Lewat program 10 juta pohon kelapa, Kepulauan Aru sedang tidak sekadar menanam pohon, melainkan sedang menanam fondasi kesejahteraan.
Dobo, suaradamai.com – Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, selama ini identik dengan lautnya yang kaya. Sebagian besar warganya adalah nelayan. Namun, bergantung sepenuhnya pada laut memiliki risiko besar karena kerap dieksploitasi.
Melihat tantangan ini, Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, melakukan terobosan berani melalui konsep Ekonomi Hijau: meluncurkan Program Pengembangan 10 Juta Pohon Kelapa.
Berdasarkan serangkaian laporan dari Suaradamai.com, komoditas yang kini dijuluki “Pohon Emas Hijau” ini siap mengubah peta ekonomi Bumi Jargaria.
Berikut adalah tiga alasan mengapa program ini akan membawa manfaat besar bagi masyarakat Aru?
1. Menjawab Lonjakan Permintaan Pasar Global
Peta kuliner dunia sedang berubah. Negara-negara maju seperti Tiongkok dan kawasan Eropa kini gila-gilaan memburu produk berbasis nabati (plant-based milk). Akibatnya, permintaan global terhadap coconut milk (santan) dan air kelapa segar melonjak drastis, memicu kenaikan harga internasional.
Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, terus mendorong hilirisasi, artinya, daerah tidak boleh lagi sekadar menjual kopra mentah, melainkan produk olahan siap pakai.
Berkaca dari suksesnya Halmahera Utara yang berhasil mengekspor olahan kelapa langsung ke Tiongkok, Aru kini bersiap mengambil bagian dari kue ekonomi global tersebut
2. Gotong Royong Massal untuk Masa Depan Ekonomi Aru
Secara geografis, kelapa adalah tanaman super. Kelapa sangat toleran pada lahan kering, efisien air, dan tangguh menghadapi kemarau panjang tanpa irigasi rumit. Target 10 juta pohon ini diproyeksikan hanya memakai 10% dari total daratan Aru (sekitar 64.000 hektar), dengan fokus 80-90% di wilayah pesisir.
Strategi eksekusinya pun sangat berpihak pada rakyat:
Pemerintah desa melalui instruksi bupati membeli buah kelapa langsung dari petani setempat dengan harga subsidi untuk dijadikan bibit berkualitas.
Setiap kepala keluarga digerakkan untuk menanam 10 hingga 20 pohon per hari. Desa-desa seperti Wangel, Selibata-bata, dan beberapa desa lainnya telah memulai dengan menanam ribuan bibit.
“Jadi kita mulai dengan hari ini bahwa kelapa kita sudah masukan dalam program Desa Kita. Salah satu dana desa yang ada menunya itu Ketahanan Pangan, itu diwajibkan semua desa hari ini menanam kelapa yang sesuai dengan kapasitas lahannya, itu sudah mulai start,” kata Bupati Timotius Kaidel dalam wawancara ekslusif bersama Suaradamai.com.
3. Manfaat Raksasa: Dari Pabrik Lokal hingga Warisan Anak Cucu
Apa keuntungan konkret yang didapat masyarakat Aru?
Dengan target produksi mencapai 360.000 ton per musim panen, skala raksasa ini akan memikat investor untuk membangun pabrik pengolahan langsung di Aru. Tanpa ongkos kirim mahal ke Surabaya, harga kelapa di tingkat petani lokal diproyeksikan bisa melonjak dua kali lipat.
Kelapa disiapkan sebagai buffer stock (ekonomi alternatif). Ketika gelombang tinggi memaksa nelayan libur melaut, perkebunan kelapa di darat menjadi sumber penghidupan kedua yang stabil.
Karena usia produktif pohon kelapa sangat panjang, pemerintah mesti mendorong kepemilikan lahan kelapa ini diperkuat secara hukum lewat akta notaris untuk ahli waris, agar menjadi aset nyata yang menjamin masa depan anak cucu.
Lewat program 10 juta pohon kelapa, Kepulauan Aru sedang tidak sekadar menanam pohon, melainkan sedang menanam fondasi kesejahteraan. Kelapa bukan lagi sekadar penghias pantai, melainkan “Pohon Emas” yang siap membawa masyarakat Bumi Jargaria mandiri, mapan, dan berdaya saing global di masa depan.
“Dan ini kita serius, saya sangat serius mengawal ini, karena ini akan menjadi salah satu pendapatan masyarakat ke depan. Dan ini berkesinambungan bagi masyarakat kita,” tegas Bupati Kaidel dalam salah satu wawancara bersama Suaradamai.com.
