EDITORIAL: Kelapa, Jaminan Kesejahteraan Orang Aru di Masa Depan

Dobo, suaradamai.com – Bagi masyarakat Kepulauan Aru, pohon kelapa bukan sekadar penanda garis pantai atau pelengkap lanskap tropis.


‎Di bumi Jar Garia, kelapa adalah denyut nadi kehidupan, penopang ketahanan ekonomi keluarga, sekaligus warisan budaya yang menyatu dalam ruang sosial-ekonomi masyarakat.  

‎Selama bertahun-tahun, kelapa menjadi penyambung nafas ekonomi warga Aru. Akademisi Universitas Pattimura (Unpatti) Prof. Dr. Nafly Comilo Tiven menegaskan, masalah utama kemiskinan di Maluku termasuk Aru, bukanlah kemiskinan pangan, melainkan keterbatasan uang tunai (cash flow).

‎Dalam konteks ini, tanaman pangan lokal seperti umbi-umbian menjadi penjamin isi piring, sementara kelapa hadir sebagai komoditas penjamin ketersediaan uang tunai untuk menyekolahkan anak, membeli kebutuhan dasar, hingga menjaga martabat keluarga.  

‎Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepulauan Aru menunjukkan daerah ini memiliki luas lahan kelapa mencapai lebih dari 3.000 hektar dengan ratusan ribu pohon produktif yang menghasilkan puluhan juta butir kelapa setiap tahunnya.

‎Angka ini mencerminkan betapa melimpahnya potensi mentah yang siap dikembangkan.  

‎Langkah strategis Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru di era Bupati Timotius Kaidel yang menggagas program penanaman 10 Juta Pohon Kelapa merupakan angin segar bagi hilirisasi komoditas lokal.

‎Program ini bukan sekadar aktivitas menanam bibit di sepanjang pesisir, melainkan bentuk investasi jangka panjang untuk membangun ketahanan ekonomi hijau. Ketika kelapa diintegrasikan dengan tradisi kelautan, Kepulauan Aru sedang memperkuat dua pilar utamanya: ekonomi hijau di darat dan ekonomi biru di laut.

‎Kendati potensi bahan baku sangat melimpah, tantangan terbesar Aru sejak dulu terletak pada pengelolaan pascapanen dan akses pasar. Selama ini, sebagian besar warga menjual kelapa dalam bentuk butiran mentah atau kopra sederhana dengan harga yang fluktuatif.

‎Agar kelapa benar-benar menjadi warisan ekonomi berkelanjutan, Aru tidak boleh lagi bergantung pada penjualan bahan baku mentah. Pendekatan pengolahan terpadu berbasis zero waste (ramah lingkungan tanpa limbah) harus diwujudkan.

‎Daging Kelapa: Diolah tidak hanya menjadi kopra, tetapi ditingkatkan nilainya (value-added) menjadi Virgin Coconut Oil (VCO), minyak goreng berkualitas, hingga coconut milk yang diminati pasar global.  

‎Air Kelapa: Dimanfaatkan untuk produk olahan makanan seperti nata de coco atau minuman kesehatan.  

‎Tempurung & Sabut: Diolah menjadi arang briket, asap cair untuk pengawetan ikan, hingga media tanam (cocopeat) dan kerajinan tangan.  

‎Batang & Pelepah: Bahan bangunan lokal dan produk kerajinan rumah tangga.

‎Konsep industri terpadu dari hulu ke hilir inilah yang akan membuka lapangan kerja baru, menyerap tenaga kerja lokal, dan mencegah potensi hasil panen terbuang sia-sia saat harga pasar merosot.  

‎Langkah transformatif ini membutuhkan sinergi banyak pihak. Pemerintah daerah perlu memfasilitasi hadirnya infrastruktur dasar seperti pergudangan, pabrik pengolahan, serta kelembagaan usaha yang dikelola secara profesional dan komersial (seperti BUMDes atau badan usaha daerah).

‎Investasi yang masuk ke Aru harus diarahkan untuk memberdayakan masyarakat adat dan petani tempatan, bukan menggeser ruang hidup mereka.

‎Ketika kepastian pasar terbentuk dan harga jual di tingkat petani terjaga, masyarakat akan secara mandiri merawat, meremajakan, dan menjaga kebun-kebun kelapa mereka sebagai aset keluarga lintas generasi.

‎Kelapa adalah pohon kehidupan. Menjaga dan mengembangkan perkebunan kelapa di Kepulauan Aru sama artinya dengan merawat fondasi kesejahteraan masyarakat pesisir.

‎Dengan perpaduan komitmen pemerintah, kearifan lokal, pengolahan bernilai tambah, serta jaringan pasar yang pasti, kelapa bukan hanya menjadi sejarah masa lalu Aru, melainkan warisan ekonomi berkelanjutan yang membawa negeri ini berdaya saing di panggung nasional maupun global.

PENULIS/PEWARTA: HENRIK TOATUBUN


Klik DI SINI untuk ikuti VIDEO BERITA dari Kabupaten Kepulauan Aru


Bagikan:

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Populer

Artikel terkait

Polikant Buktikan Kualitas Pendidikan Vokasi, Kembali Lolos ke PIMNAS 2026

Melalui inovasi teknologi pengering ikan teri TERI-DRY SMART HYBRID,...

‎Kualitas Udara Memburuk, Bupati Aru Edarkan Waspada Kabut Asap, Pembakar Lahan Bakal Disanksi

‎‎Dobo, suaradamai.com - Menanggapi penurunan kualitas udara dan lonjakan...

Investasi Blok Masela dan Hak Ulayat: Keseimbangan Pembangunan dan Perlindungan Masyarakat Adat

AMBON — Pembangunan dan investasi di Maluku, termasuk proyek...

Sejalan Kebijakan WFH, Pemkot Ambon Bagikan Masker untuk Kurangi Risiko ISPA Akibat Kabut Asap

AMBON — Sebagai langkah melindungi masyarakat dari risiko gangguan...