Beruatwarin Minta Pemkab Malra Bangun Rumah Guru di Kebut dan Kuba

“Ketika tenaga guru tinggal di rumah warga, ini kan akan mengganggu konsentrasi guru tersebut untuk mengajar di sekolah maupun di rumah,” tutur Bram.


Langgur, suaradamai.com – Anggota DPRD Kabupaten Maluku Tenggara Abraham Beruatwarin meminta pemerintah daerah setempat membangun rumah guru di Pulau Kei Besar, khususnya di Kecamatan Kei Besar Utara Timur (Kebut) dan Kei Besar Utara Barat (Kuba).

Permintaan tersebut merupakan hasil reses yang dia lakukan belum lama ini di dua kecamatan tersebut.

Kepada suaradamai.com di Langgur, Rabu (17/2/2021), Bram, sapaan Abraham, menjelaskan bahwa reses kali ini dia fokuskan di kecamatan yang masuk kategori miskin yakni kecamatan Kebut dan Kuba.

Kunjungan pertama dia lakukan di Kebut. Dari 32 kampung di sana, Bram mengunjungi sebagian ohoi untuk yang dia jadikan sebagai sampel. Sebagian ohoi itu, lanjut dia, mengusulkan kebutuhan yang sangat mendasar adalah soal pendidikan dan kesehatan. Hal yang sama juga didapati di Kei Besar Utara Barat.

Khusus untuk pendidikan, Bram menemukan dua persoalan utama di sana yaitu rumah guru dan pemerataan tenaga pengajar.

Rumah dinas guru

Bram mengatakan, sebagian besar guru yang tinggal di Kebut dan Kuba, masih menumpang di rumah warga. Hal ini, lanjut dia, akan berpengaruh terhadap tugas dan pelayanan pendidikan di ohoi-ohoi.

“Ketika tenaga guru tinggal di rumah warga, ini kan akan mengganggu konsentrasi guru tersebut untuk mengajar di sekolah maupun di rumah,” katanya.

Apalagi di masa pandemi Covid-19 ini, guru juga dituntut untuk mengajar dari rumah ke rumah. Tentu, lanjut Bram, semakin menambah beban guru yang bersangkutan dari sisi tugas dan tanggungjawab sebagai pengajar, maupun sebagai orang yang menumpang di rumah orang lain.

Di sisi lain, Bram mengapresiasi Dinas Pendidikian Malra, karena pada tahun 2021 ini telah menanggarkan bantuan rumah dinas bagi enam sekolah di Kebut yakni SD Negeri Banda Efruan, SD Kristen Ohoifau, SD Inpres Hoko, SD Inpres Ohoifaruan, SD Naskat Hollat, dan SD Naskat Watlaar. Juga di Kuba yaitu SD Kristen Ad, di Kei Besar yaitu SD Naskat Ohoilim, serta di Kei Besar Selatan yaitu SD Kristen Weduar dan SD Inpres Sather.

Pemerataan guru

Berdasarkan hasil reses, Bram mengatakan bahwa guru di kecamatan Kebut dan Kuba masih sangat kurang.

Terdapat 22 Sekolah Dasar (SD) di Kebut dan 15 di Kuba serta tujuh Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kebut dan lima di Kuba, yang secara kenyataan lapangan masih kekurangan guru.

“Sampai saat ini belum terjawab pemerataan guru di wilayah sana,” tegas Bram.

Untuk itu, dia meminta Dinas Pendidikan dan Badan Kepegawaian dan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) untuk lebih serius menempatkan guru di Kei Besar Utara Timur dan Kei Besar Utara Barat.

Jika terdapat aturan yang membatasi soal penempatan guru, Bram meminta dinas terkait mencari jalan keluar, sebab kedua kecamatan tersebut sangat membutuhkan pelayanan dasar pendidikan, apalagi di masa pandemi ini.

Editor: Labes Remetwa


Khusus untuk pendidikan, Bram menemukan dua persoalan utama di Kebut dan Kubar yaitu rumah guru dan pemerataan tenaga pengajar.


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

KOMENTAR TERBARU