawang merah varietas tajuk yang diproduksi di Kei memiliki ciri yang sama seperti di Nganjuk, Jawa Timur. Langgur, suaradamai.com...

Jalan Trans Pulau Kei Besar Resmi Jadi Proyek Prioritas Nasional

Selamat untuk seluruh masyarakat Maluku Tenggara. Kita tatap Maluku Tenggara yang lebih baik. Langgur/Jakarta, suaradamai.com – Kabar baik bagi...

Kerajinan Tangan Warga Ohoiren Perlu Inovasi

Kerajinan tangan lokal mulai mengalami kemunduran karena tidak ada inovasi. Langgur, suaradamai.com – Industri kreatif seperti kerajinan tangan...

KOMENTAR TERBARU