Polikant Gagas Pusat Pelatihan Berbasis Riset, Kembangkan Wirausaha di Kepulauan Kei

Bagaimana jika kampus tidak lagi hanya mencetak lulusan, tetapi juga melahirkan pengusaha baru? Itulah visi yang sedang dibangun Politeknik Perikanan Negeri Tual melalui rencana pendirian pusat pelatihan berbasis riset. Dengan menghubungkan hasil penelitian dosen dan mahasiswa dengan kebutuhan masyarakat, Polikant ingin membuktikan bahwa inovasi tidak boleh berhenti di laboratorium, tetapi harus menjadi penggerak ekonomi baru bagi Kepulauan Kei.


Langgur, suaradamai.com — Selama bertahun-tahun, perguruan tinggi di Indonesia menghasilkan ribuan penelitian setiap tahun. Namun, tidak sedikit hasil riset yang berhenti sebagai laporan akademik atau publikasi ilmiah tanpa benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat. Politeknik Perikanan Negeri Tual (Polikant) ingin mematahkan pola itu.

Kampus vokasi di bidang kelautan dan perikanan tersebut mengajak Pemerintah Maluku Tenggara dan Kota Tual untuk menyiapkan sebuah pusat pelatihan berbasis riset yang diharapkan menjadi jembatan antara laboratorium, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat. Melalui pusat pelatihan itu, inovasi hasil penelitian dosen dan mahasiswa tidak lagi berhenti di kampus, melainkan diolah menjadi teknologi tepat guna yang mampu melahirkan wirausaha baru serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kepulauan Kei.

Direktur Polikant, Dr. Usman Madubun, S.Pi., M.Si., mengatakan pembangunan pusat pelatihan menjadi bagian dari strategi besar kampus dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

“Saya sementara berupaya untuk melakukan inisiasi dengan Pemda kedua daerah supaya mereka bisa membantu Politeknik menciptakan satu tempat pelatihan di kampus,” kata Usman usai menyerahkan paket bantuan alat pengasapan ikan kepada UMKM Ngurfruan di Lokasi Wisata Ngurbloat (2/7/2026).

Menurut dia, Polikant memiliki tenaga pengajar, peneliti, laboratorium, dan berbagai hasil inovasi yang siap diterapkan. Yang masih dibutuhkan adalah kolaborasi lintas kelembagaan agar inovasi tersebut dapat menjangkau masyarakat secara luas.

“Kalau ada kerja sama maka Politeknik siap menyediakan sumber daya manusianya, pemda mendukung kami dalam menyediakan fasilitasnya, dan kita akan membantu masyarakat dalam ekonomi mereka,” ujarnya.

Menjawab Persoalan yang Selama Ini Terjadi

Gagasan membangun pusat pelatihan bukan tanpa alasan. Selama ini berbagai program pemberdayaan masyarakat di sektor kelautan dan perikanan sering kali menghadapi persoalan klasik. Banyak pelaku usaha mikro, nelayan, pembudidaya ikan maupun pengolah hasil perikanan belum memperoleh pendampingan yang berkelanjutan dalam aspek teknologi produksi, pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran.

Di sisi lain, kampus memiliki berbagai hasil penelitian yang sebenarnya dapat menjawab persoalan tersebut. Tantangannya adalah bagaimana mempertemukan inovasi kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Karena itu, menurut Usman, pusat pelatihan nantinya diharapkan menjadi ruang belajar bersama bagi nelayan, pembudidaya, pelaku UMKM, kelompok perempuan, hingga generasi muda yang ingin membangun usaha berbasis potensi kelautan dan perikanan.

Melalui pendekatan itu, hasil riset tidak hanya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, tetapi juga dikembangkan menjadi produk, teknologi, dan model usaha yang dapat diterapkan secara langsung.

Pengabdian yang Disusun Berdasarkan Kebutuhan Daerah

Komitmen tersebut juga tercermin dalam program pengabdian kepada masyarakat yang dijalankan Polikant setiap tahun.

Usman menjelaskan, kampus secara konsisten membuka seleksi proposal pengabdian kepada masyarakat yang difokuskan pada Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual. Pendanaannya berasal dari anggaran internal Polikant maupun dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Berbeda dengan kegiatan pengabdian yang hanya bersifat seremonial, Polikant menyusun tema pengabdian berdasarkan kebutuhan pembangunan daerah.

“Topik-topik yang terkait dengan pengabdian masyarakat oleh Polikant biasanya kami padukan dengan RPJMD kedua daerah. Sehingga akan selalu menjawab kebutuhan riil masyarakat Maluku Tenggara maupun Kota Tual,” katanya.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat setiap kegiatan pengabdian memiliki dampak nyata terhadap pembangunan ekonomi lokal.

Hilirisasi Riset Menjadi Fokus

Bagi Polikant, keberhasilan penelitian tidak diukur dari banyaknya karya ilmiah yang diterbitkan. Ukuran utamanya adalah sejauh mana inovasi tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Karena itu, setiap hasil penelitian diupayakan dapat diterapkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

“Target kita adalah, inovasi-inovasi yang sudah kita hasilkan melalui penelitian dan riset di Polikant itu bisa kita salurkan kepada masyarakat. Sehingga meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat yang akan bermuara pada meningkatnya pendapatan masyarakat Kepulauan Kei,” ujar Usman.

Komitmen itu bukan sekadar pernyataan. Pada 2026, Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Polikant menyelenggarakan sosialisasi Panduan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat serta memperkuat skema pendanaan penelitian internal. Langkah tersebut menunjukkan bahwa kampus sedang membangun ekosistem riset yang tidak berhenti pada laboratorium, tetapi diarahkan menuju hilirisasi dan pemberdayaan masyarakat.

Selama beberapa tahun terakhir, berbagai kegiatan pengabdian Polikant juga telah dilaksanakan, mulai dari pendampingan pengolahan hasil perikanan, pemasaran digital produk UMKM, pelatihan teknologi pengasapan ikan, rekayasa habitat rumpon, hingga pengembangan budidaya teripang bersama kelompok masyarakat. Seluruh kegiatan itu menjadi bagian dari upaya menjadikan hasil riset sebagai solusi atas persoalan ekonomi masyarakat pesisir.

Sejalan dengan Arah Kebijakan Nasional

Langkah Polikant tersebut sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang mendorong perguruan tinggi menjadi pusat inovasi sekaligus penggerak ekonomi.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie sebelumnya menegaskan bahwa kampus memiliki posisi strategis dalam membangun daya saing ekonomi karena inovasi lahir dari penelitian dosen dan mahasiswa.

“Risetlah asal muasal aset… yang bisa dan paling banyak melakukan itu adalah kampus… yang paling bisa memimpin pasar adalah dosen-dosen peneliti, mahasiswa-mahasiswa peneliti… universitas,” kata Stella dalam paparannya di Sasana Budaya Ganesa, Institut Teknologi Bandung.

Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa perguruan tinggi vokasi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan siap kerja, tetapi juga menciptakan teknologi, usaha baru, dan solusi bagi masyarakat.

Kolaborasi Menjadi Kunci

Meski demikian, Usman mengakui kampus tidak dapat bekerja sendiri.

Ia menilai keberhasilan hilirisasi riset sangat bergantung pada kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat.

Polikant, kata dia, siap menyediakan tenaga ahli, dosen, peneliti, laboratorium, serta inovasi teknologi. Sementara pemerintah daerah diharapkan mendukung melalui penyediaan fasilitas, kebijakan, dan program pemberdayaan.

Dengan pembagian peran tersebut, hasil penelitian tidak lagi berhenti di meja seminar atau jurnal ilmiah, melainkan berkembang menjadi usaha produktif yang menciptakan lapangan kerja baru.

Jika inisiatif itu terwujud, pusat pelatihan berbasis riset yang dirancang Polikant bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi inkubator lahirnya pelaku usaha baru di sektor kelautan dan perikanan. Di sanalah kampus menjalankan fungsi yang lebih luas: bukan sekadar mencetak lulusan, melainkan menjadi penggerak ekonomi lokal yang menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat Kepulauan Kei.

Naskah ini disusun dengan struktur depth news: pembuka yang mengangkat isu, pendalaman masalah, konteks, fakta dan kutipan, analisis, keterkaitan dengan kebijakan nasional, serta penutup yang menyoroti implikasi dan prospek. Tone dan alurnya dibuat lebih mengalir sehingga tidak terasa seperti laporan kegiatan biasa.


Bagikan:

Populer

Artikel terkait

Prodi TBP Gelar Project Based Learning Produksi Ikan Nila di Air Garam

Bagaimana jika kampus tidak lagi hanya mencetak lulusan, tetapi...

Kapolres Teluk Bintuni Ajak Anak Putus Sekolah Ikuti Pendidikan Kesetaraan

PKBM Kasih Rumbai Koteka buka pendaftaran Paket A, B,...

SOKSI Teluk Bintuni Desak Saham 40% di BUMD Kasuari Energi

Blok Tangguh menghasilkan dividen migas — tapi siapa yang...