Di Tual, Rp4 Miliar Digelontorkan Bangun Rumah Ibadah

Kota Tual dikenal sebagai daerah religius yang memiliki falsafah kebersamaan “Vuut Ain Mehe Ni Ngifun, Manut Ain Mehe Ni Tilur”

Tual, suaradamai.com – Pemerintah Kota Tual di bawah kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tual, Adam Rahayaan dan Usman Tamnge, tengah mewujudkan visi-misi menjadikan Kota Tual sebagai Kota Regilius. Hal ini dibuktikan, dengan dukungan pendanaan untuk penyelesaian bangunan gedung peribadatan agama Islam, Katolik, dan Protestan.

Tahun 2019 lalu, melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) mengalokasikan sebesar Rp4 miliar, untuk disalurkan membantu pembangunan rumah-rumah ibadah dan pembinaan umat.

“Semua dilakukan pemerintah Kota Tual, sebagai perhatian pemerintah untuk mewujudkan pembangunan dalam bidang keagamaan,” ungkap Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Kota Tual, Moksen Ohoiyuf ketika diwawancarai di ruang kerjanya, Selasa (17/2/20).

Kata Ohoiyuf, di samping pembangunan sarana peribadatan, Pemkot juga telah menyiapkan anggaran intensif kepada seluruh tokoh agama baik para imam, pengasuh TPA, guru ngaji maupun para pengasuh pada ketiga golongan agama.

“Jadi, disamping kita membantu sarana prasarana peribadatan itu, dari Pemkot juga memberikan intensif bagi tiga golongan agama sekaligus mendapat perhatian bagi para imam, pendeta, pastor, guru ngaji, maupun para pengasuh di lingkungan gereja, TPA dan masjid,” rincinya.

Ohoiyuf menyampaikan sesuai arahan Wali Kota Tual, penyaluran anggaran dana tersebut disesuaikan dengan kondisi keuangan pemerintah daerah yang ada.

“Jadi sesuai arahan bapak Wali Kota, jangan dilihat dari nilainya akan tetapi wujud dari pemberian itu hendaknya dipandang sebagai bentuk perhatian pemerintah dalam meningkatkan tali silaturahmi bagi ketiga golongan agama,” imbuhnya.

Juru bicara Pemkot Tual itu berharap, dari apa yang sudah diberikan hendaknya dapat memotivasi ketiga golongan untuk kedepan nantinya mendapat penambahan-penambahan intensif lainnya.

“Jadi sebagai bentuk toleransi keagamaan antar sesama golongan, Kota Tual dikenal sebagai daerah religius yang memiliki falsafah kebersamaan “Vuut Ain Mehe Ni Ngifun, Manut Ain Mehe Ni Tilur” yang artinya bahwa kita berasal dari satu moyang dan leluhur yang sama, dan kita adalah satu keluarga maka untuk itulah dibangulah miniatur sebagai simbol bagi para pendatang dari luar bahwa kita di sini hidup berdampingan membangun toleransi antar umat beragama dan hidup saling berjaga dengan rukun,” harapnya. (danielmituduan/tarsissarkol)

Bagikan:

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Populer

Artikel terkait

WFA Segera Diterapkan Pemkab Aru, Tingkatkan Efisiensi-Kurangi Biaya Operasional

Sistem WFA memungkinkan pegawai untuk bekerja 3 hari di...

Bupati Kaidel: Musyawarah Adat Solusi Konflik Perbatasan Desa

Dobo, suaradamai.com - Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, memimpin...

Polikant Raih Predikat Baik Sekali Simkatmawa 2025, Wadir III: ke Depan Harus Unggul

Ia berharap, karena Polikant hari ini telah mencapai predikat...

Inovasi Yogurt Anggur Laut dan VCO Hasil PBL Bioteknologi Perikanan Polikant di Ngilngof

“Terutama untuk Desa Ngilngof sebagai tempat wisata. Ketika wisatawan...