Polikant mengembangkan alat pengering hybrid untuk proses pengeringan enbal atau singkong. Pengembangan alat ini merupakan bagian dari penelitian Tim Riset Inovasi Berbasis Potensi Daerah Polikant.
Langgur, suaradamai.com – Dalam rangka mendukung produksi enbal “KALORI”, Tim Riset Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) mengembangkan dua alat inovatif, yaitu mesin press enbal dan alat pengering hybrid. Kedua alat tersebut telah selesai dibuat dan telah melalui tahap uji coba.
Ketua Tim Riset Inovasi Berbasis Potensi Daerah Polikant Ismael Marasabessy menjelaskan, konsep hybrid pada alat pengering ini merujuk pada penggunaan lebih dari satu sumber panas. Alat yang dikembangkan tim Polikant memanfaatkan panas langsung dari sinar matahari dan serta panas dari biomasa.
“Rumah pengering ini bermanfaat untuk mengeringkan apa saja. Tapi karena saat ini kita fokus ke pengembangan enbal. Maka rumah pengering ini kita tujukan untuk pengeringan enbal. Sehingga proses produksi … karena desain alat sudah memungkinkan pengeringan dalam bentuk cuaca apapun,” jelas Marasabessy kepada suaradamai.com di Polikant, Senin (21/7/2025).
Lebih lanjut, Marasabessy menjelaskan bahwa rumah pengering tersebut dirancang dengan memperhatikan tiga faktor utama: suhu, kelembaban, dan kecepatan angin atau aliran udara.
Untuk meningkatkan suhu di dalam ruangan, tim menggunakan plastik UV berukuran 300 mikron yang mampu menghasilkan efek panas. Bagian dasar ruangan juga dicat hitam agar dapat menyerap panas.
Sementara itu, untuk mengatur kelembaban dan sirkulasi udara, digunakan dua buah turbin ventilator berdiameter 40 cm. Perangkat ini berfungsi menarik udara lembab keluar dari ruangan tanpa memerlukan tenaga listrik.
Marasabessy menambahkan, pihaknya telah melakukan uji coba alat pengering tersebut untuk melihat dua indikator utama, yakni karateristik pengeringan dan kadar air dari produk yang dikeringkan.
Hasil uji coba menunjukkan bahwa suhu di dalam rumah pengering mencapai 50oC saat suhu udara luar 33oC. Hal ini menunjukkan bahwa proses pemanasan berjalan dengan baik.
“Kemudian menggunakan tungku, suhu rak pengeringanya itu 48 oC. Ini juga berjalan dengan baik. Dengan tempurung segenggam, sudah bisa bisa meningkatkan suhu yang optimal untuk pengeringan enbal,” jelas Marasabessy.
Proses pengeringan berlangsung sekitar 4-5 jam. Waktu ini lebih efisien jika dibandingkan dengan penjemuran langsung di bawah sinar matahari yang biasanya memakan waktu seharian namun belum tentu menghasilkan pengeringan sempurna.
“Mungkin kadar airnya sudah bagus. Tapi belasan persen. Padahal kalau produk kering itu kadar air di bawah 10 persen, sekitar 6-7 persen,” jelas Marasabessy.
Tim riset menyatakan puas atas hasil uji coba dan optimistis terhadap potensi alat ini dalam pengeringan produk lain.
“Kami merasa puas dengan hasil yang dicapai. Mudah-mudahan ini bisa berdampak kepada proses pengeringan produk-produk selain enbal,” tambah Marasabessy.
Sebagai informasi, Tim Riset Inovasi Berbasis Potensi Daerah Polikant terdiri atas lima orang, yakni Ismael Marasabessy, S.Pi., M.Si. (ketua), Syahibul Kahfi Hamid, S.Pi., M.P., Dr. Nini Renur, ST., M.Si., Ir. Fien Sudirjo M.Sc., dan Faruk Pilpala, S.Sos.
Editor: Labes Remetwa





