“Supaya masyarakat bisa mawas diri dalam mengonsumsikan bahan pangan yang lebih kepada bahan-bahan pangan dari laut,” ucap Lekatompessy.
Langgur, suaradamai.com – Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) kembali menunjukkan eksistensinya sebagai “ikon” pendidikan perikanan di Maluku.
Langkah nyata ini diwujudkan melalui gelaran Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Integrasi Proses Sertifikasi Halal dan Pengawasan Keamanan Pangan di Kepulauan Kei” yang berlangsung di Aurelia Hotel Langgur, Selasa (27/1/2026).
Kegiatan strategis ini dihadiri oleh jajaran dosen Polikant serta berbagai mitra terkait, dengan menghadirkan dua pakar kompeten sebagai narasumber:
1. Dr. Choma Dintasari Umi Baszary, S.Si., M.Si. (Kepala Lembaga Pendampingan Proses Produk Halal atau LP3H Universitas Pattimura) yang membedah kebijakan dan proses sertifikasi halal.
2. Mathias Sandy Tokan Ola, S.Farm., Apt. (PFM Ahli Madya Balai POM Ambon) yang memaparkan pentingnya Penerapan Cara Produksi Pangan Olahan Yang Baik (CPPOB).
Plt. Direktur Polikant, Jantje Eduard Lekatompessy menegaskan, aspek halal dan keamanan pangan adalah nilai tambah yang krusial bagi produk lokal.
“Kegiatan ini merupakan sebuah nilai tambah sebenarnya untuk mengenalkan kepada masyrakat bahwa yang namanya halal dan kemanan itu penting. Sehingga diharapkan masyrakat bisa memahami ini dan supaya bisa disebarluaskan, terutama kita sebagai user,” ungkap Lekatompessy.
Kata Lekatompessy, Polikant mengundang para narasumber berkompeten Balai POM
dan LP3H Universitas Pattimura sebagai bukti bahwa Polikant masih bersuara dan bisa memberikan banyak hal kepada masyarakat, terutama di Kepulauan Kei.
“Supaya masyarakat bisa mawas diri dalam mengonsumsikan bahan pangan yang lebih kepada bahan-bahan pangan dari laut,” ucap Lekatompessy.
Disebutnya, ini merupakan program tahunan yang diselenggarakan Polikant.
“Politeknik sudah bisa bikin gebrakan baru. Ini penting. Memperkenalkan Politeknik lagi bahwa dia masih eksis untuk mengurus hal-hal, karena kalau kita bilang Politeknik Perikanan berarti kan ikon. Dia merupakan ikon bagi Maluku. Supaya semua sumber daya alam di laut itu kita bisa produksikan dan ini memberikan nilai tambah bagi masyarakat Maluku khusunya, dan Indonesia umumnya,” terang Lekatompessy.
Sementara itu, Penanggung jawab kegiatan FGD, Syahibul Kahfi Hamid menambahkan, kegiatan ini sebagai bentuk integarasi untuk mendampingi UMKM ke depannya.
“Yang pertama, bagaimana kita mendampingi UMKM ke depannya, entah apakah nanti kota buat halal center di kampus, sehingga UMKM bisa langsung ke kampus untuk berkordinasi, berkonsultasi, bahkan mau belajar.
Kemudian kata Kahfi, bagaimana peran BPOM sendiri dan LP3H untuk membantu UMKM dalam mensertifikasi prodak-prodak mereka.
“Itu bagian daripada peran kami untuk ingin legal lagi dalam kerjasamanya, lebih kuat kerjasamanya, sehingga memudahkan kita untuk ke depannya berkolaborasi dengan LP3H maupun BPOM,” pungkasnya.
Di awal kegiatan, Polikant secara khusus telah menandatangani PKS bersama LP3H Universitas Pattimura untuk kerjasama dan kolaborasi ke depan.
Kegiatan ini ditutup dengan pemberian cendramata kepada para narasumber sebagai simbol apresiasi atas ilmu dan dukungan yang diberikan bagi kemajuan industri pangan di Kepulauan Kei.





